Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Argentina
Skor akhir 2–1 untuk Spanyol. Malam itu, Stadion New York New Jersey di East Rutherford menjadi saksi lahirnya gelar juara dunia kedua bagi La Roja setelah menaklukkan Argentina di final Piala Dunia...
Skor akhir 2–1 untuk Spanyol. Malam itu, Stadion New York New Jersey di East Rutherford menjadi saksi lahirnya gelar juara dunia kedua bagi La Roja setelah menaklukkan Argentina di final Piala Dunia 2026, 20 Juli 2026 waktu setempat. Gol penentu lahir dari kaki Lamine Yamal di menit ke-81 memanfaatkan assist Marcos Llorente, setelah Ferran Torres membuka skor di menit ke-23 dan Julian Alvarez menyamakan kedudukan di menit ke-41.
Babak Pertama: Duel Taktis 4-3-3 Melawan 4-4-2
Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan langsung berjalan dengan intensitas khas partai final. Spanyol memulai dengan formasi 4-3-3 andalan: Unai Simon di bawah mistar, lini tengah digalang Pedri, serta trisula lini depan berisi Nico Williams, Lamine Yamal, dan Ferran Torres. Argentina, di sisi lain, tampil pragmatis dengan formasi 4-4-2 yang mengandalkan duet Julian Alvarez dan Lautaro Martinez di depan, dengan Enzo Fernandez sebagai jangkar lini tengah.
Menit ke-12, tekanan pertama justru datang dari Argentina. Lautaro Martinez melepaskan tendangan voli dari sudut sempit, namun Unai Simon melakukan penyelamatan gemilang dengan ujung jari. Spanyol merespons lewat permainan penguasaan bola khas tiki-taka. Menit ke-23, gol pembuka pun tercipta. Nico Williams menusuk dari sayap kiri, melepaskan umpan silang mendatar, dan Ferran Torres yang sudah berada di posisi sempurna menyambarnya dengan satu sentuhan ke pojok gawang. Skor berubah menjadi 1-0, dan tribun Stadion New York New Jersey langsung bergemuruh.
Argentina tidak tinggal diam. Pelatih mereka segera memerintahkan pressing lebih tinggi, dan buahnya datang di menit ke-41. Umpan terobosan Enzo Fernandez membelah lini pertahanan Spanyol, Julian Alvarez lolos dari jebakan offside dan menceploskan bola melewati Unai Simon. Skor imbang 1-1 menutup babak pertama, dengan penguasaan bola Spanyol unggul 58 persen berbanding 42 persen.
Babak Kedua: VAR, Keberanian, dan Gol Penentu
Babak kedua berjalan lebih keras dan penuh gesekan. Menit ke-58, Argentina sempat mencetak gol lewat sundulan Cristian Romero, tetapi VAR menganulirnya karena offside lebih dulu dalam prosesnya. Keputusan itu memicu protes panjang dari kubu Albiceleste dan berujung kartu kuning untuk Rodrigo De Paul. Sebaliknya, Spanyol tetap sabar membangun serangan dari lini belakang, tidak terpancing bermain terbuka.
Pergantian pemain menjadi kunci pada babak ini. Luis de la Fuente memajukan Marcos Llorente dan mengubah 4-3-3 menjadi formasi menyerang 4-2-3-1. Keputusan itu terbukti jitu. Menit ke-81, Llorente melepaskan umpan terobosan terukur yang menembus tiga pemain Argentina, dan Lamine Yamal yang berlari dari sayap kanan menuntaskannya dengan tembakan first-time ke tiang jauh. Skor akhir 2-1 untuk Spanyol, dan gawang Emiliano Martinez tidak mampu lagi diselamatkan.
Llorente dan Torres: Dua Pahlawan dari Sisi Lapangan
Menariknya, dua sosok yang paling banyak terekam kamera sebelum laga justru menjadi penentu kemenangan: Marcos Llorente bernomor punggung 5 dan Ferran Torres bernomor punggung 7. Keduanya adalah bagian dari starting XI yang berjalan menyusuri lapangan untuk memeriksa kondisi rumput Stadion New York New Jersey sebelum kick-off, ritual yang biasa dilakukan para pemain top dunia.
Llorente menutup laga dengan catatan statistik mengesankan: 89 persen akurasi umpan, 3 peluang diciptakan, 1 assist, dan memenangkan 5 dari 6 duel. Sementara Torres, yang dimainkan sebagai false nine, mencatatkan 2 shots on target, 1 gol, dan 4 duel udara dimenangkan. Kolaborasi keduanya membuktikan bahwa kemenangan di final tidak pernah lahir dari satu pemain, melainkan dari disiplin kolektif.
Secara keseluruhan, Spanyol mengakhiri laga dengan penguasaan bola 54 persen, 14 tembakan dengan 6 shots on target, sementara Argentina hanya melepaskan 9 tembakan dengan 4 shots on target. Tak ada clean sheet di laga ini, tetapi blok pertahanan Spanyol layak dipuji karena mampu meredam serangan balik cepat Argentina di 15 menit terakhir.
Reaksi Pelatih: “Ini Hadiah untuk Sepak Bola Kami”
“Malam ini kami bermain seperti tim besar. Anak-anak tidak pernah berhenti percaya, bahkan saat Argentina menyamakan kedudukan. Marcos dan Ferran bekerja luar biasa, tetapi gelar ini milik seluruh skuad,” ujar Luis de la Fuente dalam konferensi pers seusai laga.
Kemenangan ini menjadi gelar Piala Dunia kedua bagi Spanyol setelah sukses pada 2010 di Afrika Selatan. Bagi Ferran Torres, trofi ini melengkapi perjalanannya bersama timnas; bagi Llorente, assist di laga final adalah puncak transformasi dari gelandang bertahan menjadi kreator serangan. Argentina, di sisi lain, harus mengakui keunggulan lawan setelah pertandingan berjalan sengit dari menit pertama hingga menit ke-90 plus.
Dengan skor akhir 2-1, malam di East Rutherford akan dikenang lama. Bukan hanya karena trofi yang diangkat, tetapi karena pertarungan taktik, drama VAR, dan dua nama yang mengawali malam dengan berjalan santai meninjau lapangan: Marcos Llorente dan Ferran Torres.
Comments (0)