Rodri Kecam FIFA: Wasit Gagal Lindungi Bintang Muda
Rodri, gelandang andalan Timnas Spanyol, melontarkan kritik pedas kepada FIFA menyusul kepemimpinan wasit yang dinilai gagal melindungi pemain muda berbakat Lamine Yamal dalam laga kontra Portugal di ...
Rodri, gelandang andalan Timnas Spanyol, melontarkan kritik pedas kepada FIFA menyusul kepemimpinan wasit yang dinilai gagal melindungi pemain muda berbakat Lamine Yamal dalam laga kontra Portugal di Piala Dunia 2026. Pertandingan yang berakhir dengan skor 2-1 untuk Spanyol itu ternodai oleh sejumlah tekel keras yang tidak mendapatkan hukuman setimpal dari pengadil lapangan.
Insiden Kontroversial di Babak Pertama
Menit ke-23, Yamal yang baru berusia 17 tahun menerima bola di sisi kanan. Bek Portugal, Ruben Dias, melakukan tekel dari belakang yang membuat Yamal terjatuh kesakitan. Wasit asal Argentina hanya memberikan tendangan bebas tanpa kartu. Rodri yang berada di dekat area kejadian langsung melayangkan protes. "Itu tekel berbahaya yang seharusnya dihukum kartu kuning minimal, bahkan bisa merah. FIFA harus bertanggung jawab atas kelalaian ini," ujar Rodri dalam konferensi pers usai laga.
Statistik pelanggaran menunjukkan Spanyol dilanggar 12 kali, sementara Portugal hanya 7 kali. Namun wasit hanya mengeluarkan dua kartu kuning untuk Portugal, tidak satu pun untuk tekel terhadap Yamal. Penguasaan bola Spanyol mencapai 61% berbanding 39%, dengan 7 shots on target lawan 4 milik Portugal. Namun angka itu tidak menggambarkan tekanan fisik yang dialami para pemain muda Spanyol.
Babak Kedua: Ketegangan Meningkat
Memasuki babak kedua, wasit kembali menjadi sorotan. Menit ke-55, Yamal kembali menjadi sasaran. Bek Portugal, Pepe, yang sudah berusia 43 tahun, melakukan pelanggaran keras dari samping. Wasit hanya memberikan peringatan lisan tanpa kartu. Rodri yang saat itu sudah mengoleksi kartu kuning karena protes di babak pertama, nyaris mendapat kartu kedua saat terus mendesak wasit. "Saya harus menjaga emosi, tapi melihat pemain seperti Yamal terus dilanggar tanpa perlindungan, itu sangat frustrasi," tambah Rodri.
Menit ke-78, Yamal akhirnya ditarik keluar setelah mengalami keseleo engkel akibat tekel lain yang tidak dihukum. Absennya sanksi tegas membuat Portugal terus bermain keras tanpa konsekuensi berarti. Spanyol akhirnya menang berkat gol Alvaro Morata (34') dan gol bunuh diri Ruben Dias (67'), sementara Portugal memperkecil kedudukan lewat penalti Cristiano Ronaldo (82'). Namun kemenangan itu terasa pahit bagi Rodri.
Kritik Terhadap Kebijakan FIFA
Rodri tidak hanya menyoroti wasit, tetapi juga FIFA sebagai induk organisasi. Ia menilai FIFA gagal menerapkan standar perlindungan pemain, terutama untuk talenta muda. "FIFA berbicara soal keselamatan pemain, tetapi di lapangan wasit tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan tegas. Ini harus dievaluasi," tegas Rodri. Ia juga menyinggung penggunaan VAR yang tidak dimaksimalkan dalam insiden-insiden tersebut.
Data menunjukkan bahwa sepanjang Piala Dunia 2026, rata-rata kartu per pertandingan turun 15% dibandingkan edisi sebelumnya. Banyak pengamat menilai wasit cenderung longgar untuk menjaga ritme pertandingan, tetapi Rodri menganggap hal itu justru membahayakan pemain. "Kami butuh wasit yang berani, bukan yang takut mengeluarkan kartu. Ini Piala Dunia, bukan pertandingan persahabatan," tandasnya.
Dampak pada Laga Berikutnya
Dengan hasil ini, Spanyol lolos ke babak 16 besar dengan tujuh poin. Namun kondisi fisik Yamal masih diragukan. Tim medis Spanyol menyatakan engkel Yamal bengkak dan perlu pemantauan 24 jam. "Kami berharap FIFA segera bertindak. Jika tidak, pemain muda seperti Yamal akan terus menjadi korban," pungkas Rodri.
Kritik Rodri mendapat dukungan dari rekan setimnya, Pedri, dan juga beberapa pemain Portugal seperti Bruno Fernandes yang secara terpisah menyebut wasit kurang konsisten. Sementara FIFA belum memberikan tanggapan resmi, publik sepak bola dunia menanti langkah konkret organisasi tersebut untuk meningkatkan kualitas perwasitan dan perlindungan pemain.
Dalam jumpa pers, Rodri juga membandingkan dengan turnamen lain seperti UEFA Euro, di mana wasit lebih tegas terhadap pelanggaran keras. "Di Euro, tekel seperti itu sudah pasti kartu. Tapi di Piala Dunia, entah mengapa standarnya berbeda. FIFA perlu menyelaraskan aturan," ujarnya dengan nada kecewa.
Laga Spanyol vs Portugal memang menyajikan duel sengit dengan total 23 pelanggaran. Namun catatan penting adalah tidak ada kartu merah yang keluar, meskipun beberapa pelanggaran layak diganjar hukuman lebih berat. Rodri berharap momentum kritiknya bisa menjadi koreksi bagi FIFA sebelum turnamen memasuki fase gugur yang lebih krusial.
Akhirnya, Rodri menutup pernyataannya dengan pesan untuk Yamal: "Lamine adalah masa depan sepak bola Spanyol. Kami semua di tim akan menjaganya. Tapi FIFA juga punya tanggung jawab untuk memastikan wasit menjalankan tugasnya dengan benar."
Comments (0)