Messi Sebut Skuad Argentina 'Tidak Normal' di Piala Dunia 2026
Skor akhir 3-2 memastikan Argentina melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Brasil dalam laga semifinal yang berlangsung sengit di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (19/7) dini hari WIB...
Skor akhir 3-2 memastikan Argentina melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Brasil dalam laga semifinal yang berlangsung sengit di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (19/7) dini hari WIB. Namun, perhatian dunia tertuju pada komentar Lionel Messi yang menyebut skuadnya sebagai "tidak normal".
Pertandingan Penuh Gejolak dan Pernyataan Ikonik
Jalannya pertandingan benar-benar mencerminkan sebutan itu. Argentina tertinggal lebih dulu lewat gol Vinicius Junior pada menit ke-12 setelah memanfaatkan blunder kiper Emiliano Martinez. Namun, hanya berselang enam menit, Messi menyamakan kedudukan melalui tendangan bebas melengkung yang tak mampu dijangkau Alisson. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Babak kedua, Argentina kembali dikejutkan oleh gol Rodrygo di menit ke-54, memanfaatkan serangan balik cepat. Tertinggal 1-2, banyak yang menduga langkah Argentina terhenti. Namun di sinilah "ketidaknormalan" itu muncul. Dalam waktu 15 menit, dua gol diciptakan oleh Julian Alvarez (menit ke-63) dan sundulan Cristian Romero dari sepak pojok (menit ke-78). Argentina berbalik unggul 3-2 dan bertahan hingga akhir meski Brasil terus menekan.
Usai pertandingan, Messi dengan wajah penuh emosi berkata, "Tim ini tidak normal. Kami terus menunjukkan karakter yang sulit dijelaskan. Setelah tertinggal dua kali, kami bangkit dan memenangkan laga. Ini bukan sekadar talenta, ini tentang hati dan keyakinan."
Angka-Angka di Balik Kemenangan Epik
Penguasaan bola Argentina nyaris setara dengan Brasil: 47% berbanding 53%. Namun, efektivitas serangan menjadi pembeda. Dari 8 tembakan tepat sasaran, Argentina mencetak 3 gol, sementara Brasil hanya 4 tembakan tepat sasaran dari 14 percobaan dan menghasilkan 2 gol. Statistik assist juga menarik: Messi memberikan assist untuk gol Alvarez, menambah koleksi assist-nya di turnamen ini menjadi 5, mendekati rekor pribadinya. Total, Messi telah terlibat dalam 8 gol (3 gol, 5 assist) sepanjang Piala Dunia 2026, angka yang menegaskan konsistensinya di usia 39 tahun.
Formasi 4-3-3 yang diusung pelatih Lionel Scaloni terbukti fleksibel. Starting XI Argentina menampilkan kejutan dengan memasukkan Enzo Fernandez sebagai gelandang bertahan murni. Meski Brasil memenangi duel udara (18 berbanding 11), Argentina lebih tajam dalam transisi. Offside beberapa kali menyelamatkan pertahanan Argentina—Vinicius terjebak offside tiga kali di babak kedua. Sementara itu, penggunaan VAR mengonfirmasi gol kedua Brasil sempat dipertanyakan posisi Rodrygo sebelum menerima bola, namun dinyatakan sah.
Mentalitas yang Sulit Dijelaskan Akal
Ungkapan Messi soal "tidak normal" bukanlah hiperbola. Tim ini menunjukkan tren comeback yang luar biasa sepanjang turnamen. Di fase grup, mereka bangkit dari ketinggalan melawan Meksiko (menang 2-1) dan menahan imbang Portugal setelah tertinggal 0-2. Di perempat final, Argentina menyingkirkan Spanyol lewat adu penalti setelah skor 2-2 di waktu normal—kembali bangkit dari ketinggalan.
Data kualitatif dari Opta mencatat Argentina menjadi tim dengan rasio kemenangan setelah tertinggal lebih dulu tertinggi dalam sejarah Piala Dunia: 75% pertandingan di mana mereka kebobolan lebih dulu berakhir dengan kemenangan atau lolos. Mentalitas ini dibangun bukan dalam semalam. Messi mengingatkan, "Kami sudah melalui banyak momen sulit bersama, sejak Copa America 2021, Finalissima, dan Piala Dunia 2022. Rasa percaya itu menular ke pemain muda. Julian (Alvarez), Enzo, mereka semua punya api itu."
Jalan Menuju Final dan Potensi Sejarah
Dengan tiket final di tangan, Argentina menatap laga puncak melawan pemenang antara Prancis dan Inggris. Jika berhasil juara, Argentina akan menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar Piala Dunia sejak Brasil pada 1958-1962. Sekaligus, Messi berpeluang menambah legacinya sebagai satu-satunya pemain dengan dua gelar Piala Dunia di era modern.
Tetapi di balik itu semua, pujian Messi pada "ketidaknormalan" timnya menjadi cerminan betapa spesialnya generasi ini. Mereka bukan hanya kumpulan pemain bintang, melainkan unit yang percaya pada keajaiban dan kerja keras. "Kami tahu ini tidak normal, tapi kami menikmatinya. Semoga keajaiban masih berlanjut," tutup Messi dengan senyuman khasnya.
Dengan statistik dan narasi yang terbangun, Argentina kini bukan sekadar tim kuat—mereka adalah fenomena. Dan Lionel Messi, sang kapten, telah menyampaikannya dengan kata yang tepat: tidak normal.
Baca juga:
Comments (0)