Skor akhir 3-2 menjadi bukti ketangguhan tim bulu tangkis beregu putra Indonesia di partai final Asian Games yang berlangsung di Ichinomiya City, Jepang, Kamis (24/9/2026). Tertinggal 0-2 lebih dulu, Indonesia bangkit melalui tiga pertandingan sisa dan memastikan medali emas lewat kemenangan ganda putra Leo R. Carnando/Daniel Marthin atas pasangan China, Liu Yi/He Ji Ting. Kemenangan penentu itu sekaligus menutup drama lima partai yang berjalan lebih dari empat jam.
Jalannya Pertandingan: Dari Tertinggal 0-2 ke Titik Balik
Partai pertama menjadi milik tunggal China melalui pertarungan ketat tiga gim. Tunggal Indonesia sempat memimpin 11-8 pada interval gim kedua, namun lawan berbalik mengendalikan tempo dan menutup laga dengan kemenangan. Pada partai kedua, ganda Indonesia harus mengakui keunggulan lawan lewat duel rubber game yang berakhir 21-19, 18-21, 19-21. Kedudukan 0-2 membuat tim Merah Putih berada di tepi jurang, dengan tiga partai tersisa wajib dimenangi tanpa ampun.
Menit ke- menit penentu datang pada partai ketiga. Tunggal Indonesia tampil lebih agresif, menekan sejak bola pertama dan memaksa lawan bermain bertahan. Penguasaan bola dalam artian penguasaan rally mencapai 58 persen dengan shots on target alias smes mematikan yang menembus pertahanan lawan. Kemenangan dua gim langsung membuat skor menjadi 1-2 dan membuka jalan kebangkitan.
Partai keempat menjadi momen paling menegangkan. Ganda Indonesia tampil solid di depan net, mempercepat tempo serangan, dan memanfaatkan kesalahan servis lawan. Setelah melalui deuce panjang, ganda Indonesia menutup gim kedua 22-20. Skor berubah 2-2, dan seluruh beban pertandingan berpindah ke partai penentu.
Partai Penentu: Leo/Daniel Tampil Tanpa Cela
Di partai kelima, pasangan Leo R. Carnando/Daniel Marthin tampil sebagai eksekutor. Keduanya menampilkan formasi serang yang rapi: Leo dominan di belakang dengan smes keras, sementara Daniel cekatan memotong bola di depan net. Pada gim pertama, Indonesia memimpin jauh 21-14. Gim kedua sempat berjalan ketat hingga kedudukan 17-17, tetapi dua net kill beruntun Daniel Marthin mematahkan perlawanan Liu Yi/He Ji Ting. Laga ditutup 21-18, dan Indonesia merayakan emas.
Secara statistik, pasangan Indonesia mencatatkan 26 smes mematikan, 9 net kill, dan hanya 7 kesalahan sendiri sepanjang pertandingan penentu. Sebaliknya, pasangan China tercatat melakukan 13 unforced errors, termasuk dua kesalahan servis pada poin kritis gim kedua. Penguasaan rally Indonesia mencapai 54 persen, dengan rata-rata durasi rally 11,4 detik. Tidak ada kartu kuning maupun kartu merah dalam laga final ini, meski sempat ada pemeriksaan hawkeye untuk memastikan bola keluar.
"Kami sempat di posisi sulit, tetapi para pemain menunjukkan mental juara. Leo dan Daniel bermain sabar, disiplin, dan tidak memberi ruang bagi lawan untuk bangkit," ujar pelatih kepala tim beregu putra Indonesia dalam konferensi pers usai laga.
Analisis Taktik dan Makna Kemenangan
Dari kacamata taktik, keputusan pelatih menempatkan Leo/Daniel di partai penentu terbukti tepat. Keduanya memiliki rekor pertemuan positif melawan Liu Yi/He Ji Ting, dengan catatan 3 kemenangan dari 4 pertemuan terakhir. Selain itu, kombinasi pemain kidal dan pemain tangan kanan membuat arah serangan sulit dibaca lawan. Perubahan strategi pada partai ketiga dan keempat, yakni mempercepat flat drive dan memperbanyak drop shot menyilang, menjadi kunci utama kebangkitan Indonesia.
Kemenangan ini menambah koleksi emas Indonesia di sektor beregu putra Asian Games dan menegaskan kedalaman skuad Merah Putih. Dari lima partai yang dimainkan, Indonesia menang pada tiga partai terakhir dengan selisih poin total 126-112. Clean sheet tidak tercipta karena kedua tim sama-sama mencetak angka, namun mentalitas comeback menjadi catatan tersendiri bagi para analis. Dengan hasil ini, Indonesia membuktikan bahwa tekanan bukan penghalang, melainkan bahan bakar menuju podium tertinggi.
Comments (0)