Angel, Penyandang Disabilitas Netra, Lolos UGM di SNBT 2025

Yogyakarta, 6 Juni 2025 — Di tengah ketatnya persaingan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, seorang remaja putri asal Bantul membuktikan bahwa ke

Angel, Penyandang Disabilitas Netra, Lolos UGM di SNBT 2025

Yogyakarta, 6 Juni 2025 — Di tengah ketatnya persaingan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, seorang remaja putri asal Bantul membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan meraih mimpi. Angel (17), penyandang disabilitas netra sejak lahir, berhasil lolos menjadi mahasiswa baru Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur SNBT. Kisahnya segera viral dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Perjalanan Akademik Penuh Perjuangan

Angel, yang memiliki nama lengkap Angelina Kusuma Wardani, menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Bantul dengan pendampingan khusus. Sejak kecil, ia kehilangan penglihatan total akibat retinoblastoma. Namun, semangat belajarnya tidak pernah surut. Di bangku SMA, ia selalu meraih peringkat lima besar, dan menguasai kemampuan membaca dan menulis Braille dengan cepat. “Saya hanya ingin membuktikan bahwa anak tunanetra juga bisa bersaing di jalur reguler, bukan hanya lewat jalur khusus,” ucapnya.

“Saya hanya ingin membuktikan bahwa anak tunanetra juga bisa bersaing di jalur reguler, bukan hanya lewat jalur khusus.” — Angel

Strategi Belajar dan Persiapan SNBT

Untuk mempersiapkan SNBT, Angel menggunakan berbagai sumber belajar digital yang ramah disabilitas. Ia memanfaatkan aplikasi screen reader pada laptopnya untuk mengakses bank soal, serta meminta bantuan kakaknya, Rina, untuk membacakan soal yang tidak bisa diakses secara otomatis. Setiap hari ia belajar selama 6–8 jam, membagi waktu antara latihan soal, membaca materi audio, dan diskusi daring dengan teman-temannya. Angel mengaku paling menyukai subtes Literasi Bahasa Indonesia karena ia terbiasa mendengar dan meresapi teks.

Dinas Sosial Kabupaten Bantul juga memberikan dukungan berupa perangkat komputer bicara dan tunjangan transportasi untuk mengikuti ujian di lokasi yang disediakan panitia pusat. Ujian SNBT Angel dilaksanakan di kampus UGM dengan fasilitas khusus: perangkat lunak pembaca layar dan pengawas pendamping yang membantu membacakan soal secara lisan.

Detik-Detik Pengumuman dan Air Mata Kebahagiaan

Pada hari pengumuman, Angel bersama ibunya, Suryanti, menanti dengan cemas di rumah sederhana mereka. Begitu namanya muncul di laman resmi SNPMB pukul 15.00 WIB, tangis haru pecah. “Saya tidak menyangka bisa lolos lewat jalur reguler. Ini anugerah luar biasa,” katanya sambil tersenyum. Ibunya pun merasa bangga dan bersyukur karena UGM memberikan akses yang setara bagi penyandang disabilitas.

Menjaga Semangat di Tengah Keterbatasan

Tidak hanya soal akademik, Angel juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia bergabung dengan Komunitas Tunanetra Bantul dan sering memberikan motivasi di sekolah-sekolah. “Keterbatasan itu hanya ada di pikiran. Saya belajar bahwa kita bisa memanfaatkan indra lain untuk meraih cita-cita,” ucapnya. Dalam keseharian, Angel mandiri: ia bisa memasak, membersihkan rumah, dan berpergian menggunakan tongkat khusus setelah menjalani pelatihan orientasi mobilitas dari SLB setempat.

Namun, ia tak memungkiri ada masa-masa sulit. Saat SD, seringkali ia diejek teman-temannya karena tidak bisa melihat. Dukungan keluarga, terutama ibunya yang selalu mendampingi, menjadi sumber kekuatan. “Ibu saya tidak pernah menyerah. Dia yang mengajari saya Braille sendiri dan mencari beasiswa sampai saya bisa sampai di titik ini,” kenangnya.

Dukungan Kampus dan Rencana Inklusif

UGM melalui Direktur Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Hadi Suyono, menyatakan bahwa kampus telah menyiapkan berbagai layanan pendukung bagi mahasiswa difabel. “Kami memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang menyediakan voluntary note-taker, konversi bahan ajar ke format audio, serta asisten khusus. Angel akan mendapatkan pendampingan penuh,” jelasnya. Selain itu, program beasiswa Bidikmisi juga siap membiayai studinya sepenuhnya.

Angel berencana mendalami sastra modern dan kecil-kecilan sudah menulis cerita pendek bersuara. Ia bermimpi menjadi penulis profesional sekaligus dosen inklusif. “Saya ingin membuka jalan bagi teman-teman difabel lainnya agar tidak ragu menempuh pendidikan tinggi,” tegasnya.

Pentingnya Aksesibilitas Digital dalam Pendidikan Inklusif

Kisah Angel menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas digital yang aksesibel bagi peserta didik disabilitas. Selama pandemi dan era digital, banyak platform belajar yang belum ramah difabel. Para pegiat inklusi mendesak pemerintah dan perguruan tinggi untuk mempercepat implementasi Standar Nasional Aksesibilitas Digital. Angel adalah bukti bahwa dengan alat bantu dan kebijakan yang tepat, disabilitas netra tak menghalangi prestasi akademik.

Hingga kini, Angel tercatat sebagai salah satu dari lima mahasiswa baru difabel netra yang diterima UGM tahun ini melalui berbagai jalur seleksi. Ia akan mulai kuliah Agustus 2025.

Kisah Angel menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif bukan hanya jargon, melainkan komitmen nyata untuk semua. Semoga lebih banyak kampus dan masyarakat terinspirasi memberi ruang bagi para difabel.

[SOCIAL_TWEET]: Keterbatasan tak halangi Angel, penyandang disabilitas netra, lolos UGM lewat SNBT 2025. Ia buktikan #PendidikanInklusif bukan hanya mimpi. Simak kisahnya! @UGMYogyakarta @SNPMB_ID #UGM #DisabilitasNetra #SNBT2025 [SOCIAL_TG]: 🎓 Angel, penyandang disabilitas netra, berhasil lolos UGM lewat SNBT 2025. Kisahnya benar-benar inspiratif! 👏 #UGM #Inklusi

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User