Skor akhir 3-0 untuk AS Roma atas Chelsea pada matchday keempat Grup C Liga Champions 2017-2018 di Stadion Olimpico, Rabu (1/11/2017) dini hari WIB, menjadi pukulan telak bagi The Blues. Kekalahan tanpa balas ini membuat Antonio Conte meluapkan kemarahannya kepada para pemainnya sendiri. Roma tampil dominan sejak menit awal dengan penguasaan bola mencapai 56 persen dan melepaskan 13 shots on target, sementara Chelsea hanya mampu mencatatkan 2 shots on target dari 8 total percobaan.
Kekalahan ini terasa begitu menyakitkan mengingat Chelsea sebelumnya menang 3-0 atas Roma di Stamford Bridge pada matchday ketiga. Namun di Olimpico, formasi 3-4-3 yang diandalkan Conte justru hancur lebur. Starting XI Chelsea yang menurunkan Thibaut Courtois di bawah mistar, trio Gary Cahill, David Luiz, dan Antonio Rüdiger di lini belakang, serta Alvaro Morata sebagai ujung tombak, tidak mampu mengimbangi agresivitas pasukan Eusebio Di Francesco yang tampil dengan formasi 4-3-3.
Menit ke-1, Roma langsung mengambil inisiatif serangan. Menit ke-11, Stephan El Shaarawy membuka keunggulan lewat tendangan kaki kanan setelah memanfaatkan umpan terobosan. Menit ke-37, mantan pemain Chelsea tersebut menggandakan keunggulan dengan penyelesaian dingin di dalam kotak penalti. Dua gol El Shaarawy menjadi bukti klinisnya lini serang Roma yang hanya butuh 5 shots on target di babak pertama untuk mencetak dua gol. Menit ke-63, Diego Perotti menutup pesta gol Roma melalui eksekusi penalti setelah wasit menunjuk titik putih akibat pelanggaran di kotak terlarang. VAR tidak diperlukan karena keputusan wasit sudah jelas.
Dominasi Roma di Lini Tengah
Statistik pertandingan menunjukkan betapa Roma menguasai jalannya laga. Pasukan Di Francesco mencatatkan 17 total tendangan berbanding 8 milik Chelsea, dengan akurasi tembakan ke gawang mencapai 76 persen. Daniele De Rossi dan Radja Nainggolan mendominasi lini tengah, memenangkan 14 duel udara dan melakukan 19 intersep. Sementara itu, trio gelandang Chelsea, N'Golo Kanté, Cesc Fàbregas, dan Tiemoué Bakayoko, kesulitan menembus blok pertahanan Roma yang rapat.
Kartu kuning yang diterima Antonio Rüdiger pada menit ke-54 dan Davide Zappacosta pada menit ke-72 menjadi gambaran frustrasi Chelsea. Bahkan David Luiz harus ditarik keluar pada menit ke-57 dan digantikan oleh Andreas Christensen setelah tampil di bawah performa. Conte terlihat berkali-kali berteriak dari pinggir lapangan, memberi instruksi yang tidak mampu dieksekusi para pemainnya.
Di lini serang, Alvaro Morata tampil tumpul. Striker asal Spanyol itu hanya melepaskan satu tembakan tepat sasaran dan kalah dalam 7 duel udara melawan Kostas Manolas dan Federico Fazio. Eden Hazard juga tidak mampu memberikan dampak berarti, dengan hanya mencatatkan 1 key pass sepanjang pertandingan. Tidak ada satu pun pemain Chelsea yang mencatatkan assist dalam laga ini.
Kutipan Conte dan Reaksi Ruang Ganti
"Kekalahan ini sangat menyakitkan. Kami tidak menunjukkan karakter, tidak menunjukkan semangat juang. Roma lebih lapar, lebih agresif, dan lebih siap. Saya tidak bisa menerima performa seperti ini. Para pemain harus bertanggung jawab," tegas Conte dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari AFP.
Conte bahkan mengisyaratkan bahwa masalah Chelsea bukan sekadar taktik, melainkan mentalitas. Pelatih asal Italia itu menyebut timnya kalah dalam duel individu, kalah dalam pressing, dan kalah dalam hal keinginan untuk menang. Kekalahan ini tercatat sebagai salah satu kekalahan terburuk Chelsea di kompetisi Eropa di bawah asuhan Conte.
Meski demikian, Chelsea masih memiliki peluang untuk lolos ke babak 16 besar. The Blues saat ini mengoleksi 7 poin dari 4 pertandingan, sama dengan Roma, namun kalah selisih gol. Dua laga tersisa melawan Qarabag dan Atletico Madrid akan menjadi penentu. Jika Chelsea kembali tampil seperti di Olimpico, bukan tidak mungkin langkah mereka di Liga Champions musim ini berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
Pelajaran Berharga bagi Chelsea
Dari sisi taktik, formasi 3-4-3 yang diterapkan Conte tidak berjalan efektif ketika para wing-back, Davide Zappacosta dan Marcos Alonso, terlalu sering meninggalkan posisi. Roma dengan cerdik memanfaatkan celah di sisi sayap melalui kecepatan El Shaarawy dan Perotti. Pressing tinggi Roma juga membuat build-up Chelsea kacau, terlihat dari 12 kali kehilangan bola di area sendiri.
Conte dituntut segera melakukan evaluasi sebelum laga krusial berikutnya. Rotasi pemain, perubahan pendekatan taktik, dan pemulihan mental skuad menjadi prioritas. Kekalahan 3-0 ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan pukulan terhadap kredibilitas Chelsea sebagai salah satu kandidat juara. Bagi Roma, kemenangan ini menjadi pernyataan bahwa mereka layak diperhitungkan di kompetisi elit Eropa musim ini.
Comments (0)