Oct 11, 2026
Olahraga

Herdman Pasang Target Besar untuk Timnas Indonesia di Asia

JAKARTA — John Herdman resmi membuka babak baru dalam perjalanan Timnas Indonesia. Pelatih asal Inggris itu tidak sekadar bicara soal kemenangan di satu atau dua laga. Ia memasang target jangka panj...

Herdman Pasang Target Besar untuk Timnas Indonesia di Asia

JAKARTA — John Herdman resmi membuka babak baru dalam perjalanan Timnas Indonesia. Pelatih asal Inggris itu tidak sekadar bicara soal kemenangan di satu atau dua laga. Ia memasang target jangka panjang yang ambisius: membawa skuad Garuda menembus empat besar Asia dan tampil rutin di putaran final Piala Dunia. Sebuah misi besar, mengingat Indonesia belum pernah kembali ke panggung tertinggi sepak bola dunia sejak 1938.

Pernyataan itu disampaikan Herdman dalam sesi perkenalan bersama media. Ia menegaskan bahwa target tersebut bukan retorika kosong. Ada peta jalan, ada tahapan, dan ada indikator performa yang harus dicapai setiap tahun. "Kita tidak bisa hanya bermimpi. Kita harus membangun budaya menang, budaya kerja keras, dan budaya disiplin di setiap level," ujar Herdman, seperti dikutip dari pernyataannya.

Bagi Herdman, empat besar Asia bukan sekadar posisi di ranking. Itu berarti Indonesia harus konsisten bersaing dengan Jepang, Korea Selatan, Iran, Australia, dan Arab Saudi — negara-negara yang selama ini mendominasi sepak bola Asia. Untuk bisa duduk di sana, Garuda perlu mengumpulkan poin di kualifikasi, tampil stabil di turnamen resmi, dan menjaga kualitas skuad dari waktu ke waktu.

Dari Ranking ke Kualitas Skuad

Target Herdman menyentuh banyak aspek. Pertama, soal kualitas starting XI. Ia ingin setiap pemain yang dipanggil benar-benar siap secara fisik, taktik, dan mental. Bukan hanya nama besar, tetapi pemain yang cocok dengan formasi dan gaya main yang ia rancang. Herdman dikenal fleksibel: ia bisa memakai 4-3-3 untuk menekan lawan, atau 3-5-2 saat butuh keseimbangan di lini tengah.

Kedua, soal kedalaman skuad. Sepak bola modern tidak bisa bergantung pada sebelas pemain saja. Herdman ingin membangun kompetisi sehat antar pemain, sehingga posisi di timnas tidak pernah aman. Dengan begitu, penguasaan bola, shots on target, dan efektivitas serangan bisa terus meningkat dari laga ke laga.

Ketiga, soal pengalaman internasional. Untuk rutin main di Piala Dunia, Indonesia harus melewati kualifikasi yang panjang dan berat. Ada laga tandang di Timur Tengah, duel di Asia Timur, dan tekanan di kandang sendiri. Semua itu butuh mentalitas kompetitif yang tinggi. Herdman menyebut hal ini sebagai "proses membangun karakter tim" yang tidak bisa instan.

Empat Besar Asia dan Mimpi Piala Dunia

Menembus empat besar Asia bukan pekerjaan satu dua tahun. Jepang, misalnya, punya ratusan pemain yang berkarier di Eropa. Korea Selatan punya tradisi panjang dan kedisiplinan taktis. Iran dan Australia punya fisik dan organisasi permainan yang matang. Indonesia, di sisi lain, sedang membangun fondasi: pembinaan usia muda, liga yang kompetitif, dan naturalisasi pemain yang tepat sasaran.

Herdman tidak menutup mata pada kenyataan itu. Ia justru melihatnya sebagai tantangan. "Kalau kita ingin masuk empat besar Asia, kita harus mengalahkan tim-tim besar itu, bukan hanya bermain bagus melawan mereka. Kita harus punya clean sheet lebih banyak, mencetak gol lebih awal, dan mengelola pertandingan dengan cerdas," tegasnya.

"Kita tidak bisa hanya bermimpi. Kita harus membangun budaya menang, budaya kerja keras, dan budaya disiplin di setiap level." — John Herdman

Dalam konteks itu, kualifikasi Piala Dunia menjadi tolok ukur utama. Setiap poin, setiap kartu kuning, dan setiap selisih gol bisa menentukan nasib. Herdman ingin timnya belajar dari laga ke laga: kapan harus menekan tinggi, kapan harus bertahan rapat, dan kapan harus memanfaatkan bola mati. Detail-detail kecil inilah yang membedakan tim empat besar Asia dengan tim yang hanya sesekali melaju jauh.

Fokus pada Proses dan Evaluasi Berkala

Herdman menegaskan bahwa target besar harus dibarengi dengan evaluasi berkala. Ia ingin melihat perkembangan di setiap jendela pertandingan internasional. Bukan hanya hasil akhir, tetapi juga data: berapa banyak peluang yang diciptakan, berapa sering lawan menembus lini pertahanan, dan bagaimana transisi dari bertahan ke menyerang berjalan.

Ia juga menyoroti pentingnya peran pemain senior sebagai pemimpin di ruang ganti. Pemain muda butuh contoh nyata tentang profesionalisme: cara berlatih, cara menjaga gizi, dan cara menghadapi tekanan. Menurut Herdman, budaya ini akan mempercepat pertumbuhan timnas, sehingga target empat besar Asia bukan sekadar angan-angan.

Dengan target sebesar itu, publik Indonesia tentu berharap banyak. Namun Herdman meminta semua pihak bersabar dan mendukung proses. Ia sadar bahwa perjalanan menuju Piala Dunia dan empat besar Asia tidak akan mulus. Akan ada kekalahan, kritik, dan periode sulit. Yang penting, kata dia, tim tetap berpegang pada rencana dan terus berkembang.

Pertanyaannya kini: mampukah Indonesia mengubah mimpi menjadi kenyataan? Dengan kerja keras, strategi yang tepat, dan dukungan penuh, target Herdman bukan mustahil. Sepak bola Asia terus berubah, dan Indonesia ingin menjadi bagian dari perubahan itu — bukan sekadar penonton, melainkan pesaing yang diperhitungkan di papan atas Benua Asia dan panggung Piala Dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User