Kongres FIFA yang akan datang diprediksi menjadi salah satu momen paling panas dalam sejarah organisasi sepak bola dunia. Bukan karena jadwal turnamen atau format kompetisi, melainkan karena munculnya skenario perlawanan terbuka terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. UEFA dilaporkan tengah menjajaki dua sosok perempuan berpengaruh sebagai calon Presiden FIFA periode berikutnya, sebuah langkah yang jika terwujud akan menjadi terobosan besar dalam 120 tahun sejarah federasi tertinggi sepak bola itu.
Informasi ini mencuat dari lingkaran dalam sepak bola Eropa. Dua nama yang disebut-sebut memiliki rekam jejak kuat di administrasi olahraga, popularitas tinggi di kalangan stakeholder, serta kemampuan lobi yang mumpuni di tingkat internasional. Keduanya bukan nama baru di dunia sepak bola. Mereka telah lama berkiprah di struktur federasi, komite disiplin, hingga urusan kompetisi elite. Kehadiran mereka dalam bursa pencalonan memberi warna berbeda pada konstelasi politik FIFA yang selama ini didominasi figur laki-laki.
Peta Kekuatan dan Latar Belakang Perlawanan
Infantino, yang menjabat sejak 2016, memang belum resmi mencalonkan diri untuk periode berikutnya. Namun manuver politiknya belakangan ini dinilai kalangan UEFA cenderung sentralistik dan kurang melibatkan asosiasi anggota secara setara. Sejumlah kebijakan seperti perluasan format Piala Dunia dan penjadwalan turnamen baru menjadi pemicu ketegangan. UEFA sebagai konfederasi dengan jumlah asosiasi terbanyak dan kekuatan ekonomi terbesar merasa suaranya kerap terpinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis.
Dari sudut pandang elektoral, FIFA memiliki 211 asosiasi anggota dengan hak suara setara satu suara per asosiasi. Eropa hanya menguasai sebagian kecil dari total suara tersebut, sehingga kandidat alternatif wajib meraih dukungan dari konfederasi Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Amerika Utara agar peluang menang terbuka lebar. Di sinilah pentingnya dua figur perempuan yang digadang-gadang ini. Keduanya dinilai mampu menjembatani kepentingan negara-negara berkembang tanpa mengabaikan agenda modernisasi sepak bola global.
Statistik politik federasi menunjukkan bahwa sejak 1974 hingga kini, tidak pernah ada presiden FIFA yang berasal dari luar Eropa kecuali João Havelange asal Brasil. Dominasi Eropa memang kuat, tetapi fragmentasi suara di dalamnya justru sering menjadi celah. Jika UEFA benar-benar mengusung kandidat tunggal, maka modal awal sudah solid. Tantangannya adalah meyakinkan konfederasi lain bahwa perubahan berarti, bukan sekadar perebutan kursi antar-blok.
Peluang dan Tantangan Kandidat Wanita
Kemunculan dua nama perempuan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa sepak bola sedang memasuki fase baru kepemimpinan inklusif. Selama ini, posisi strategis di FIFA memang didominasi pria, meski komite-komite perempuan sudah lama dibentuk. Sejumlah tokoh wanita telah menorehkan kontribusi nyata dalam pengembangan sepak bola wanita, pengelolaan suporter, serta tata kelola kompetisi integritas. Rekam jejak itu menjadi modal kredibilitas yang tidak bisa diremehkan.
Namun jalan menuju kursi nomor satu FIFA tidak akan mulus. Infantino masih mengantongi dukungan dari banyak asosiasi yang merasakan manfaat program bantuan finansial dan turnamen usia muda. Selain itu, mesin politik FIFA memiliki kekuatan untuk mengarahkan agenda kongres melalui laporan komite dan proposal kebijakan. Kandidat alternatif harus mampu membangun koalisi lintas benua sejak dini, jauh sebelum kongres pemilihan digelar.
Pengamat sepak bola Eropa menilai langkah UEFA ini bukan sekadar manuver sesaat. Ada perhitungan jangka panjang tentang arah tata kelola sepak bola dunia, termasuk soal kalender kompetisi yang padat, perlindungan pemain dari jadwal ekstrem, serta pembagian pendapatan yang lebih adil antara klub, liga, dan federasi. Isu-isu itulah yang kemungkinan besar akan menjadi senjata kampanye kedua kandidat jika resmi maju.
Dinamika Kongres dan Skenario Politik
Dalam konteks elektoral FIFA, kandidat harus mendapat dukungan minimal satu asosiasi anggota. Setelah itu, proses verifikasi dan kampanye resmi akan berjalan hingga pemungutan suara di kongres. Sejarah mencatat beberapa pemilihan presiden FIFA berlangsung ketat, bahkan hingga putaran kedua. Jika dua kandidat wanita ini benar-benar maju, maka skenario suara terbelah menjadi tiga blok: pendukung Infantino, pendukung kandidat Eropa, dan asosiasi yang memilih bersikap netral hingga menit terakhir.
Yang menarik, UEFA tidak serta merta mengumumkan nama. Penjajakan masih bersifat tertutup, mempertimbangkan sensitivitas hubungan diplomatik antar-federasi. Pendekatan senyap ini lazim dalam politik olahraga internasional. Tujuannya menghindari tekanan publik dini yang bisa memecah koalisi sebelum benar-benar terbentuk. Jika bocoran ini akurat, maka peta persaingan menuju kursi kepresidenan FIFA dipastikan menghangat, dan sepak bola dunia menanti babak baru tata kelola yang lebih terbuka.
Comments (0)