Jurnalis Indonesia Bagikan Pengalaman Liput Piala Dunia 2026
Beritainti.com — Menjadi jurnalis olahraga internasional bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama ketika harus meliput turnamen sebesar Piala Dunia. Bagi aw
Beritainti.com — Menjadi jurnalis olahraga internasional bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama ketika harus meliput turnamen sebesar Piala Dunia. Bagi awak media dari negara-negara yang tidak lolos kualifikasi, seperti Indonesia, tantangan tersendiri muncul: mereka harus meliput perhelatan sepak bola terbesar di dunia dengan hati yang tetap terikat pada tanah air yang hanya bisa menonton dari layar kaca.
Pengalaman ini dibagikan oleh Hery Kurniawan, jurnalis KLY Sports, dalam perbincangan hangat dengan sejumlah wartawan dari berbagai negara. Diskusi tersebut mengungkap sisi humanis di balik layar turnamen akbar yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 2026 mendatang.
Suka Duka Meliput Turnamen Kelas Dunia
Menjadi saksi sejarah pertandingan kelas dunia tentu menjadi impian banyak jurnalis olahraga. Namun, realitas yang dihadapi jauh lebih kompleks daripada sekadar menonton pertandingan bintang dunia seperti Lionel Messi, Kylian Mbappe, hingga Erling Haaland bertanding di lapangan hijau.
Hery Kurniawan menceritakan bahwa menjadi jurnalisme di negara yang tidak lolos kualifikasi memiliki dinamika unik. Di satu sisi, ada kebahagiaan luar biasa bisa hadir langsung di stadion megah dengan atmosfer yang hanya bisa dirasakan secara langsung. Di sisi lain, ada perasaan campur aduk ketika melihat pendukung dari berbagai negara bersorak merayakan gol, sementara suporter tanah air hanya bisa menyaksikan dari jarak ribuan kilometer.
"Kami meliput dengan profesional, tapi jujur ada perasaan aneh. Rasanya seperti merayakan pesta orang lain, meski kami harus mengakui bahwa sepak bola adalah bahasa universal yang menyatukan semua orang," ujar Hery Kurniawan.
Tantangan Logistik dan Bahasa
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan format 48 tim yang tersebar di tiga negara tuan rumah. Kondisi ini menghadirkan tantangan logistik yang luar biasa bagi para jurnalis, termasuk:
- Perjalanan lintas negara — Jurnalis harus berpindah dari satu kota ke kota lain di tiga negara berbeda, dengan perbedaan zona waktu dan budaya yang signifikan.
- Akreditasi ketat — Proses mendapatkan akses media menjadi lebih selektif dengan ribuan jurnalis dari seluruh dunia bersaing untuk mendapatkan slot terbatas.
- Persaingan narasi — Jurnalis dari negara tuan rumah memiliki akses lebih mudah ke pemain dan pelatih, sementara jurnalis dari negara non-peserta harus bekerja lebih keras mencari angle berita.
- Tekanan deadline — Perbedaan zona waktu membuat pelaporan real-time menjadi tantangan tersendiri, terutama saat berinteraksi dengan pembaca di zona waktu berbeda.
Peluang dan Pembelajaran Berharga
Meskipun negaranya tidak berlaga, para jurnalis Indonesia dan negara-negara serupa mendapatkan keuntungan tak ternilai dari pengalaman meliput Piala Dunia. Mereka bisa:
- Memahami standar pelaporan jurnalistik olahraga internasional
- Membangun jaringan dengan rekan-rekan media global
- Merasakan langsung atmosfer turnamen yang bisa menjadi referensi untuk pengembangan sepak bola nasional
- Memperkaya perspektif tentang industri olahraga profesional
Pengalaman ini juga menjadi bekal penting bagi perkembangan jurnalisme olahraga di Indonesia. Dengan semakin majunya industri media dan meningkatnya antusiasme publik terhadap sepak bola internasional, kehadiran jurnalis Indonesia di pentas dunia menjadi semakin relevan.
Harapan untuk Sepak Bola Indonesia
Banyak jurnalis yang berharap bahwa pengalaman meliput Piala Dunia 2026 bisa menjadi motivasi bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Kehadiran di lapangan hijau Piala Dunia masih menjadi mimpi, namun semangat untuk terus membangun fondasi olahraga nasional harus tetap dijaga.
"Kami berharap suatu hari nanti bisa meliput pertandingan timnas Indonesia di Piala Dunia. Tapi untuk saat ini, tugas kami adalah menceritakan kisah sepak bola dunia dengan jujur dan mendalam kepada pembaca di tanah air," tutup Hery.
Dengan berakhirnya diskusi tersebut, satu hal yang jelas: semangat jurnalisme olahraga tidak mengenal batas negara. Para jurnalis dari berbagai penjuru dunia tetap hadir untuk menceritakan kisah sepak bola, membawa pulang pengalaman berharga, dan menjadikannya sebagai bahan bakar untuk terus berkontribusi pada dunia jurnalisme dan olahraga di negara masing-masing.
[SOCIAL_TWEET]: Jurnalis Indonesia berbagi suka duka meliput #PialaDunia2026 meski negaranya tak lolos. Pengalaman unik yang penuh tantangan dan pembelajaran berharga! [SOCIAL_TG]: 🌍⚽ SUKA DUKA JURNALIS LIPUT PIALA DUNIA — Hery Kurniawan dari KLY Sports bercerita tentang pengalaman unik meliput Piala Dunia 2026. Tantangan logistik, perbedaan zona waktu, hingga perasaan campur aduk saat meliput turnamen dari negara yang tak lolos. Baca selengkapnya!
Comments (0)