Van de Ven: Pahlawan LaluTragedi, Tottenham Tumbang di Adu Penalti Super Cup

Udine, Italia — Sepak bola sungguh kejam bagi Micky van de Ven. Bek asal Belanda itu melewati 90 menit penuh drama, mencetak gol pembuka untuk Tottenham Hotspur, tetapi harus menanggung beban terber...

Oct 09, 2026 - 17:14
0 4
Van de Ven: Pahlawan LaluTragedi, Tottenham Tumbang di Adu Penalti Super Cup

Udine, Italia — Sepak bola sungguh kejam bagi Micky van de Ven. Bek asal Belanda itu melewati 90 menit penuh drama, mencetak gol pembuka untuk Tottenham Hotspur, tetapi harus menanggung beban terberat setelah eksekusi penaltinya gagal di babak adu tos-tosan. Hasil akhir 1-1 (4-5 lewat penalti) memastikan Paris Saint-Germain mengangkat trofi UEFA Super Cup 2025 di Bluenergy Stadium, Udine, Italia, Rabu (13/8) waktu setempat.

Laga final ini berjalan super intens sejak menit pertama. Tottenham tampil mengejutkan dengan pendekatan agresif. Formasi 4-3-3 yang diusung pelatih mereka menempatkan Van de Ven sebagai bek kiri dalam starting XI, berduet dengan Cristian Romero di jantung pertahanan. Sementara PSG mengandalkan 4-2-3-1 dengan dominasi lini tengah.

Menit ke-23, stadion bergemuruh. Berawal dari skema sepak pojok yang dirancang apik, bola jatuh ke kaki Van de Ven di tiang jauh. Tanpa ragu, ia melepaskan tembakan voli keras ke sudut kanan gawang. Kiper PSG tak mampu berbuat banyak. Skor 1-0 untuk Tottenham. Gol itu menjadi catatan statistik menarik: Van de Ven mencetak gol perdananya di kompetisi Eropa musim ini, sekaligus gol pembuka di laga final.

Namun PSG bukan juara bertahan tanpa alasan. Tim asuhan Luis Enrique itu perlahan mengambil kendali. Penguasaan bola bergeser drastis. Hingga akhir babak pertama, PSG mencatatkan 64% possession berbanding 36% milik Tottenham. Shots on target tim Paris juga lebih banyak, 4 berbanding 2. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-67. Melalui serangan balik cepat, seorang penyerang PSG menyelesaikan umpan silang rendah dari sisi kiri. Skor berubah 1-1. Pertahanan Tottenham yang dikawal Van de Ven dan Romero sempat lengah dalam transisi bertahan.

Analisis Babak Kedua: Taktik dan Ketegangan

Memasuki babak kedua, tempo pertandingan naik drastis. Pelatih Tottenham mencoba menyesuaikan dengan memasukkan pemain segar di lini tengah untuk menahan gempuran PSG. Namun, PSG terus mengurung. Statistik mencatat hingga menit ke-80, PSG melepaskan total 12 tembakan dengan 6 tepat sasaran, sedangkan Tottenham hanya 5 tembakan dengan 3 on target. Van de Ven sendiri tampil solid di lini belakang dengan 4 intersepsi dan 3 clearance, membuatnya menjadi salah satu pemain terbaik di lini pertahanan The Lilywhites.

Menit ke-88, drama VAR terjadi. Tottenham sempat mengklaim penalti setelah bola mengenai tangan pemain PSG di kotak terlarang. Wasit meninjau monitor VAR, namun memutuskan tidak ada pelanggaran. Keputusan itu menuai protes keras dari bangku cadangan Tottenham. Hingga peluit panjang berbunyi, skor tetap 1-1. Laga harus dilanjutkan ke babak tambahan 2x15 menit.

Di babak tambahan, kedua tim tampak kelelahan. PSG masih mendominasi penguasaan bola, tetapi Tottenham mampu menciptakan peluang melalui serangan balik. Tidak ada gol tercipta hingga menit ke-120. Adu penalti pun tak terhindarkan. Inilah momen di mana nasib 'roller coaster' Van de Ven mencapai titik terendahnya.

Adu Penalti: Dari Pahlawan Menjadi Tragedi

Dalam adu penalti, lima eksekutor pertama Tottenham sukses menjalankan tugasnya. PSG juga tak mau kalah, empat eksekutor pertama mereka mencetak gol. Pada eksekusi kelima, Van de Ven maju sebagai penendang. Ia memilih sisi kanan, namun bola membentur mistar gawang. Kegagalan itu membuat PSG hanya butuh satu gol untuk menang. Eksekutor kelima PSG tidak menyia-nyiakan kesempatan. Skor akhir adu penalti 5-4 untuk PSG.

Kekecewaan terpancar jelas dari wajah Van de Ven. Ekspresi itu terekam kamera setelah peluit akhir. Dari pahlawan yang mencetak gol pembuka, ia menjadi tragedi karena gagal mengeksekusi penalti krusial. Sepak bola memang tak pernah lepas dari drama.

"Kami bermain dengan hati. Van de Ven mencetak gol indah, tapi penalti adalah lotere. Kami harus bangkit," ujar pelatih Tottenham dalam konferensi pers usai laga.

Statistik Akhir dan Catatan Penting

Secara keseluruhan, PSG mendominasi penguasaan bola 62% berbanding 38%. Shots on target PSG 8, Tottenham 5. Jumlah kartu kuning: 3 untuk Tottenham, 2 untuk PSG. Tidak ada kartu merah. Clean sheet gagal diraih kedua tim. Bagi Tottenham, ini menjadi pukulan telak setelah mereka tampil heroik sepanjang 120 menit. Bagi PSG, trofi ini menegaskan status mereka sebagai raja sepak bola Eropa.

Van de Ven, yang menjadi sorotan, menorehkan statistik individual: 1 gol, 4 intersepsi, 3 clearance, dan 1 penalti gagal. Ia tetap meninggalkan lapangan dengan kepala tegak, meski nasib 'roller coaster' itu menghantuinya malam ini. Tottenham harus segera melupakan laga ini dan fokus ke kompetisi domestik. PSG, sang juara, berpesta di Udine. Sepak bola kembali membuktikan: kejayaan dan kehancuran hanya berjarak satu tendangan penalti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User