Bandara Husein Sastranegara Resmi Buka Rute Lampung dan Palembang
Pemerintah Kota Bandung memastikan bahwa Bandara Husein Sastranegara akan segera mengoperasikan dua rute penerbangan domestik baru menuju Bandar Lampung da
Pemerintah Kota Bandung memastikan bahwa Bandara Husein Sastranegara akan segera mengoperasikan dua rute penerbangan domestik baru menuju Bandar Lampung dan Palembang. Keputusan strategis ini diumumkan langsung oleh Penjabat Wali Kota Bandung pada Senin (14/7/2026) sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas wilayah Jawa Barat dengan pusat-pusat ekonomi di Pulau Sumatera. Kedua rute ini diharapkan mulai beroperasi secara komersial pada awal Agustus 2026, menandai ekspansi signifikan layanan penerbangan dari bandara yang selama ini dikenal sebagai pintu gerbang udara utama kawasan Bandung Raya.
Kronologi dan Latar Belakang Pembukaan Rute
Rencana pembukaan rute Lampung dan Palembang sebenarnya telah bergulir sejak kuartal pertama 2026, ketika studi kelayakan awal menunjukkan tingginya permintaan perjalanan udara antara Bandung dengan dua kota utama di Sumatera bagian selatan tersebut. Data dari Dinas Perhubungan Kota Bandung mencatat bahwa volume penumpang dari Bandung ke Sumatera Selatan dan Lampung meningkat 27% dalam dua tahun terakhir, namun selama ini harus melalui Jakarta atau menggunakan moda transportasi darat dan laut yang memakan waktu lebih lama.
"Pembukaan kedua rute ini adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat yang menginginkan akses langsung dari Bandung ke Lampung dan Palembang tanpa harus transit. Kami telah berkoordinasi intensif dengan maskapai mitra dan PT Angkasa Pura II selaku pengelola untuk merealisasikan hal ini," ujar Penjabat Wali Kota Bandung dalam konferensi pers di Balai Kota.
Dari sisi infrastruktur, Bandara Husein Sastranegara telah menyelesaikan sejumlah peningkatan fasilitas sisi darat dan udara, termasuk perluasan apron untuk menampung tambahan pesawat, renovasi ruang tunggu keberangkatan, dan optimalisasi sistem navigasi. Bandara yang berlokasi strategis hanya sekitar 4 kilometer dari pusat kota ini kini melayani rata-rata 4,2 juta penumpang per tahun, dengan kapasitas terpasang mencapai 5 juta penumpang.
Maskapai dan Detail Operasional Penerbangan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sedikitnya dua maskapai nasional telah menyatakan minat untuk menggarap rute baru ini. Wings Air (subsidiary Lion Group) diproyeksikan menjadi operator utama dengan frekuensi awal 4 kali seminggu untuk rute Bandung–Bandar Lampung dan 3 kali seminggu untuk Bandung–Palembang. Sementara itu, Citilink Indonesia juga dalam tahap finalisasi jadwal untuk melayani kedua rute dengan frekuensi serupa menggunakan armada ATR 72-600 berkapasitas 70 kursi.
Estimasi waktu tempuh untuk rute Bandung–Bandar Lampung adalah sekitar 1 jam 10 menit, sedangkan Bandung–Palembang sekitar 1 jam 30 menit. Sebagai perbandingan, perjalanan darat dari Bandung ke Lampung melalui Pelabuhan Merak–Bakauheni bisa memakan waktu 12 hingga 16 jam tergantung kondisi lalu lintas dan antrean kapal feri.
| Aspek | Bandung–Lampung | Bandung–Palembang |
|---|---|---|
| Estimasi Waktu Tempuh Udara | 1 jam 10 menit | 1 jam 30 menit |
| Waktu Tempuh Darat+Laut | 12–16 jam | 18–22 jam |
| Frekuensi Awal/Minggu | 4 kali (Wings Air) | 3 kali (Wings Air) |
| Pesawat (Rencana) | ATR 72-600 (70 kursi) | ATR 72-600 (70 kursi) |
| Estimasi Harga Tiket (PP) | Rp800.000–Rp1,3 juta | Rp900.000–Rp1,5 juta |
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Para pengamat ekonomi menilai pembukaan rute ini akan memberikan multiplier effect yang signifikan bagi ketiga daerah. Bandung sebagai destinasi wisata unggulan dengan kunjungan rata-rata 7,8 juta wisatawan per tahun akan semakin mudah dijangkau oleh masyarakat Sumatera bagian selatan. Sebaliknya, warga Bandung dan sekitarnya kini memiliki akses cepat untuk menjajaki potensi bisnis dan investasi di Palembang sebagai pusat ekonomi Sumatera Selatan dengan PDRP mencapai Rp503 triliun (2025).
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Bandung menyambut positif langkah ini. "Konektivitas langsung akan mempercepat arus barang dan jasa, terutama untuk sektor tekstil, kuliner, dan industri kreatif yang menjadi andalan Bandung. Pasar Sumatera bagian selatan sangat potensial dan selama ini belum tergarap maksimal karena kendala akses," ungkapnya saat dihubungi terpisah.
Dari perspektif pariwisata, Lampung menawarkan daya tarik berupa wisata bahari seperti Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, dan Taman Nasional Way Kambas yang kini bisa dijangkau dalam hitungan jam dari Bandung. Sementara Palembang dengan ikon Jembatan Ampera, kuliner pempek, dan Sungai Musi-nya diprediksi akan mengalami lonjakan kunjungan dari wisatawan asal Jawa Barat.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski optimisme tinggi, sejumlah tantangan perlu diantisipasi. Keterbatasan jam operasional Bandara Husein Sastranegara yang hanya beroperasi pukul 06.00 hingga 22.00 WIB akibat statusnya sebagai pangkalan udara militer TNI AU menjadi kendala utama dalam pengembangan jadwal penerbangan. Selain itu, landasan pacu sepanjang 2.250 meter membatasi jenis pesawat yang bisa beroperasi, sehingga rute-rute ini kemungkinan besar hanya dilayani oleh pesawat berbadan kecil seperti ATR atau Bombardier CRJ.
Pihak maskapai juga menyoroti pentingnya subsidi rute atau insentif fiskal dari pemerintah daerah pada tahap awal operasional untuk menjaga keberlanjutan rute. "Rute baru membutuhkan waktu untuk membangun pasar. Dukungan berupa pengurangan airport tax atau subsidi kursi kosong di bulan-bulan awal akan sangat membantu," jelas perwakilan Wings Air.
Pemkot Bandung sendiri berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan Bandara Husein Sastranegara sebagai hub regional yang menghubungkan Jawa Barat dengan pulau-pulau sekitarnya. Rencana jangka menengah juga mencakup penambahan rute menuju Pangkal Pinang, Bengkulu, dan Jambi jika dua rute perdana ini menunjukkan performa positif dalam 6 hingga 12 bulan pertama operasi. Dengan langkah ini, Bandung semakin memantapkan posisinya bukan hanya sebagai destinasi wisata dan pendidikan, tetapi juga sebagai simpul transportasi udara strategis di Indonesia bagian barat.
Comments (0)