Oct 23, 2026
Olahraga

Lima Pelatih Bergaji Fantastis yang Tersingkir di Fase Grup Piala Dunia 2022

Piala Dunia 2022 di Qatar meninggalkan cerita pahit bagi sejumlah pelatih berlabel bintang. Skor akhir babak penyisihan Grup E menempatkan Timnas Jerman di peringkat ketiga dengan koleksi empat poin, ...

Lima Pelatih Bergaji Fantastis yang Tersingkir di Fase Grup Piala Dunia 2022

Piala Dunia 2022 di Qatar meninggalkan cerita pahit bagi sejumlah pelatih berlabel bintang. Skor akhir babak penyisihan Grup E menempatkan Timnas Jerman di peringkat ketiga dengan koleksi empat poin, hasil dari satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan. Catatan itu memastikan Der Panzer gagal melaju ke fase gugur untuk edisi kedua berturut-turut, sebuah cap buruk bagi negara dengan empat gelar juara dunia.

Di balik kegagalan tersebut, sorotan tajam mengarah ke bangku kepelatihan. Hansi Flick, arsitek yang membawa Bayern Muenchen meraih sextuple pada 2020, disebut sebagai salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di turnamen. Laporan menyebut angka 5 juta pound sterling atau setara Rp94 miliar per tahun masuk ke kantongnya sebagai nakhoda Timnas Jerman. Investasi besar itu tidak berbuah tiket ke babak 16 besar.

Kegagalan Jerman: Dominasi Penguasaan Bola Tanpa Penyelesaian

Menilik statistik pertandingan, Jerman sebenarnya tampil dominan di atas kertas. Pada laga pembuka melawan Jepang, pasukan Flick mencatatkan penguasaan bola mencapai 74 persen dengan 26 tembakan, namun hanya delapan yang mengarah ke gawang alias shots on target. Menit ke-33, Ilkay Guendogan membuka keunggulan lewat eksekusi penalti. Setelah itu, dua gol balasan Jepang di menit ke-75 dan menit ke-83 lewat Ritsu Doan dan Takuma Asano membalikkan keadaan menjadi 1-2.

Formasi 4-2-3-1 yang diusung Flick menempatkan Joshua Kimmich dan Guendogan sebagai double pivot, sementara Jamal Musiala diberi kebebasan bergerak di lini tengah serang. Starting XI itu terlihat solid secara teknis, tetapi rapuh dalam transisi bertahan. Dua kartu kuning yang diterima Antonio Ruediger dan Thilo Kehrer menandakan hilangnya disiplin di momen krusial.

Pada matchday kedua melawan Spanyol, Jerman kembali tertinggal lebih dulu sebelum Niclas Fuellkrug menyelamatkan satu poin di menit ke-83. Hasil imbang 1-1 itu membuat peluang ke fase gugur bergantung pada laga terakhir. Sayangnya, kemenangan 4-2 atas Kosta Rika tidak cukup karena Jepang secara mengejutkan menumbangkan Spanyol 2-1. Selisih gol menjadi pembeda yang mematikan.

Daftar Pelatih Bergaji Selangit yang Pulang Cepat

Flick bukan satu-satunya nama besar yang harus menelan pil pahit. Sejumlah pelatih dengan kontrak bernilai tinggi turut mengemas koper lebih awal dari Qatar.

Pertama, Luis Enrique. Pelatih Spanyol ini dikenal sebagai salah satu juru taktik dengan kompensasi besar. La Roja sempat tampil menjanjikan dengan kemenangan 7-0 atas Kosta Rika, namun tumbang 1-2 dari Jepang dan kalah adu penalti dari Maroko di babak 16 besar. Penguasaan bola tinggi tanpa ketajaman menjadi kritik utama.

Kedua, Hansi Flick. Seperti dibahas di atas, kegagalan di fase grup membuat posisinya dipertanyakan publik Jerman. Statistik menunjukkan Der Panzer hanya mencatatkan rata-rata 1,33 poin per laga sepanjang turnamen.

Ketiga, Carlos Queiroz. Meski dikenal sebagai pelatih berdedikasi, Iran yang dibesut Queiroz tersingkir di fase grup dengan hanya tiga poin dari tiga pertandingan. Kekalahan 2-6 dari Inggris dan 0-1 dari Amerika Serikat menutup jalan mereka.

Keempat, Gerardo Martino. Pelatih Meksiko ini disebut menerima bayaran tinggi, namun El Tri finis ketiga di Grup C. Kemenangan dramatis 2-1 atas Arab Saudi di laga terakhir tidak cukup karena kalah selisih gol dari Polandia.

Kelima, Roberto Martinez. Belgia yang menempati peringkat kedua ranking FIFA harus puas finis ketiga di Grup F. Generasi emas De Bruyne dan kawan-kawan gagal mencetak gol dalam dua laga terakhir, termasuk hasil imbang 0-0 melawan Kroasia.

Analisis Taktik: Mahalnya Sebuah Proyek Jangka Panjang

Data menunjukkan tren menarik. Rata-rata pelatih bergaji tinggi ini mencatatkan penguasaan bola di atas 55 persen, tetapi rasio konversi tembakan menjadi gol tergolong rendah. Jerman, misalnya, mencatatkan total 67 tembakan sepanjang tiga laga dengan hanya lima gol. Efisiensi menjadi masalah utama.

Faktor lain adalah adaptasi terhadap tekanan turnamen singkat. Format tiga laga penyisihan tidak memberi ruang eksperimen. Ketika hasil imbang atau kekalahan terjadi di laga pertama, tekanan psikologis meningkat pesat dan sering memengaruhi keputusan taktis di pertandingan berikutnya.

Aspek VAR dan offside juga berperan. Beberapa keputusan garis offside yang tipis, seperti yang terjadi pada laga Jepang melawan Spanyol, mengubah peta kualifikasi secara drastis. Dalam sepak bola modern, margin antara sukses dan gagal sering hanya beberapa sentimeter.

"Kami memiliki peluang, kami mengontrol pertandingan, tetapi sepak bola memberi keputusan berdasarkan gol, bukan penguasaan bola," ujar Hansi Flick dalam konferensi pers usai laga melawan Kosta Rika, dikutip dari pernyataan resminya kepada media.

Konsekuensi Finansial dan Reputasi

Kegagalan di Piala Dunia berdampak langsung pada masa depan kontrak. Federasi Sepak Bola Jerman sempat melakukan evaluasi menyeluruh sebelum akhirnya memutuskan kelanjutan kerja sama. Biaya kompensasi pelatih menjadi pertimbangan tersendiri, terutama ketika nilai kontrak mencapai angka fantastis.

Untuk pelatih seperti Martinez dan Luis Enrique, turnamen ini menandai akhir siklus. Martinez meninggalkan Belgia, sementara Luis Enrique digantikan Luis de la Fuente di Spanyol. Queiroz juga mengakhiri periode keduanya bersama Iran.

Pelajaran yang bisa dipetik jelas: gaji tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan prestasi. Piala Dunia tetap menjadi panggung di mana detail kecil, ketajaman penyelesaian, dan mentalitas bertanding menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang pulang lebih cepat. Clean sheet dan efisiensi gol ternyata masih menjadi mata uang paling berharga di sepak bola internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User