Desak Made Berlatih Keras Demi Obor Olimpiade Paris
Semangat juang terpancar dari raut wajah Desak Made Rita Kusuma Dewi saat ia menjalani sesi latihan nasional yang digelar di area parkir Hotel Santika Premiere, Kota Harapan Indah, Bekasi. Di tengah c...
Semangat juang terpancar dari raut wajah Desak Made Rita Kusuma Dewi saat ia menjalani sesi latihan nasional yang digelar di area parkir Hotel Santika Premiere, Kota Harapan Indah, Bekasi. Di tengah cuaca yang terik, atlet panjat tebing andalan Indonesia itu terus mengasah kemampuan demi mengibarkan Merah Putih di Olimpiade 2024 Paris. Pelatnas yang digelar secara intensif ini menjadi bagian dari persiapan akhir sebelum bertolak ke panggung olahraga terbesar dunia.
Meski hanya memanfaatkan lahan parkir yang disulap menjadi arena panjat sementara, Desak Made dan tim pelatih tak mengeluhkan kondisi. Justru, latihan di tempat terbuka seperti ini dianggap mampu mendekatkan pada situasi kompetisi sebenarnya yang kerap digelar di luar ruangan. Setiap gerakan dipegang teguh, setiap pijakan dihitung matang, mencerminkan dedikasi penuh seorang atlet yang bercita-cita membawa pulang medali.
Jejak Sang Pemanjat Andalan
Desak Made Rita Kusuma Dewi bukanlah nama asing di dunia panjat tebing. Perempuan kelahiran 24 Januari 2001 ini telah mengukir berbagai prestasi gemilang, termasuk medali emas di Asian Games dan sejumlah podium di kejuaraan dunia. Keberhasilannya meraih tiket Olimpiade 2024 melalui kualifikasi ketat menunjukkan bahwa ia adalah salah satu speed climber terbaik dunia saat ini.
Perjalanan menuju Paris tidaklah mudah. Ia harus bersaing dengan puluhan pemanjat elit dari berbagai negara dalam Asian Qualifier di Jakarta tahun lalu. Dengan catatan waktu terbaik 6,82 detik pada nomor speed, Desak Made membuktikan bahwa kecepatan dan konsistensinya layak diperhitungkan. Kini, fokusnya tertuju pada peningkatan performa hingga mencapai puncak di bulan Juli mendatang.
Latihan Lapangan Parkir: Simulasi Mental dan Fisik
Sesi latihan di Hotel Santika Premiere pada Selasa (05/03/2024) menjadi gambaran nyata bagaimana tim pelatnas mengakali keterbatasan. Dinding panjat portabel didirikan di sudut area parkir, lengkap dengan sistem pengaman dan alat pemantau waktu digital. Desak Made terpantau melakukan belasan kali percobaan tanpa lelah, setiap kali mencatat waktu yang kian membaik.
Pelatih kepala tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, mengungkapkan bahwa latihan di lokasi non-konvensional justru memberikan keuntungan psikologis. “Kami ingin atlet terbiasa dengan lingkungan yang berbeda-beda, karena di Olimpiade nanti tekanan dan situasi bisa sangat dinamis,” ujarnya. Desak Made sendiri terlihat beberapa kali tersenyum di sela istirahat, menunjukkan suasana yang tetap rileks meski target besar menanti.
Latihan pagi itu difokuskan pada reaksi start dan akselerasi awal—dua aspek krusial dalam speed climbing yang sering menentukan kemenangan. Data latihan menunjukkan rata-rata waktu reaksi Desak Made berada di kisaran 0,15 detik, dan ia mampu mempertahankan kecepatan konstan di angka 3,2 meter per detik pada percobaan terbaiknya. Angka-angka ini memberi optimisme tinggi menjelang keberangkatan ke Paris.
Olimpiade Bukan Sekadar Mimpi
Di Olimpiade 2024, panjat tebing akan kembali dipertandingkan dengan format yang meliputi speed, boulder, dan lead. Namun, bagi Desak Made, spesialisasi di nomor speed menjadi jalur paling realistis untuk meraih medali. Ia tidak sendiri; Indonesia juga memiliki pemanjat putri lainnya yang siap bersinar, namun bekal pengalaman dan prestasi membuat Desak Made diunggulkan.
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenni Wahid, secara terpisah menyatakan bahwa target realistis adalah membawa pulang medali. “Kami tidak muluk-muluk, tapi kami percaya Desak Made dan atlet lainnya punya kemampuan untuk menembus semifinal bahkan final. Selama ini mereka sudah berlatih dengan standar internasional,” kata Yenni. Dukungan penuh dari Kementerian Pemuda dan Olahraga juga memastikan para atlet dapat fokus tanpa hambatan non-teknis.
Desak Made sendiri mengaku tidak mau terlalu terbebani target. “Saya hanya ingin memberikan yang terbaik. Setiap latihan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Saat tiba waktunya di tembok Olimpiade, saya akan memberikan segalanya,” ujarnya penuh keyakinan. Mentalitas rendah hati namun determinasi tinggi inilah yang menjadi ciri khas atlet asal Buleleng, Bali, tersebut.
Dukungan dan Harapan Menuju Paris
Di balik kerasnya latihan, ada dukungan tak henti dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Momen di area parkir hotel itu pun menjadi simbol perjuangan yang sederhana namun penuh makna. Beberapa warga sekitar yang melihat latihan tersebut memberikan semangat langsung, bahkan ada yang sengaja datang untuk meminta foto bersama.
Dengan waktu kurang dari lima bulan menuju upacara pembukaan Olimpiade 26 Juli 2024, setiap detik sangat berharga. Desak Made dijadwalkan mengikuti beberapa kejuaraan pemanasan di Eropa untuk mengasah feeling bertanding melawan lawan-lawan tangguh. Seluruh Indonesia tentu berharap, dari area parkir di Bekasi, lahir sebuah kisah emas yang akan dikenang sepanjang masa.
Baca juga:
Comments (0)