Lima Babak Panas Rivalitas Inggris dan Argentina di Piala Dunia
Semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina bukanlah sekadar perebutan tiket final. Pertemuan ini ibarat menyalakan kembali sumbu rivalitas yang telah menyala sejak enam dekade silam, dibu...
Semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina bukanlah sekadar perebutan tiket final. Pertemuan ini ibarat menyalakan kembali sumbu rivalitas yang telah menyala sejak enam dekade silam, dibumbui kontroversi, kejeniusan individu, dan drama yang hanya bisa ditulis oleh tangan-tangan takdir sepak bola. Sebelum menyaksikan kelanjutan epik ini, mari kita menelusuri kembali lima bentrokan paling bersejarah yang mendefinisikan permusuhan abadi kedua raksasa.
1962: Peluit Pertama Perang Dingin di Viña del Mar
Skor akhir 3-1 untuk Inggris pada laga fase Grup 4 di Estadio Sausalito mungkin tampak sederhana, tetapi statistik menyimpan cerita berbeda. Argentina sejatinya unggul penguasaan bola dengan 54% dan melepaskan 6 tembakan tepat sasaran berbanding 4 milik Inggris. Namun, efektivitas The Three Lions di kotak penalti menjadi pembeda. Ron Flowers membuka skor melalui titik putih pada menit ke-17 setelah pelanggaran terhadap Jimmy Greaves. Bobby Charlton menggandakan keunggulan tujuh menit berselang lewat skema serangan balik cepat yang hanya melibatkan tiga sentuhan. Argentina sempat memperkecil kedudukan lewat José Sanfilippo di menit ke-81, tetapi Greaves mengunci kemenangan Inggris sesaat sebelum peluit panjang. Suhu pertandingan memanas sejak menit awal dengan total 28 pelanggaran, menandai dimulainya rivalitas yang tak hanya ditentukan skill, tetapi juga tensi psikologis.
1966: Misteri Kartu Merah Rattin di Kuil Wembley
Perempat final di Wembley menyajikan salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Inggris menang tipis 1-0, tetapi sorotan tertuju pada insiden di menit ke-35. Kapten Argentina, Antonio Rattin, menerima kartu merah dari wasit Rudolf Kreitlein—keputusan yang hingga kini masih diperdebatkan. Rattin menolak meninggalkan lapangan selama enam menit sembari berdebat sengit, memaksa polisi masuk ke area teknis. Statistik mencatat Argentina hanya mencatatkan 2 shots on target dari total 5 percobaan sepanjang laga, sementara Inggris mendominasi dengan 68% penguasaan bola. Gol tunggal Geoff Hurst di menit ke-78—hasil assist dari Martin Peters yang menusuk dari sektor kanan—menjadi pembeda. Pelatih Argentina, Juan Carlos Lorenzo, menyebut laga ini sebagai "perampokan berencana", menambah lapisan benci yang terbawa hingga dekade berikutnya. Formasi 4-2-4 Argentina yang ofensif tak mampu menembus disiplin 4-4-2 racikan Alf Ramsey.
1986: Dua Wajah Maradona di Estadio Azteca
Tak ada pertemuan yang meninggalkan luka lebih dalam selain perempat final 22 Juni 1986. Argentina menang 2-1 lewat dua gol Diego Maradona yang mewakili dualisme sempurna: akal bulus dan keindahan absolut. Gol pertama di menit ke-51 lahir dari umpan lambung Jorge Valdano yang diserobot Maradona dengan tangan kirinya—"Gol Tangan Tuhan"—tanpa terdeteksi wasit Ali Bin Nasser. Statistik proximity menunjukkan Maradona hanya berjarak 1,2 meter dari kiper Peter Shilton saat insiden terjadi. Empat menit berselang, sang legenda menorehkan mahakarya: berlari dari tengah lapangan, melewati lima pemain Inggris (Beardsley, Reid, Butcher, Fenwick, dan Shilton) sebelum menceploskan bola. Gol itu tercatat menempuh 60 meter dalam 10,4 detik dengan 12 sentuhan kaki. Inggris hanya sempat membalas lewat Gary Lineker di menit ke-80 berkat assist Glenn Hoddle. Penguasaan bola Argentina 53% dengan 7 tembakan ke gawang berbanding 3 milik Inggris, namun garis VAR baru terpasang 32 tahun kemudian—terlambat untuk menghapus luka ini.
