Rizky Ridho Kecam Serangan Bus EPA Persib U-18
JAKARTA — Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, angkat bicara tegas menanggapi insiden penyerangan yang menimpa rombongan bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di wilayah Jawa Tengah. Insid...
JAKARTA — Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, angkat bicara tegas menanggapi insiden penyerangan yang menimpa rombongan bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di wilayah Jawa Tengah. Insiden tersebut menjadi sorotan tajam di jagat sepak bola nasional, terutama karena melibatkan atlet-atlet muda yang tengah menempuh jalur pembinaan prestasi.
Rizky Ridho, yang dikenal sebagai bek tengah dengan karakter kepemimpinan kuat di lini belakang Macan Kemayoran, menyatakan kekecewaannya secara terbuka. Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun tidak memiliki tempat dalam sepak bola, apalagi jika korbannya adalah pemain usia dini yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan pembinaan, bukan intimidasi.
Pemain timnas Indonesia itu menegaskan bahwa insiden semacam ini bisa berdampak panjang terhadap psikologis para pemain muda. Ia berharap seluruh pihak, mulai dari suporter, penyelenggara, hingga aparat keamanan, dapat mengevaluasi sistem pengamanan pertandingan dan perjalanan tim, khususnya di level akar rumput.
Kronologi Insiden dan Respons Cepat
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa rombongan bus yang membawa skuad EPA Persib Bandung U-18 mengalami penyerangan saat melintas di kawasan Jawa Tengah. Insiden ini memicu reaksi cepat dari berbagai kalangan, termasuk sesama pemain profesional yang menilai bahwa keselamatan pemain muda harus menjadi prioritas utama dalam setiap agenda kompetisi.
Rizky Ridho menilai, kejadian tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Sebagai pemain senior, ia merasa bertanggung jawab untuk menyuarakan keprihatinan dan mendorong adanya langkah nyata dari otoritas terkait. Menurutnya, edukasi suporter dan penegakan aturan yang konsisten menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Dalam konteks kompetisi Elite Pro Academy, pertandingan kelompok usia memang kerap luput dari perhatian aspek keamanan yang memadai. Padahal, ajang ini merupakan fondasi penting bagi regenerasi sepak bola nasional. Rizky Ridho menyoroti pentingnya standar pengamanan yang setara antara pertandingan level senior dan kelompok usia.
Pesan Moral dari Seorang Kapten
Sebagai kapten tim, Rizky Ridho tidak hanya berbicara soal taktik dan formasi di atas lapangan. Ia juga menempatkan diri sebagai figur yang peduli terhadap ekosistem sepak bola secara menyeluruh. Pesannya jelas: rivalitas di lapangan harus berhenti ketika peluit akhir dibunyikan, dan tidak boleh menjelma menjadi aksi anarkis di luar pertandingan.
Ia mengingatkan bahwa sepak bola dibangun atas dasar sportivitas, rasa hormat, dan persaudaraan. Serangan terhadap bus pemain muda, menurutnya, menciderai nilai-nilai dasar tersebut. Rizky Ridho berharap para pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku agar menimbulkan efek jera.
Pemain yang identik dengan nomor punggung di lini pertahanan Persija itu juga mengajak para pemain muda untuk tetap semangat dan tidak takut melanjutkan karier. Ia menilai, pengalaman pahit ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk membangun budaya sepak bola yang lebih sehat dan aman.
Dorongan Evaluasi Sistem Keamanan
Lebih lanjut, Rizky Ridho mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur perjalanan tim, terutama untuk kompetisi kelompok usia. Ia menyebut perlunya koordinasi lintas lembaga, termasuk kepolisian dan penyelenggara kompetisi, dalam memastikan keselamatan kontingen.
Menurutnya, keamanan bukan sekadar tanggung jawab panitia pelaksana, melainkan juga komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan sepak bola. Ia berharap insiden ini menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola, bukan sekadar menjadi bahan perdebatan sesaat di media sosial.
Rizky Ridho juga menyoroti pentingnya peran klub dalam memberikan pendampingan psikologis bagi pemain muda yang mengalami trauma. Dukungan mental, katanya, sama pentingnya dengan pembinaan teknis dan taktik di lapangan.
Dengan sikap tegasnya, Rizky Ridho menegaskan bahwa sepak bola Indonesia harus tumbuh menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Seruan ini menjadi pengingat bahwa di balik kompetisi yang penuh data dan statistik, ada nilai kemanusiaan yang harus dijaga bersama.
Comments (0)