Rosetti: Sepak Bola Bukan PlayStation, VAR Harus Bijak
Roberto Rosetti kembali menjadi sorotan dunia sepak bola Eropa. Kepala wasit UEFA itu menegaskan bahwa penggunaan Video Assistant Referee (VAR) harus dilakukan secara bijaksana dan penuh perhitungan. ...
Roberto Rosetti kembali menjadi sorotan dunia sepak bola Eropa. Kepala wasit UEFA itu menegaskan bahwa penggunaan Video Assistant Referee (VAR) harus dilakukan secara bijaksana dan penuh perhitungan. Alasannya sederhana namun menusuk: sepak bola adalah olahraga nyata yang dimainkan di lapangan hijau, bukan permainan PlayStation yang setiap momennya bisa diulang sesuka hati.
Pernyataan tegas ini disampaikan Rosetti di tengah perdebatan panas soal intervensi VAR yang dinilai semakin sering memotong alur pertandingan. Bagi Rosetti, teknologi video seharusnya hanya menjadi alat bantu, bukan wasit utama yang mengambil alih kendali laga dari lapangan. UEFA, menurutnya, ingin melindungi roh permainan dari intervensi berlebihan yang menggerus emosi dan spontanitas sepak bola.
Filosofi Intervensi Minimal yang Diusung UEFA
Sejak menjabat sebagai kepala wasit UEFA pada 2018, Rosetti konsisten mengusung prinsip intervensi minimal, manfaat maksimal. Prinsip ini sejalan dengan protokol IFAB yang membatasi penggunaan VAR hanya pada empat situasi krusial: proses terjadinya gol, keputusan penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain.
Analogi PlayStation yang dilontarkan Rosetti bukan sekadar gimik. Ia ingin menekankan bahwa wasit di lapangan tetap menjadi pengambil keputusan utama. VAR hanya turun tangan ketika terjadi kesalahan yang jelas dan nyata — bukan untuk menilai ulang setiap duel, setiap tekel, atau setiap kontak fisik yang sebenarnya masih berada dalam ranah interpretasi pengadil.
Pendekatan ini juga menjawab keresahan banyak pelatih dan pemain yang merasa pertandingan modern kehilangan emosi karena selebrasi gol harus tertunda menunggu konfirmasi dari ruang video. UEFA ingin memastikan momentum dan intensitas laga tetap terjaga, sehingga penonton di stadion maupun di layar kaca mendapatkan pengalaman sepak bola yang utuh.
Perjalanan VAR di Kompetisi Eropa
VAR pertama kali digunakan di Liga Champions pada fase gugur musim 2018-19, sebelum akhirnya diterapkan penuh di seluruh pertandingan fase grup pada musim berikutnya. Sejak itu, teknologi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Liga Champions, Liga Europa, hingga Piala Eropa.
Perkembangan tidak berhenti di situ. UEFA kemudian memperkenalkan teknologi offside semi-otomatis yang memanfaatkan pelacakan anggota tubuh pemain dan sensor di dalam bola. Teknologi ini mampu memangkas waktu pengambilan keputusan offside secara signifikan dibandingkan penarikan garis manual yang kerap memakan waktu berlarut-larut dan memicu kontroversi.
Piala Eropa 2024 menjadi contoh nyata bagaimana UEFA ingin VAR bekerja: cepat, akurat, dan jarang terlihat. Mayoritas pemeriksaan berjalan di latar belakang tanpa menghentikan permainan, sementara keputusan offside semi-otomatis hanya membutuhkan hitungan detik untuk divisualisasikan kepada penonton di stadion dan pemirsa televisi.
Pesan untuk Wasit dan Masa Depan Sepak Bola
Rosetti menegaskan bahwa pengetatan penggunaan VAR bukan berarti mengorbankan akurasi, melainkan mengembalikan kewibawaan wasit lapangan. Para pengadil di kompetisi UEFA terus dilatih untuk berani mengambil keputusan tanpa bergantung pada layar monitor di pinggir lapangan.
Standar yang diminta UEFA jelas: wasit harus memimpin pertandingan dengan karakter, sementara tim VAR hanya berperan sebagai jaring pengaman. Ketika sebuah insiden masih berada di zona abu-abu, keputusan wasit di lapangan yang harus dihormati. Baru ketika ada bukti video yang gamblang, intervensi dilakukan.
Pesan ini sekaligus menjadi jawaban UEFA atas tren di berbagai liga domestik, di mana durasi pemeriksaan VAR kerap berlangsung hingga beberapa menit dan memicu frustrasi suporter. Rosetti percaya kepercayaan publik terhadap wasit hanya bisa dibangun lewat konsistensi dan keberanian, bukan lewat teknologi yang digunakan secara berlebihan.
Dengan arah kebijakan yang makin tegas ini, sepak bola Eropa tampaknya akan kembali ke esensinya: permainan yang mengalir, dipimpin wasit berwibawa, dan teknologi yang tahu kapan harus diam. Seperti penegasan Rosetti, ini sepak bola — bukan PlayStation.
Comments (0)