Oct 24, 2026
Olahraga

Lima Pelatih Mahal Gagal Bawa Tim Lolos Fase Gugur Piala Dunia

DOHA — Piala Dunia 2022 menyisakan cerita pahit bagi sejumlah pelatih bertarif mahal. Dari 32 kontestan yang tampil di Qatar, tidak semua juru taktik berlabel bintang mampu mengantar timnya menembus...

Lima Pelatih Mahal Gagal Bawa Tim Lolos Fase Gugur Piala Dunia

DOHA — Piala Dunia 2022 menyisakan cerita pahit bagi sejumlah pelatih bertarif mahal. Dari 32 kontestan yang tampil di Qatar, tidak semua juru taktik berlabel bintang mampu mengantar timnya menembus babak 16 besar. Ironi terbesar menimpa Timnas Jerman bersama Hansi Flick, yang harus puas finis di peringkat ketiga klasemen Grup E.

Menutup matchday ketiga, Der Panzer mengantongi 4 poin dari tiga pertandingan, hasil dari satu kemenangan, satu imbang, dan satu kekalahan. Hasil itu membuat mereka tersingkir dengan catatan yang mirip dengan kegagalan di edisi 2018. Padahal, status Flick sebagai salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di turnamen itu seharusnya menjadi jaminan kualitas, bukan justru beban.

Jerman: Penguasaan Bola Tinggi, Efektivitas Rendah

Menit ke-10 saat melawan Jepang, Jerman sudah unggul lewat titik penalti. Statistik penguasaan bola mereka di laga itu menyentuh angka 74 persen dengan total 25 tembakan, tetapi hanya 5 yang mengarah ke gawang alias shots on target. Sialnya, Jepang yang bertahan dalam blok rendah justru mencetak dua gol lewat serangan balik cepat dan menang 2-1. Pola serupa terulang saat menghadapi Spanyol yang berakhir 1-1.

Di laga pamungkas, formasi 4-2-3-1 yang diusung Flick kembali mendominasi penguasaan bola hingga 68 persen. Tapi gol Kosta Rika lebih dulu tercipta dari situasi bola mati, sebelum Jerman membalikkan keadaan menjadi 4-2. Kemenangan itu jadi tidak berarti karena Jepang mengalahkan Spanyol di laga paralel. Untuk kedua kalinya secara beruntun, Jerman tersingkir di babak penyisihan.

"Kami menciptakan cukup peluang, tetapi tidak cukup klinis. Ini tanggung jawab saya sebagai pelatih," kata Flick dalam sesi jumpa pers usai laga, dikutip dari keterangan federasi.

Deretan Nama Mahal yang Ikut Pulang Cepat

Kegagalan Flick bukan cerita tunggal. Sejumlah pelatih lain dengan kontrak bernilai fantastis juga harus angkat koper lebih awal. Ada yang tersingkir karena kalah selisih gol, ada pula yang gagal memenangi laga krusial meski di atas kertas lebih diunggulkan. Data menunjukkan, rata-rata tim yang gagal lolos dalam kategori ini menguasai bola minimal 55 persen per laga, tetapi memiliki rasio konversi di bawah 10 persen.

Menariknya, para pelatih mahal itu umumnya bertahan dengan starting XI yang sama sepanjang tiga pertandingan. Rotasi minim, kartu kuning menumpuk, dan transisi defensif yang lambat menjadi resep kegagalan. Itu pula yang membuat lini belakang mereka rentan diterobos lewat serangan balik, terutama pada 15 menit terakhir setiap babak.

Pelajaran dari Qatar: Gaji Tinggi Bukan Jaminan

Turnamen di Qatar kembali membuktikan bahwa nilai kontrak seorang pelatih tidak berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Tim dengan skema kompak dan efisien justru lebih sering melaju, seperti yang ditunjukkan Jepang, Korea Selatan, dan Maroko. Sementara tim-tim bertabur bintang yang mengandalkan individualitas dan penguasaan bola tanpa penetrasi harus menelan pil pahit di fase grup.

Sejumlah pengamat menilai perombakan skuad menjadi keniscayaan bagi Jerman dan tim-tim senasib. Regenerasi di lini belakang, perubahan pendekatan taktis, hingga keberanian meninggalkan formasi favorit disebut sebagai langkah wajib menyambut kualifikasi berikutnya.

Bagi Flick, hasil di Qatar menjadi evaluasi besar. Kontraknya masih berjalan dengan bayaran sekitar 5 juta pound sterling atau setara Rp94 miliar per tahun, angka yang menempatkannya di jajaran elite. Namun sepak bola tidak memberi ruang bagi reputasi semata. Statistik tetap menjadi hakim paling jujur: penguasaan bola tidak pernah mencetak gol, hanya penyelesaian akhir yang menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang pulang lebih cepat dari pesta sepak bola empat tahunan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User