Lombok, NTB — Dua nama pembalap muda Indonesia, Mario Aji dan Veda Ega Pratama, kembali mencuri perhatian di panggung balap internasional. Melalui fasilitas Sirkuit Mandalika yang dikelola InJourney, keduanya membuktikan bahwa regenerasi pembalap Tanah Air tidak lagi sekadar wacana. Sirkuit sepanjang 4,3 kilometer dengan 17 tikungan itu kini menjadi laboratorium sekaligus batu loncatan bagi talenta muda yang bercita-cita menembus MotoGP.
Mandalika sebagai Kawah Candradimuka Pembalap Muda
Sejak diresmikan, Sirkuit Mandalika tidak hanya menjadi tuan rumah ajang MotoGP dan World Superbike, tetapi juga pusat pembinaan atlet balap nasional. InJourney selaku pengelola memastikan fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pembalap muda Indonesia untuk berlatih, menguji motor, hingga mengasah kemampuan menghadapi karakter lintasan kelas dunia. Trek lurus utama sepanjang 800 meter ditambah kombinasi tikungan cepat dan lambat menjadi simulasi sempurna sebelum berlaga di sirkuit-sirkuit Eropa.
Mario Aji, yang saat ini berkompetisi di kelas Moto2, dikenal memiliki gaya balap agresif namun terukur. Sementara Veda Ega Pratama, jebolan ajang Asia Talent Cup, terus menunjukkan progres signifikan di kelas Moto3. Keduanya adalah bukti nyata bahwa ekosistem balap nasional mulai mampu bersaing di level internasional.
Rekam Jejak Mario Aji di Kelas Moto2
Menit ke-23 pada sesi latihan bebas Moto2 di Sirkuit Mandalika, Mario Aji sempat mencatatkan waktu putaran tercepat sebelum akhirnya tergelincir di tikungan ke-10. Insiden itu tidak menyurutkan performanya. Dalam beberapa seri Moto2, pembalap asal Magetan ini tercatat sering finish di posisi 15 besar dengan konsistensi yang terus meningkat.
Statistik musim lalu menunjukkan Mario menorehkan rata-rata kecepatan 165 km/jam dengan penguasaan trek di sektor ketiga yang menjadi kekuatannya. Kemampuannya melakukan late braking—menunda pengereman hingga titik terakhir—menjadi ciri khas yang membuatnya sulit disalip lawan. Meski belum meraih podium, torehan poin per lomba Mario menjadi sinyal bahwa ia siap naik kelas.
“Sirkuit Mandalika memberikan saya referensi lintasan yang menantang. Setiap tikungan mengajarkan disiplin dan ketepatan. Ini bekal berharga untuk bersaing di Eropa,” ungkap Mario dalam sebuah sesi wawancara.
Veda Ega Pratama dan Ambisi Moto3
Veda Ega Pratama, yang lahir di Yogyakarta, merupakan salah satu pembalap termuda yang menembus grid Moto3. Debutnya di kejuaraan dunia mendapat sorotan karena berhasil memecahkan rekor sebagai salah satu pembalap Indonesia termuda yang tampil di level tersebut. Pada sesi kualifikasi di Mandalika, Veda sempat menempati posisi 12 sebelum akhirnya start dari baris kelima.
Dari data balap, Veda memiliki konsistensi luar biasa dengan 83 persen lap di dalam zona batas waktu kompetitif. Ia juga dikenal piawai mengelola ban belakang, terutama pada kondisi lintasan panas khas Mandalika yang bisa mencapai suhu aspal 50 derajat Celsius. Karakter balapnya yang tenang di awal lomba namun agresif di lap-lap akhir membuatnya sering menyalip di detik-detik terakhir.
“Kami bangga melihat perkembangan Mario dan Veda. Sirkuit Mandalika dirancang untuk melahirkan juara. Ini adalah rumah bagi talenta muda Indonesia untuk bermimpi lebih tinggi,” ujar perwakilan pengelola sirkuit.
Dampak bagi Ekosistem Balap Nasional
Kehadiran Sirkuit Mandalika tidak hanya mendongkrak pariwisata, tetapi juga mengerek standar pembinaan pembalap muda. Sejak trek ini aktif, jumlah peserta Indonesia di ajang Asia Talent Cup dan JuniorGP meningkat drastis. Federasi balap nasional mencatat kenaikan 45 persen pendaftar pembalap muda dalam tiga tahun terakhir.
Dari sisi teknis, Sirkuit Mandalika memiliki 6 tikungan kiri dan 11 tikungan kanan dengan lebar lintasan 15 meter. Kombinasi ini melatih pembalap menguasai trail braking, manajemen traksi, serta pembacaan kondisi angin yang kerap berubah. Tak heran jika InJourney menjadikan trek ini sebagai pusat pelatihan pembalap nasional, lengkap dengan fasilitas pit building dan medical center berstandar FIM.
Mario Aji dan Veda Ega Pratama kini menjadi simbol bahwa mimpi ke MotoGP bukanlah hal mustahil. Dengan dukungan fasilitas berkelas dunia dan pembinaan berkelanjutan, Indonesia berpeluang besar melahirkan lebih banyak pembalap yang mampu bersaing di level tertinggi. Perjalanan dari Mandalika ke dunia baru saja dimulai.
Comments (0)