Oct 13, 2026
Olahraga

Radja Nainggolan Akui Tak Pernah Lirik Timnas Indonesia

Jakarta — Nama Radja Nainggolan selama bertahun-tahun menjadi salah satu nama yang paling sering disebut dalam diskusi soal pemain keturunan yang bisa memperkuat Timnas Indonesia. Namun, mantan peng...

Radja Nainggolan Akui Tak Pernah Lirik Timnas Indonesia

Jakarta — Nama Radja Nainggolan selama bertahun-tahun menjadi salah satu nama yang paling sering disebut dalam diskusi soal pemain keturunan yang bisa memperkuat Timnas Indonesia. Namun, mantan penggawa AS Roma itu akhirnya membuka kartu. Ia mengaku sama sekali tidak pernah mempertimbangkan membela Garuda ketika harus menentukan pilihan karier internasionalnya di awal karier.

Keputusan itu bukan lahir dari penolakan terhadap darah Indonesia yang mengalir dalam dirinya. Radja, yang lahir di Antwerpen, Belgia, dari ayah asal Batang, Jawa Tengah, mengaku tidak pernah punya gambaran tentang sepak bola Indonesia saat dirinya mulai menembus level profesional di Eropa. Komunikasi dengan federasi maupun pelatih Timnas Indonesia tidak pernah terjalin, sehingga opsi membela Merah Putih praktis tidak pernah masuk dalam radarnya.

Pemain yang akrab disapa Radja itu memilih jalur yang lebih terang dan terukur: menembus skuad Belgia. Pilihannya kemudian terbukti membuahkan hasil. Ia mencatatkan lebih dari 30 penampilan bersama Rode Duivels, termasuk tampil di putaran final Piala Dunia 2018 dan Piala Eropa 2016.

Jejak Statistik di Level Klub dan Negara

Sebagai gelandang bertipe box-to-box, Radja dikenal punya karakter permainan keras, motorik tinggi, dan tendangan jarak jauh yang mematikan. Selama membela Roma pada periode 2014-2018, ia menjadi salah satu gelandang paling produktif di Serie A. Puncaknya terjadi pada musim 2016/2017, ketika ia mengemas 11 gol dan 9 assist dari 37 penampilan di semua kompetisi, sebuah angka yang terbilang luar biasa untuk seorang gelandang.

Bersama Timnas Belgia, pria kelahiran 4 Mei 1988 itu mencatat 30 caps dan menyumbang 6 gol. Ia turut menjadi bagian dari skuad Belgia yang finis di posisi ketiga Piala Dunia 2018 di Rusia, meski menit bermainnya terbatas. Statistik penguasaan bola dan duel lini tengah Belgia sempat sangat bergantung pada sosoknya di beberapa laga kualifikasi.

Di level klub, ia juga pernah membela Cagliari, Piacenza, dan terakhir berkostum Bhayangkara FC di Liga 1 Indonesia pada 2023. Momen itu justru menjadi semacam penebusan sekaligus pembuktian bahwa ia masih menyimpan keterikatan emosional dengan Indonesia, meski tidak dalam konteks tim nasional.

Mengapa Opsi Indonesia Tidak Pernah Muncul?

Radja mengungkapkan bahwa dirinya tumbuh besar dalam ekosistem sepak bola Belgia. Sejak kecil, ia menimba ilmu di akademi Germinal Beerschot, lalu menembus tim utama Piacenza di Italia. Lingkungan itulah yang membentuk cara pandangnya tentang karier internasional.

Ketiadaan komunikasi dari pihak federasi Indonesia menjadi salah satu faktor kunci. Berbeda dengan beberapa pemain keturunan lain yang mendapat pendekatan intensif sejak usia muda, Radja tidak pernah menerima tawaran resmi maupun penjelasan soal jalur naturalisasi. Tanpa informasi yang cukup, ia pun mengambil keputusan yang paling logis bagi perkembangan kariernya saat itu.

“Saya tidak kenal Timnas Indonesia,” ujar Radja dalam salah satu wawancara, mengonfirmasi bahwa pilihannya lebih karena keterbatasan pengetahuan ketimbang penolakan.

Pernyataan itu sekaligus menepis anggapan bahwa Radja sengaja menutup pintu bagi Indonesia. Ia menegaskan, jika saja ada pendekatan di waktu yang tepat, dinamika kariernya bisa saja berbeda.

Pelajaran untuk Pengelolaan Pemain Diaspora

Kasus Radja menjadi cermin bagi pengelolaan pemain diaspora Indonesia ke depan. Federasi dituntut lebih agresif memetakan pemain keturunan yang berpotensi memperkuat Timnas, terutama mereka yang menembus kompetisi Eropa sejak usia dini. Pendekatan personal, penjelasan proyek jangka panjang, hingga komunikasi rutin menjadi kunci agar talenta seperti Radja tidak lepas begitu saja.

Belakangan, gelombang naturalisasi pemain keturunan seperti Jordi Amat, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, hingga Rafael Struick menunjukkan arah baru. PSSI kini lebih terstruktur dalam memburu pemain diaspora, meski tentu tidak semua target berhasil dibujuk. Radja hanyalah satu dari sekian nama yang mungkin terlewat, tetapi ceritanya menjadi bahan evaluasi berharga.

Di sisi lain, keputusan Radja membela Belgia tidak bisa disebut salah. Ia menikmati karier internasional yang solid, tampil di turnamen-turnamen besar, dan menjadi bagian dari generasi emas Rode Duivels bersama Eden Hazard, Kevin De Bruyne, dan Romelu Lukaku. Statistik 6 gol dari 30 caps untuk seorang gelandang bertahan adalah catatan yang lebih dari layak.

Kini, ketika Liga 1 sempat merasakan sentuhan Radja bersama Bhayangkara FC, pertanyaan soal Timnas Indonesia mungkin tinggal menjadi wacana. Yang tersisa adalah refleksi: bagaimana sepak bola Indonesia memastikan pemain seperti Radja tidak lagi merasa “tidak kenal” dengan negaranya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User