Veddriq Leonardo Sabet Emas Perdana Indonesia di Olimpiade Paris

Suasana di Hotel Santika Premier, Bekasi, berubah penuh semangat pada Selasa sore, 20 Agustus 2024. Di markas Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) itu, seorang pemuda berusia 27 tahun tampak dikeru...

Veddriq Leonardo Sabet Emas Perdana Indonesia di Olimpiade Paris

Suasana di Hotel Santika Premier, Bekasi, berubah penuh semangat pada Selasa sore, 20 Agustus 2024. Di markas Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) itu, seorang pemuda berusia 27 tahun tampak dikerumuni awak media, pelatih, dan pengurus. Sorot matanya tenang, namun senyumnya tak bisa menyembunyikan kebanggaan. Dialah Veddriq Leonardo, atlet panjat tebing yang baru saja mengukir sejarah besar dengan menyabet medali emas pertama Indonesia di Olimpiade Paris 2024.

Kepulangan Veddriq dari Paris bukan sekadar seremoni kepulangan atlet. Ini adalah momen bersejarah bagi bangsa yang selama puluhan tahun menanti emas dari cabang olahraga di luar bulu tangkis dan angkat besi. Di hadapan para jurnalis, ia menceritakan detik-detik menegangkan di final speed putra yang berlangsung di Le Bourget Climbing Venue, Paris. “Saya hanya fokus pada jalur, fokus pada start. Ketika menyentuh tombol finis dan melihat waktu 4,79 detik, saya langsung menangis,” ujarnya, suaranya sedikit bergetar.

Rekor Baru dan Dominasi Speed

Persaingan di final melawan wakil tuan rumah, Bassa Mawem, berlangsung sengit. Veddriq yang turun di lintasan B start dengan reaksi 0,13 detik, sebuah awal yang nyaris sempurna. Gerakannya seperti petir merambat dinding setinggi 15 meter itu. Ia mencatatkan waktu 4,79 detik, unggul 0,12 detik dari lawannya yang mencatat 4,91 detik. Jalan menuju final pun tidak mudah. Di babak semifinal, Veddriq memecahkan rekor Asia dengan torehan 4,75 detik, memperbaiki rekornya sendiri sekaligus menjadi waktu tercepat sepanjang penyelenggaraan speed Olimpiade. Data statistik menunjukkan penguasaan sempurna: dari empat kali penampilan, ia mencatat tiga kali clean run tanpa false start, dengan konsistensi waktu di bawah 4,90 detik. Keunggulan utama Veddriq terletak pada eksplosivitas start dan transisi mulus saat melewati bagian overhang di sepertiga atas dinding. Pelatih kepala, Hendra Basir, mengungkapkan bahwa program latihan reaksi telah dijalankan selama dua tahun terakhir dengan menggunakan sensor pressure-plate custom yang dikembangkan bersama tim sport science Universitas Indonesia.

Perjalanan Panjang Sang Juara

Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 3 Maret 1997, Veddriq mengenal panjat tebing sejak usia 14 tahun lewat dinding buatan di stadion kota. Bakatnya langsung mencuri perhatian pelatih daerah. Pada 2019, ia masuk pemusatan latihan nasional dan mulai bersinar di IFSC Climbing World Cup 2021, di mana ia merebut medali perak di Salt Lake City. Puncaknya terjadi pada 2023 saat ia menjuarai dunia di Bern, Swiss, mencatatkan waktu 4,90 detik yang saat itu memecahkan rekor dunia. Olimpiade Paris menjadi panggung pembuktian bahwa panjat tebing Indonesia bukan sekadar pelengkap. Dari data penguasaan bola? Tentu tidak relevan; dalam panjat tebing, statistik yang dianalisis adalah waktu reaksi, waktu kontak tangan, dan zona transisi. Veddriq memimpin di hampir semua metrik tersebut sepanjang kualifikasi. Dengan tinggi badan 170 cm dan berat 62 kg, ia memiliki rasio kekuatan-berat yang ideal, mampu menghasilkan daya eksplosif hingga 2,8 kali massa tubuhnya hanya dalam hitungan milidetik saat start.

Harapan Baru dan Bonus Prestasi

Prestasi ini disambut pemerintah dengan janji bonus total senilai Rp6 miliar, termasuk rumah dan program pensiun. Namun, di luar materi, Veddriq berharap gelar ini menjadi katalis pembangunan fasilitas panjat tebing di seluruh Indonesia. “Saat ini baru ada empat wall speed berstandar IFSC di Indonesia. Saya ingin setiap provinsi punya satu agar lahir Veddriq-Veddriq baru,” tuturnya. Ketua Umum FPTI, Yenny Wahid, yang turut hadir di Bekasi, menyatakan komitmen membangun sentra panjat tebing di 10 provinsi pada 2025, sekaligus memperbanyak sertifikasi rute setter dan pelatih berlisensi IFSC.

Sementara itu, Veddriq masih menyisakan target pribadi: menembus batas 4,50 detik, suatu angka yang pernah ia sentuh dalam simulasi latihan. “Fisik saya masih terus berkembang. Di LA 2028, saya ingin menjadi yang pertama mencatatkan waktu di bawah 4,6 detik di Olimpiade,” ucapnya penuh keyakinan. Acara temu media di Hotel Santika Premier pun diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan replika medali emas kepada FPTI. Malam itu, dinding panjat di sudut ruangan terlihat diam, namun semangat Veddriq telah merambat tinggi melampaui rekor dan grafik statistik—sebuah awal emas bagi Indonesia di pentas dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User