1998: Gol Ajaib Owen dan Kutukan Kartu Merah Beckham
Babak 16 besar di Stade Geoffroy-Guichard mempertemukan dua generasi emas dalam drama adu penalti. Skor 2-2 bertahan hingga 120 menit sebelum Argentina menang 4-3 lewat tos-tosan. Gawang Inggris lebih dulu bobol lewat tendangan penalti Gabriel Batistuta di menit ke-6 (assist dari Ariel Ortega yang dilanggar David Seaman). Balasan datang di menit ke-10 melalui titik putih juga, dieksekusi Alan Shearer. Momen magis terjadi pada menit ke-16: Michael Owen yang baru berusia 18 tahun melesat dari area sendiri, melewati José Chamot dan Roberto Ayala, sebelum meluncurkan bola ke sudut atas tanpa bisa dijangkau Carlos Roa. Gol itu mencatatkan sprint 44 meter dalam 5,8 detik. Argentina menyamakan kedudukan lewat Javier Zanetti di menit ke-45+1 dari skema free-kick cerdik yang dirancang Juan Sebastián Verón. Titik balik terjadi di menit ke-47: David Beckham menendang Diego Simeone dengan gerakan refleks, membuat wasit Kim Milton Nielsen mengeluarkan kartu merah langsung. Inggris bermain dengan 10 pemain selama 73 menit, mencatatkan hanya 38% penguasaan bola setelah insiden itu. Adu penalti mempertemukan dua penyelamat: Roa menggagalkan tendangan Paul Ince dan David Batty, sementara Argentina memastikan tempat di perempat final.
2002: Beckham Menebus Dosa di Sapporo
Fase grup Piala Dunia 2002 menjadi panggung penebusan sempurna. Inggris menang 1-0 dan David Beckham adalah penulis skenarionya. Di menit ke-44, Michael Owen dilanggar Mauricio Pochettino di kotak terlarang—wasit Pierluigi Collina tanpa ragu menunjuk titik penalti. Beckham, yang empat tahun sebelumnya pulang sebagai pesakitan, mengecoh kiper Pablo Cavallero dengan sepakan kencang ke sudut kanan gawang. Selebrasi emosionalnya seperti melepaskan beban bertahun-tahun. Statistik mencatat Argentina mendominasi penguasaan bola hingga 62% dengan 8 tembakan di dalam kotak, namun kokohnya duet Rio Ferdinand–Sol Campbell dalam formasi 4-4-2 racikan Sven-Göran Eriksson membuat gawang David Seaman tetap perawan. Argentina, yang saat itu bertabur bintang seperti Batistuta, Verón, dan Zanetti, hanya mencatatkan 2 shots on target dari total 14 percobaan, menunjukkan efektivitas pertahanan Inggris yang hanya kebobolan satu gol sepanjang fase grup. Kemenangan ini sekaligus menjadi awal dari tersingkirnya Argentina di fase grup—sebuah ironi yang mempermanis rivalitas abadi ini.
Lima babak dalam buku sejarah ini menunjukkan bahwa duel Inggris dan Argentina melampaui sekadar taktik atau formasi. Dari kontroversi Rattin, tangan Maradona, hingga penebusan Beckham, setiap pertemuan melahirkan narasi yang terus dikenang. Kini, dengan tiket final Piala Dunia 2026 di depan mata, kedua tim akan menulis babak keenam yang mungkin akan segera masuk dalam daftar paling bersejarah. Satu yang pasti: statistik dan data hanya bisa mengukur sebagian kecil dari gengsi yang dipertaruhkan.
Baca juga:
Comments (0)