Pemprov Sumut Siapkan Puskesmas Mandrehe Rawat Inap 2026

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memastikan rencana peningkatan status Puskesmas Mandrehe di Kabupaten Nias Barat menjadi puskesmas rawat

Pemprov Sumut Siapkan Puskesmas Mandrehe Rawat Inap 2026

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memastikan rencana peningkatan status Puskesmas Mandrehe di Kabupaten Nias Barat menjadi puskesmas rawat inap pada tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas akses layanan kesehatan berkualitas di wilayah kepulauan terluar Sumut.

Kronologi dan Latar Belakang Rencana

Pembahasan awal proyek ini dimulai pada semester kedua 2024. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, dr. Alwi Sagala, dalam rapat koordinasi di Medan pada 15 Januari 2025, menyebutkan bahwa Puskesmas Mandrehe saat ini hanya melayani rawat jalan dan persalinan sederhana. Penduduk Nias Barat yang membutuhkan perawatan intensif harus dirujuk ke RSUD Gunungsitoli atau bahkan ke rumah sakit di Medan, menempuh perjalanan laut hingga 12 jam.

“Kami menerima banyak aspirasi dari masyarakat Nias Barat. Keterbatasan fasilitas rawat inap membuat banyak pasien kritis tidak tertangani tepat waktu. Ini menjadi prioritas kami,” ujar dr. Alwi dalam wawancara eksklusif dengan Beritainti.com.

Proyek ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumut 2025-2029 dengan alokasi anggaran tahap awal sebesar Rp 15,2 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi. Perencanaan detail mulai dikerjakan oleh Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang sejak Maret 2025, termasuk studi kelayakan dan desain bangunan.

Tahapan Pembangunan dan Target

Menurut dokumen yang diperoleh Beritainti.com, ada tiga fase utama yang direncanakan:

  1. Fase Persiapan (April–Agustus 2025): Pembebasan lahan seluas 1,2 hektare di sekitar Puskesmas Mandrehe saat ini, termasuk relokasi 3 keluarga yang tinggal di area perluasan.
  2. Fase Konstruksi (September 2025–November 2026): Pembangunan gedung rawat inap dua lantai dengan kapasitas 40 tempat tidur, ruang operasi minor, laboratorium, dan unit gawat darurat.
  3. Fase Operasional (Desember 2026): Pelatihan tenaga medis dan pengadaan alat kesehatan, ditargetkan puskesmas dapat menerima pasien rawat inap mulai Januari 2027.

Puskesmas Mandrehe akan menjadi puskesmas rawat inap kedua di Kabupaten Nias Barat setelah Puskesmas Sirombu yang sudah beroperasi sejak 2022. Data Dinas Kesehatan Provinsi menunjukkan bahwa pada 2024, tingkat keterisian tempat tidur di Sirombu mencapai 78%, menandakan permintaan yang tinggi.

Analisis Dampak dan Tantangan

Pakar kesehatan publik Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Mariana Lubis, menilai langkah ini strategis namun menghadapi tantangan besar. “Nias Barat adalah daerah dengan angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, sebagian karena keterlambatan penanganan. Puskesmas rawat inap bisa menurunkan angka tersebut secara signifikan, asalkan didukung tenaga dokter spesialis dan pasokan oksigen yang memadai,” paparnya.

Beberapa hambatan yang diidentifikasi meliputi:

  • Keterbatasan akses transportasi ke Mandrehe, terutama saat musim gelombang tinggi (November–Maret).
  • Rendahnya minat tenaga medis untuk bertugas di daerah terpencil meski ada insentif khusus.
  • Potensi pembengkakan biaya akibat fluktuasi harga material bangunan di kepulauan.

Namun, Pemprov Sumut telah menyiapkan skema insentif tambahan berupa rumah dinas dan tunjangan sebesar 50% di atas gaji pokok bagi dokter dan perawat yang bersedia ditempatkan di Mandrehe. Selain itu, kerja sama dengan TNI AL untuk logistik bahan bangunan melalui kapal perintis juga telah dijajaki.

Perbandingan Infrastruktur Kesehatan di Sumut

Berikut gambaran kesenjangan fasilitas rawat inap di beberapa kabupaten:

Kabupaten/ KotaJumlah Puskesmas Rawat InapRasio per 100.000 Penduduk (2024)
Medan184,2
Nias Barat1 (setelah 2026: 2)1,1
Nias Selatan32,5
Rata-rata Provinsi Sumut-3,8

Data menunjukkan bahwa pada 2024, hanya 35% dari total 340 puskesmas di Sumut yang memiliki fasilitas rawat inap. Nias Barat berada di peringkat bawah bersama Nias Utara dan Pakpak Bharat. Dengan tambahan Puskesmas Mandrehe, diharapkan rasio rawat inap di Nias Barat naik menjadi 1,8 per 100.000 penduduk pada 2027.

Respons Masyarakat dan Harapan ke Depan

Tokoh masyarakat Mandrehe, Bapak Yulius Harefa, menyambut baik rencana tersebut. “Warga selama ini harus ke Sirombu yang jaraknya 60 km. Jika hujan, jalan rusak dan butuh waktu 3 jam. Puskesmas rawat inap di sini akan menyelamatkan banyak nyawa,” katanya saat dihubungi via telepon.

Pemprov Sumut berkomitmen untuk memonitor progres setiap triwulan. Gubernur Sumut, Bobby Nasution, dalam sambutan di acara Forum OPD Kesehatan (10 Januari 2025) menegaskan bahwa proyek ini tidak boleh molor. “Kita kejar agar 2026 selesai. Jangan sampai ada lagi ibu melahirkan di pinggir jalan karena fasilitas tidak siap,” tegasnya.

Kendati masih panjang, rencana peningkatan Puskesmas Mandrehe menjadi langkah konkret mengurangi disparitas kesehatan antara Pulau Sumatera bagian timur dan barat. Keberhasilan proyek ini akan menjadi model bagi pengembangan puskesmas rawat inap di daerah tertinggal lainnya di Sumut.

[SOCIAL_TWEET]: Pemprov Sumut siapkan Puskesmas Mandrehe jadi rawat inap pada 2026. Anggaran Rp15,2 miliar untuk 40 tempat tidur. Ini langkah penting mengurangi kesenjangan kesehatan di Nias Barat. #Kesehatan #Sumut #NiasBarat[SOCIAL_TG]: 🏥 BREAKING: Puskesmas Mandrehe di Nias Barat siap jadi rawat inap 2026. Anggaran Rp15,2M, target kurangi angka kematian ibu dan bayi. #Puskesmas #Sumut

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User