Merah Membara di Ambon: La Roja ke Final

Dini hari tadi, Selat Ambon berubah menjadi lautan manusia berpakaian merah. Ribuan warga tumpah ruah ke jalan-jalan utama kota, bukan karena bencana melainkan karena euforia. Spanyol baru saja menakl...

Merah Membara di Ambon: La Roja ke Final

Dini hari tadi, Selat Ambon berubah menjadi lautan manusia berpakaian merah. Ribuan warga tumpah ruah ke jalan-jalan utama kota, bukan karena bencana melainkan karena euforia. Spanyol baru saja menaklukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 dan mengamankan satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026. Klakson bersahutan, kibaran bendera berpola banteng dan garis vertikal kuning-merah mendominasi setiap sudut jalan.

Gol-Gol yang Meledakkan Kota

Kemenangan itu sendiri hadir lewat skema yang nyaris sempurna dari anak asuh Luis de la Fuente. Menit ke-34, umpan terobosan dari lini tengah berhasil dituntaskan menjadi gol pembuka oleh sang kapten. Ribuan pasang mata di Ambon yang menempel di layar proyektor dan televisi sontak melompat bersamaan. Getarannya terasa hingga ke kedai-kedai kopi di tepi pelabuhan. Belum reda teriakan histeris, tim Matador kembali menambah pundi-pundi gol di babak kedua. Sebuah kerjasama apik di sektor kiri pertahanan Les Bleus diakhiri dengan tembakan melengkung yang tak mampu dihentikan kiper. Skor 2-0 bertahan hingga peluit panjang berbunyi, memastikan Prancis yang digadang-gadang sebagai unggulan harus pulang dengan kepala tertunduk.

Dari Layar Lebar ke Aspal Jalanan

Menariknya, gelombang perayaan ini tidak muncul tiba-tiba. Sejak pukul 01.00 WIT, titik-titik nobar di Kecamatan Sirimau dan Nusaniwe sudah dipadati pemuda. Begitu wasit meniup peluit akhir pukul 03.45 WIT, massa langsung bergerak. Iring-iringan sepeda motor dan mobil terbuka membelah Jalan A.Y. Patty menuju pusat kota. Yang unik, konvoi ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Anak-anak kecil duduk di pundak ayah mereka, para ibu tak ketinggalan mengibarkan bendera dari atas bemper mobil pick-up. Tidak ada atribut resmi klub sepak bola lokal; malam itu, identitas mereka melebur menjadi satu: penggemar berat Spanyol.

Fenomena 'La Roja' di Timur Indonesia

Lalu, mengapa Ambon begitu masif mendukung Spanyol? Jauh sebelum turnamen ini dimulai, akar simpati terhadap permainan operan pendek khas Negeri Matador memang sudah kuat di Maluku. Gaya permainan yang mengandalkan teknik tinggi dan dominasi penguasaan bola dianggap lebih memikat dibandingkan sepakbola fisik ala Eropa Utara. Dominasi penguasaan bola yang mencapai 62 persen serta 7 dari 12 tembakan tepat sasaran yang diperagakan melawan Prancis menjadi justifikasi taktis mengapa mereka begitu dicintai. Warisan kejayaan era Xavi-Iniesta seolah menemukan reinkarnasinya di generasi muda saat ini, dan warga Ambon merayakan kebangkitan itu sepenuh hati.

Faktor historis dan minimnya rivalitas lokal juga berperan. Tidak adanya wakil Asia Tenggara di putaran final membuat dukungan mengalir bebas ke negara dengan sepakbola teknik tinggi. Spanyol, dengan identitas merah membara, menjadi pilihan sentimental yang kini diwariskan turun-temurun. Bahkan, beberapa komunitas supporter di Ambon telah memiliki struktur organisasi sendiri, lengkap dengan jadwal nonton bareng yang rutin digelar di tapal batas kota.

Saat fajar mulai menyingsing di atas Teluk Ambon, euforia perlahan mereda. Namun satu hal yang pasti: jalanan sudah merekam pesan bahwa untuk satu malam, Ambon adalah bagian dari Spanyol. Kini pandangan tertuju ke laga puncak. Satu langkah lagi menuju bintang. Dan jika itu terjadi, bukan tidak mungkin kota ini akan kembali bergemuruh, lebih keras dari sebelumnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User