Oct 15, 2026
Olahraga

Radja Nainggolan: Penyesalan Sang Gelandang Belgia Tak Bela Garuda

Nama Radja Nainggolan kembali menghangat di jagat sepak bola nasional. Gelandang bertahan kelahiran Antwerpen, Belgia, 4 Mei 1988 itu baru-baru ini mengungkapkan penyesalan mendalam karena tidak perna...

Radja Nainggolan: Penyesalan Sang Gelandang Belgia Tak Bela Garuda

Nama Radja Nainggolan kembali menghangat di jagat sepak bola nasional. Gelandang bertahan kelahiran Antwerpen, Belgia, 4 Mei 1988 itu baru-baru ini mengungkapkan penyesalan mendalam karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjang karier profesionalnya. Pengakuan tersebut sontak menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola Tanah Air.

Radja bukan sembarang pemain. Ia adalah salah satu gelandang box-to-box paling ditakuti di Serie A Italia pada dekade 2010-an. Dengan postur 175 cm dan gaya permainan agresif, ia dikenal sebagai enforcer yang tak segan melakukan tekel keras, merebut bola di lini tengah, sekaligus menjadi motor serangan lewat tendangan jarak jauhnya yang akurat.

Perjalanan Karier: Dari Piacenza hingga Roma

Karier profesional Radja dimulai bersama Piacenza pada 2005. Setelah sempat dipinjamkan ke sejumlah klub kecil, namanya mulai bersinar saat membela Cagliari pada 2010. Bersama klub Sardinia itu, ia mencatatkan lebih dari 130 penampilan dan menjadi idola tifosi lewat gaya permainan tanpa kompromi.

Puncak kariernya terjadi ketika AS Roma merekrutnya pada Januari 2014 dengan nilai transfer sekitar 9 juta euro. Di Stadio Olimpico, Radja menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik Serie A. Ia membukukan lebih dari 150 penampilan bersama Roma, menyumbangkan belasan gol dan assist, serta menjadi bagian dari skuad yang finis runner-up Liga Italia 2014/2015 dan 2016/2017.

Musim 2016/2017 menjadi salah satu periode terbaiknya. Radja mencetak 11 gol di Serie A dan masuk dalam Team of the Season versi sejumlah media Italia. Kemampuannya membaca permainan, penguasaan bola, serta visi passing membuatnya menjadi penghubung antara lini pertahanan dan serangan dengan formasi 4-3-3 andalan Roma kala itu.

Berseragam Belgia dan Keputusan yang Mengejutkan

Di level internasional, Radja membela Timnas Belgia sejak 2009. Ia menjadi bagian dari generasi emas Belgia bersama Eden Hazard, Kevin De Bruyne, dan Romelu Lukaku. Sepanjang kariernya, ia mengoleksi 30 caps dan mencetak 6 gol untuk Rode Duivels.

Namun, hubungan Radja dengan federasi sepak bola Belgia (KBVB) kerap naik-turun. Pelatih Roberto Martinez sempat mencoretnya dari skuad Piala Dunia 2018 dengan alasan taktik. Keputusan itu menuai kontroversi besar, mengingat kontribusi dan reputasinya di level klub. Momen tersebut diyakini menjadi salah satu titik balik yang membuat Radja menyesali pilihannya membela Belgia.

Sebelumnya, Radja memang pernah menyatakan minat membela Indonesia. Ia beberapa kali berkunjung ke Tanah Air dan mendapat sambutan luar biasa dari penggemar. Sayang, regulasi naturalisasi dan proses administratif saat itu tidak memungkinkan. Ia akhirnya memilih Belgia karena jalur karier internasionalnya lebih terbuka.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Kini, ketika kariernya mulai memasuki masa senja - ia sempat bermain untuk Bhayangkara FC pada 2021 dan kemudian berkarier di Belgia - Radja mengaku menyesal tidak bisa mengenakan seragam Merah Putih. "Saya mencintai Indonesia, dan itu adalah salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya," ujarnya dalam sebuah wawancara.

Pernyataan itu tentu menjadi refleksi bagi sepak bola Indonesia. Dengan darah keturunan Batak dari ayahnya, Radja memiliki ikatan emosional yang kuat. Bayangkan jika seorang gelandang bertahan sekaliber dia, dengan pengalaman bertarung melawan Andrea Pirlo, Arturo Vidal, dan Kevin Strootman di Serie A, memperkuat lini tengah Garuda pada era 2010-an. Kombinasi penguasaan bola dan ketangguhan fisiknya bisa menjadi tembok kokoh di depan lini pertahanan.

Meski demikian, warisan Radja tetap hidup. Ia menjadi simbol pemain diaspora yang membuktikan darah Indonesia mampu bersaing di level elite Eropa. Pengalamannya membela AS Roma selama lima musim, dengan rasio tekel sukses di atas 60 persen di beberapa musim terbaiknya, adalah bukti kelasnya.

Bagi para penggemar Garuda, kisah Radja adalah pengingat pahit sekaligus pelajaran berharga. Penyesalan itu kini hanya bisa dikenang melalui cuplikan aksi brutalnya di Serie A - kapten gelandang yang tak pernah mengenakan Merah Putih, tetapi selalu menyimpan Indonesia di hatinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User