Xhaka: Setelah 72 Tahun, Saatnya Swiss Tulis Sejarah di Piala Dunia 2026
Granit Xhaka tidak menyembunyikan ambisi besar yang berkobar di dadanya menjelang gelaran Piala Dunia 2026. Kapten tim nasional Swiss itu menyerukan sebuah panggilan bersejarah: mengakhiri penantian 7...
Granit Xhaka tidak menyembunyikan ambisi besar yang berkobar di dadanya menjelang gelaran Piala Dunia 2026. Kapten tim nasional Swiss itu menyerukan sebuah panggilan bersejarah: mengakhiri penantian 72 tahun untuk mencatatkan prestasi terbaik di panggung sepak bola terakbar. Keyakinan itu ia lontarkan di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam, namun dengan optimisme tinggi bahwa mimpi kolektif bisa diubah menjadi kenyataan.
Luka 72 Tahun yang Tak Kunjung Sembuh
Bagi La Nati, Piala Dunia selalu menyisakan kisah yang nyaris namun tak pernah tuntas. Sejak edisi 1954 di kandang sendiri—saat Swiss mencapai perempat final untuk pertama dan terakhir kalinya—langkah mereka selalu terhenti di fase gugur awal atau bahkan fase grup. Dalam 11 penampilan pasca-1954, statistik menunjukkan betapa sulitnya Swiss menembus batas: total 32 pertandingan, hanya 10 kemenangan, dan tak satu pun langkah melewati 16 besar. Kekalahan menyakitkan 6-1 dari Portugal di babak 16 besar Piala Dunia 2022 menjadi luka terbaru yang masih membekas.
Penguasaan bola yang rata-rata hanya 44% di laga krusial itu memperlihatkan ketimpangan kualitas saat berhadapan dengan elite global. Namun, di balik catatan minor itu, tersimpan bibit-bibit kebangkitan: Swiss sukses menahan imbang Brasil 1-1 di laga pembuka 2018, serta mengalahkan Serbia di dua edisi beruntun. Fondasi mental itu yang kini coba diperkuat oleh Xhaka.
Xhaka dan Seruan Mimpi Kolektif
“Tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk kami wujudkan,” tegas Xhaka dalam sebuah kesempatan, mengajak seluruh rakyat Swiss untuk terus bermimpi. Pemain berusia 33 tahun itu—yang telah mengantongi 125 caps dan 14 gol—memahami bahwa Piala Dunia 2026 adalah panggung terakhir bagi generasi emas ini. Dengan pengalaman bermain di tiga edisi sebelumnya, Xhaka menjadi simbol transisi dari sekadar peserta menjadi penantang serius.
Statistik individu Xhaka di kualifikasi Piala Dunia 2026 mencerminkan peran krusialnya: 92% akurasi umpan, 2,3 operan kunci per laga, dan empat assist yang membuka jalan bagi rekan-rekannya. Lebih dari sekadar angka, kontribusinya di lini tengah sebagai jenderal lapangan menjadi poros keseimbangan antara bertahan dan menyerang. Ia ingin menularkan keyakinan itu kepada publik Swiss: “Kami tidak pergi ke Amerika Utara untuk sekadar berpartisipasi. Ini misi menulis sejarah.”
Senjata Taktis dan Generasi Emas Schweiz
Pelatih Murat Yakin telah membangun kerangka taktikal yang solid dengan formasi 3-4-2-1 yang fleksibel. Kehadiran Yann Sommer di bawah mistar (clean sheet 34% di turnamen besar) serta dinding kokoh Manuel Akanji dan Nico Elvedi memberikan stabilitas defensif. Di sisi ofensif, eksplosivitas Noah Okafor dan ketajaman Zeki Amdouni—yang mencetak tujuh gol di kualifikasi—menjadi senjata baru yang mematikan.
Swiss mencatat rata-rata 4,7 shots on target per laga di kualifikasi, naik signifikan dari 3,2 di Piala Dunia 2022. Penguasaan bola pun membaik menjadi 51,3%, menandakan keberanian untuk mengontrol permainan. Di Grup F bersama Brasil, Serbia, dan Kamerun—pengulangan skenario edisi 2022—modal ini memberikan harapan bahwa hasil berbeda bisa diraih.
“Kami sudah belajar dari kesalahan masa lalu. Sekarang saatnya mengeksekusi mimpi itu di lapangan,” ujar Xhaka.
Venue pertama di Philadelphia pada 14 Juni 2026 akan menjadi saksi langkah awal Swiss menuju sejarah. Dengan dukungan penuh lebih dari 8 juta penduduk yang bermimpi, Xhaka dan rekan-rekannya siap menantang batas yang selama 72 tahun tak tersentuh. Waktunya bagi La Nati untuk tak lagi sekadar membuat kejutan, melainkan mengukir nama di papan atas sepak bola dunia.
Baca juga:
Comments (0)