Trump Sodorkan Kartu Merah dari Infantino ke Jurnalis di Oval Office

Skor akhir pertemuan itu: satu kartu merah, dua tawa, dan nol yang benar-benar diusir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyodorkan kartu merah pemberian presiden FIFA Gianni Infantino ke arah pa...

Trump Sodorkan Kartu Merah dari Infantino ke Jurnalis di Oval Office

Skor akhir pertemuan itu: satu kartu merah, dua tawa, dan nol yang benar-benar diusir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyodorkan kartu merah pemberian presiden FIFA Gianni Infantino ke arah para jurnalis yang meliput pertemuan keduanya di Oval Office, Gedung Putih, pada Selasa (28/8). Adegan itu terekam lensa fotografer dan langsung menjadi momen paling banyak dibicarakan dari kunjungan bos sepak bola dunia tersebut ke pusat kekuasaan Amerika.

Trump tampak tersenyum lebar saat mengangkat kartu merah itu setinggi dadanya, seolah memberi isyarat bahwa 'pelanggaran' para pewarta sudah layak diusir dari lapangan. Infantino yang duduk di sampingnya ikut tertawa menyaksikan lelucon presiden ke-47 AS itu. Bahkan jajaran staf yang berbaris di belakang meja Oval Office — semacam starting XI dari tim kepresidenan — ikut tersenyum. Suasana ruang kerja paling ikonik di dunia itu seketika berubah menjadi panggung hiburan, lengkap dengan properti resmi pertandingan keluaran FIFA.

Cendera Mata dari Presiden FIFA

Kartu merah yang dipegang Trump bukanlah kartu sembarangan. Berdasarkan keterangan yang beredar dari pertemuan tersebut, kartu itu merupakan buah tangan yang diberikan Infantino saat keduanya membahas warisan Piala Dunia 2026 yang baru saja digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Bagi Infantino, turnamen edisi ke-23 itu adalah proyek kebanggaan: 48 tim peserta, 104 pertandingan, dan 16 kota tuan rumah yang tersebar di tiga negara.

Infantino sendiri tidak pernah ragu mengumbar ambisinya di forum publik.

"Ini akan menjadi Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah," demikian pernyataan yang kerap ia ulangi sejak turnamen itu dianugerahkan kepada tiga negara Amerika Utara.

Data pendukung ambisi itu memang mengesankan. Amerika Serikat menempatkan 11 kota sebagai tuan rumah, termasuk New York/New Jersey yang menjadi lokasi final di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026. Meksiko menyumbang tiga kota, Kanada dua kota. FIFA bahkan mencatat lebih dari 23 juta permintaan tiket pada fase pertama penjualan, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah turnamen. Sebagai pembanding, ketika AS pertama kali menjadi tuan rumah pada 1994, total kehadiran penonton sepanjang turnamen mencapai lebih dari 3,5 juta orang dan bertahan sebagai rekor selama tiga dekade.

Lelucon yang Mengalihkan Perhatian

Dalam sepak bola, kartu merah adalah keputusan terberat seorang wasit: pemain yang menerimanya harus meninggalkan lapangan dan timnya bermain dengan sepuluh orang. Namun di tangan Trump, simbol disiplin itu berubah fungsi menjadi alat komunikasi politik yang khas. Tak seperti keputusan wasit yang bisa ditinjau ulang lewat VAR atau gol yang dianulir karena offside, kartu merah di Oval Office ini tampaknya tidak akan dianulir siapa pun.

Trump memang dikenal menguasai percakapan seperti tim yang mendominasi penguasaan bola. Ia kerap memakai gestur provokatif untuk menyampaikan pesan ke media, dan kali ini kartu merah menjadi 'senjata' barunya. Jika pertemuan ini dihitung seperti laga, sodoran kartu itu adalah tembakan yang tepat sasaran — shots on target yang tak mampu dihadang kiper mana pun. Infantino, yang memberi 'assist' dengan menyerahkan kartu tersebut, tampak menikmati peran sebagai pemeran pembantu dalam panggung komedi itu.

Dari sisi diplomatik, gestur tersebut justru menandakan hubungan yang hangat. Mengolok-olok jurnalis di depan presiden FIFA bukanlah sikap yang dilakukan seseorang terhadap tamu asing yang baru pertama kali dikenal. Dengan kata lain, agenda pembicaraan Trump dan Infantino berjalan cair, jauh dari kesan formal.

Warisan Sepak Bola di Negeri Paman Sam

Pertemuan itu terjadi di tengah euforia sepak bola Amerika yang sedang memuncak. Piala Dunia 2026 menjadi ujian terbesar FIFA dalam mengelola turnamen dengan format baru 48 peserta, dan dukungan penuh Gedung Putih adalah modal besar bagi Infantino. Di sisi lain, gelaran itu juga meninggalkan warisan nyata bagi Negeri Paman Sam: kompetisi domestik mencatat lonjakan minat, dari jumlah penonton di stadion hingga rating siaran televisi, dan kehadiran bintang-bintang dunia semakin memperkuat posisi sepak bola di negara yang selama ini didominasi American football, basket, dan bisbol.

Di balik canda dan tawa, Trump dan Infantino dikabarkan membahas agenda jangka panjang, mulai dari pengembangan sepak bola akar rumput di AS hingga peluang Amerika menjadi tuan rumah turnamen-turnamen FIFA berikutnya. Bagi para pewarta yang hadir, momen kartu merah itu datang seperti kejutan di menit ke-90 — tiba-tiba, mengundang tawa, dan sulit dilupakan.

Kartu Merah yang Jadi Kenangan

Para jurnalis yang 'diancam' kartu merah itu tentu tidak benar-benar diusir. Mereka tetap bertahan di Oval Office, mencatat setiap detail, dan menyaksikan bagaimana dua tokoh paling berpengaruh di dunianya masing-masing mengubah simbol hukuman terberat dalam sepak bola menjadi bahan tawa bersama. Para pewarta pun pulang dengan clean sheet: tidak ada satu pun yang benar-benar diusir dari lapangan. Sebuah kartu kecil berwarna merah, yang biasanya menjadi mimpi buruk para pemain, akhirnya tercatat sebagai salah satu momen paling unik dalam hubungan Amerika Serikat dan FIFA. Di dunia yang kerap tegang, kartu itu mungkin justru menjadi kartu paling berharga di ruangan tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User