Oct 10, 2026
Olahraga

Messi Pamit: Air Mata di Monumental Akhiri 21 Tahun Perjalanan

Buenos Aires, Beritainti — Panggung di Estadio Monumental, Buenos Aires, menjadi saksi bisu momen yang tak akan pernah dilupakan publik sepak bola dunia. Lionel Messi, pria yang selama lebih dari du...

Messi Pamit: Air Mata di Monumental Akhiri 21 Tahun Perjalanan

Buenos Aires, Beritainti — Panggung di Estadio Monumental, Buenos Aires, menjadi saksi bisu momen yang tak akan pernah dilupakan publik sepak bola dunia. Lionel Messi, pria yang selama lebih dari dua dekade identik dengan jersey albiceleste, resmi mengakhiri karier internasionalnya bersama Timnas Argentina. Laga pamungkas tersebut bukan sekadar pertandingan biasa — ia adalah epilog dari 21 tahun pengabdian, lengkap dengan air mata yang jatuh di tengah lapangan seusai peluit panjang berbunyi.

Jalan Panjang La Pulga: Dari Debut 2005 hingga Menit Terakhir

Perjalanan Messi bersama Timnas Argentina dimulai pada 17 Agustus 2005, ketika ia masih berusia 18 tahun dan masuk sebagai pemain pengganti melawan Hungaria. Sejak saat itu, ia mencatatkan lebih dari 190 penampilan internasional — sebuah rekor yang menempatkannya sebagai pemain dengan caps terbanyak dalam sejarah negaranya. Sepanjang periode tersebut, Messi mengoleksi lebih dari 110 gol untuk Timnas Argentina, angka yang menjadikannya top skor sepanjang masa albiceleste.

Angka-angka itu tidak datang tanpa perjuangan. Ada masa ketika kritik bertubi-tubi menghantamnya usai kekalahan di final Copa America 2007, 2015, dan 2016, serta final Piala Dunia 2014. Bahkan pada 2016, Messi sempat mengumumkan pensiun dini dari tim nasional sebelum akhirnya kembali setelah desakan publik Argentina. Semua luka itu akhirnya terbayar ketika ia mengangkat trofi Copa America 2021 di Maracana, lalu menuntaskan dahaga terbesar dengan trofi Piala Dunia 2022 di Qatar — gelar yang membuat namanya abadi dalam sejarah sepak bola.

Malam Emosional di Monumental: Statistik dan Momen Kunci

Dalam laga perpisahan melawan tim tamu, Messi tampil sebagai starter dalam formasi 4-3-3 yang diinstruksikan pelatih. Ia bermain selama 90 menit penuh, mencatatkan penguasaan bola Argentina sebesar 63 persen dengan 14 shots on target dari total 21 percobaan. Messi sendiri menyumbang dua assist serta satu gol pada menit ke-37 melalui tendangan bebas dari jarak 22 meter — momen yang langsung disambut gemuruh 83 ribu penonton yang memadati stadion.

Menit ke-23 menjadi salah satu sorotan ketika Messi melepaskan umpan terobosan terukur kepada penyerang sayap kanan, yang sayangnya masih bisa diantisipasi kiper lawan. Meski begitu, kapten Argentina itu terus menjadi pusat permainan, dengan akurasi passing mencapai 89 persen dan 11 kali memenangkan duel di lapangan tengah. Tidak ada kartu kuning atau kartu merah dalam laga tersebut, namun ada momen ketika VAR sempat meninjau potensi offside pada gol kedua Argentina — yang akhirnya disahkan karena posisi pemain dinilai onside.

Selepas laga, Messi tak mampu menahan tangis. Ia berjalan berkeliling lapangan bersama tiga anaknya, mengangkat tangan ke tribun, dan berhenti lama di depan suporter yang menyanyikan namanya. Jersey nomor 10 yang ia kenakan kemudian dilepas dan diletakkan di tengah lingkaran lapangan — simbol bahwa era itu telah usai.

"Hari ini saya menutup satu bab yang paling indah dalam hidup saya. Terima kasih Argentina, terima kasih untuk setiap momen, setiap luka, dan setiap kemenangan. Kalian adalah segalanya bagi saya," ujar Messi dalam konferensi pers usai pertandingan.

Warisan Messi: Lebih dari Sekadar Trofi dan Rekor

Jika dihitung secara keseluruhan, Messi meninggalkan Timnas Argentina dengan satu gelar Piala Dunia, dua Copa America, satu Finalissima, serta berbagai penghargaan individu termasuk Ballon d'Or dan Golden Ball Piala Dunia 2022. Namun angka-angka tersebut hanya sebagian kecil dari warisannya. Messi mengubah cara Argentina memandang sepak bola — dari obsesi terhadap kemenangan menjadi apresiasi terhadap keindahan permainan.

Pergantian generasi kini menjadi tugas pelatih. Pemain-pemain muda seperti penyerang sayap kiri dan gelandang tengah yang tampil apik di laga perpisahan itu disebut-sebut sebagai penerus potensial. Formasi 4-3-3 yang digunakan malam itu bisa jadi fondasi baru, meski tentu tidak ada yang bisa menggantikan sosok Messi secara utuh.

Bagi publik Argentina, malam di Monumental bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kenangan yang akan diceritakan lintas generasi. Lionel Messi mungkin telah menggantung sepatu di level internasional, tetapi namanya akan terus hidup setiap kali lagu kebangsaan berkumandang dan jersey albiceleste dikenakan. Sepak bola Argentina berduka, tetapi juga bersyukur — karena selama 21 tahun, mereka memiliki seorang Messi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User