Frankfurt, Beritainti — Atmosfer Frankfurt Arena memanas lebih cepat dari biasanya pada Kamis malam, 20 Juni 2024. Sekitar 90 menit sebelum kick-off laga Grup C UEFA Euro 2024 antara Denmark dan Inggris, kamera televisi menangkap momen menarik di tepi lapangan: Peter Schmeichel, legenda kiper Denmark, terlihat berbincang akrab dengan Owen Hargreaves, mantan gelandang Timnas Inggris kelahiran Kanada. Dua nama besar dari generasi berbeda itu berdiri berdampingan, sesekali tertawa, sembari mengamati para pemain melakukan pemanasan.
Momen tersebut bukan sekadar pertemuan biasa. Schmeichel adalah ikon sepak bola Denmark dengan 129 caps dan penjaga gawang yang mengangkat trofi Euro 1992. Sementara Hargreaves, yang lahir di Calgary, Alberta, memilih membela Inggris dan mencatat 42 caps, termasuk penampilan di Piala Dunia 2006. Pertemuan keduanya di pinggir lapangan menjadi simbol duel klasik dua negara yang punya sejarah panjang di turnamen Eropa.
Starting XI dan Formasi Kedua Tim
Pelatih Denmark, Kasper Hjulmand, menurunkan formasi 3-4-1-2 dengan Rasmus Højlund dan Jonas Wind sebagai duet penyerang. Di lini tengah, Pierre-Emile Højbjerg dan Morten Hjulmand mengisi posisi double pivot, sementara Christian Eriksen berperan sebagai playmaker di belakang dua striker. Inggris di bawah asuhan Gareth Southgate memakai formasi 4-2-3-1, dengan Harry Kane sebagai target man tunggal, didukung Bukayo Saka, Jude Bellingham, dan Phil Foden di lini belakang penyerang.
Menit ke-18, Denmark nyaris membuka keunggulan. Højlund menerima bola terobosan dari Eriksen, melepaskan tendangan keras dari dalam kotak penalti, namun kiper Inggris Jordan Pickford melakukan penyelamatan penting dengan kaki kirinya. Statistik sementara menunjukkan penguasaan bola 52 persen untuk Inggris, tetapi Denmark lebih agresif dengan tiga shots on target berbanding satu.
Jalannya Pertandingan dan Statistik Kunci
Menit ke-34, Inggris memecah kebuntuan. Kane menjatuhkan diri untuk menyambut umpan silang Saka dari sisi kanan, sundulannya menghujam gawang Denmark. Skor 1-0 untuk Three Lions. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Menit ke-45+2, Eriksen mengirim umpan matang kepada Hjulmand, yang melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti. Bola melengkung indah ke sudut kanan gawang Pickford. Skor akhir babak pertama 1-1, dengan total shots on target 4-3 untuk Denmark.
Babak kedua berjalan lebih ketat. Southgate menarik Foden dan memasukkan Jarrod Bowen pada menit ke-69 untuk menambah kecepatan di sayap. Hjulmand merespons dengan memasukkan Andreas Skov Olsen. Menit ke-78, VAR sempat mengecek potensi offside pada gol kedua Inggris yang dicetak Bellingham, namun wasit Artur Soares Dias dari Portugal memutuskan tidak ada pelanggaran. Hingga peluit panjang, kedudukan tidak berubah: 1-1.
"Kami bermain dengan keberanian. Statistik menunjukkan kami tidak kalah dalam duel udara dan menciptakan lebih banyak peluang bersih. Hasil ini adil," ujar Hjulmand dalam konferensi pers usai laga.
Sementara Southgate mengakui timnya kehilangan momentum. "Penguasaan bola kami 56 persen, tetapi kami terlalu sering kehilangan bola di sepertiga akhir. Denmark layak mendapat satu poin," katanya.
Dampak pada Klasemen Grup C
Hasil imbang ini membuat Inggris mengoleksi 4 poin dari dua laga, masih memimpin Grup C. Denmark mengumpulkan 2 poin, tertinggal satu angka dari Slovenia yang menang atas Serbia. Dengan satu pertandingan tersisa melawan Serbia, Denmark wajib meraih kemenangan untuk memastikan tiket ke babak 16 besar tanpa bergantung pada hasil laga lain. Inggris, di sisi lain, hanya butuh hasil imbang melawan Slovenia untuk mengunci posisi puncak grup.
Bagi Schmeichel dan Hargreaves, pertemuan sebelum pertandingan tadi mungkin menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal skor akhir. Dua mantan pemain yang pernah merasakan tekanan turnamen besar itu tahu, satu poin di Frankfurt bisa berarti segalanya di akhir fase grup. Denmark dan Inggris masih punya pekerjaan rumah masing-masing, dan Grup C masih terbuka lebar.
Comments (0)