Spanyol Hajar Prancis 2-0, Lamine Yamal: Saya Mau Lawan Messi di Final
Dallas, Texas — Timnas Spanyol memastikan satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 dalam laga semifinal yang berlangsung di Dallas Stadium...
Dallas, Texas — Timnas Spanyol memastikan satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 dalam laga semifinal yang berlangsung di Dallas Stadium, Kamis (15/7) dini hari WIB. Sepasang gol yang lahir dari skema permainan terbuka dan keberanian para pemain muda La Roja menjadi penentu, sekaligus mempertegas status mereka sebagai mesin gol paling produktif sepanjang turnamen.
Babak Pertama: Spanyol Menyiksa dengan Penguasaan Bola
Sejak peluit awal dibunyikan, Spanyol langsung mengambil inisiatif serangan. Formasi 4-3-3 andalan Luis de la Fuente kembali jadi pondasi, dengan trio Gavi, Pedri, dan Rodri mendominasi lini tengah. Alhasil, dalam 15 menit pertama, penguasaan bola Spanyol mencapai 68 persen, sementara Prancis gagal membangun ritme dari kaki Antoine Griezmann. Pergerakan tanpa bola yang cair dari Nico Williams dan Lamine Yamal terus menerus merepotkan bek sayap Prancis, Theo Hernandez dan Jules Koundé.
Peluang emas pertama hadir di menit ke-19 melalui aksi solo run Alvaro Morata yang menusuk dari sisi kiri. Beruntung bagi Les Bleus, kiper Mike Maignan masih sigap menepis bola ke atas mistar. Tekanan demi tekanan akhirnya berbuah manis pada menit ke-34: umpan lambung Rodri dari tengah berhasil diselesaikan dengan sepakan datar kaki kanan Morata yang menusuk di antara dua bek tengah, Dayot Upamecano dan William Saliba. Bola sempat membentur tiang jauh sebelum masuk ke gawang. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, dan raut frustrasi mulai terlihat di wajah Kylian Mbappé yang tak berkutik dikawal ketat Dani Carvajal dan Aymeric Laporte.
Babak Kedua: Mentalitas Juara dan Gol Yamal yang Mematikan
Prancis mencoba menggebrak di awal paruh kedua dengan memasukkan Ousmane Dembélé menggantikan Kingsley Coman. Namun, Spanyol yang tampil dengan disiplin tinggi tetap mengontrol tempo. Pelatih Didier Deschamps memerintahkan Antoine Griezmann untuk lebih sering bertukar posisi dengan Mbappé demi menciptakan ruang. Strategi itu sempat memberi secercah harapan di menit ke-56 ketika Mbappé melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti, tetapi Unai Simón dengan cekatan menepisnya. Tercatat hingga menit ke-70, shots on target Prancis hanya dua berbanding lima milik Spanyol.
Petaka bagi Prancis tiba saat Spanyol menggandakan keunggulan lewat sebuah serangan balik kilat. Berawal dari sapuan Laporte terhadap umpan silang Dembélé, bola langsung dialirkan kepada Pedri yang kemudian mengirimkan terobosan akurat ke Lamine Yamal di sisi kanan. Dengan kecepatan dan kelincahan khasnya, winger 19 tahun itu melewati Theo Hernandez dan melesakkan tembakan keras ke tiang dekat. Menit ke-68, Yamal mencatatkan namanya di papan skor, 2-0 untuk La Furia Roja, sekaligus menjadikannya pencetak gol termuda untuk Spanyol dalam sejarah semifinal Piala Dunia.
Frustrasi Prancis kian menjadi saat dua peluang emas Kolo Muani dan Eduardo Camavinga gagal membuahkan gol. Di sisi statistik, total penguasaan bola akhir Spanyol mencapai 60 persen, dengan 14 tembakan—di mana 7 tepat sasaran—sedangkan Prancis hanya melesakkan 9 tembakan dan 3 yang mengarah ke gawang. Skor 2-0 bertahan hingga peluit panjang berbunyi, dan seisi Dallas Stadium pun bersorak untuk La Roja.
Ambisi Lamine Yamal: Duel Impian Melawan Messi
Namun, magnet perhatian pasca-pertandingan justru tertuju pada ujaran Lamine Yamal. Bintang muda Barcelona itu tak sungkan mengutarakan keinginannya untuk bersua Argentina di final, sekaligus mengidamkan duel langsung melawan sang legenda, Lionel Messi.
“Saya sangat ingin menghadapi Argentina di final. Bagi saya, itu adalah mimpi yang ingin segera terwujud—bertanding melawan Messi, pemain yang selalu saya idolakan sejak kecil. Saya akan memberikan segalanya untuk mengalahkannya dan membawa pulang trofi untuk Spanyol,”
tegas Yamal dengan penuh semangat. Pernyataan ini langsung memantik imajinasi para penggila sepak bola di seluruh dunia, mengingat kemiripan gaya bermain Yamal yang kerap disebut sebagai 'Messi baru'. Keduanya sama-sama lulusan akademi La Masia, kidal, dan lihai menusuk dari sisi kanan.
Pelatih Luis de la Fuente merespons lebih diplomatis.
“Saya sangat menghormati Argentina, tetapi fokus kami sekarang adalah mempersiapkan tim untuk siapapun calon lawan di final. Kami memiliki kedalaman skuad dan mentalitas yang luar biasa. Jika Argentina yang menang di semifinal, itu akan jadi pertandingan yang spektakuler,”ucapnya. De la Fuente juga membeberkan bahwa pergantian taktis di babak kedua—memasukkan Mikel Merino untuk menambah soliditas saat skor 2-0—berjalan sesuai rencana, terlihat dari nihilnya peluang bersih Prancis di 15 menit terakhir.
Dengan kemenangan ini, Spanyol mencetak rekor tujuh kemenangan beruntun tanpa kebobolan di fase gugur Piala Dunia. Pertahanan yang dikawal trio Laporte, Pau Torres, dan Carvajal telah membukukan clean sheet dalam empat pertandingan terakhir. Kini, seluruh Negeri Matador hanya perlu menunggu hasil antara Argentina dan Brasil untuk mengetahui siapa yang akan mereka hadapi di laga puncak pada 20 Juli mendatang. Jika Argentina lolos, duel Yamal vs Messi akan menjadi suguhan epik yang sudah ditunggu-tunggu.
Comments (0)