Dua Emas Speed Direbut Indonesia di World Climbing Chamonix 2026

Chamonix, Prancis — Publik panjat tebing dunia menyaksikan dominasi sempurna dari kontingen Indonesia dalam nomor speed di World Climbing 2026. Dua atlet andalan, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Ved...

Dua Emas Speed Direbut Indonesia di World Climbing Chamonix 2026

Chamonix, Prancis — Publik panjat tebing dunia menyaksikan dominasi sempurna dari kontingen Indonesia dalam nomor speed di World Climbing 2026. Dua atlet andalan, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Veddriq Leonardo, sukses merebut dua medali emas sekaligus, menciptakan momen bersejarah di kaki Gunung Blanc, Minggu (12/7).

Di kategori putri, Desak Made menunjukkan ketenangan luar biasa. Ia mencatat waktu 6,82 detik di partai puncak, mengalahkan peraih perak asal Polandia, Aleksandra Miroslaw, yang finis dengan 6,95 detik. Sementara di nomor putra, Veddriq Leonardo menghentikan catatan waktu di 5,11 detik, unggul tipis atas lawannya dari Tiongkok, Wu Peng, yang menyentuh 5,24 detik. Kedua emas ini menjadi penegasan bahwa Indonesia kini adalah kekuatan utama speed climbing dunia.

Jalan Menuju Final Penuh Dramatika

Sejak babak kualifikasi, Desak Made sudah memberi sinyal ancaman dengan catatan 6,88 detik, menempati peringkat pertama. Reaksinya di start sempurna, 0,14 detik — salah satu yang tercepat sepanjang turnamen. Di perempat final, ia menyingkirkan wakil Jepang dengan selisih 0,3 detik, lalu di semifinal menekuk pemanjat Amerika Serikat, Emma Hunt, dalam duel head-to-head yang ketat. Miroslaw, yang merupakan pemegang rekor dunia, tak mampu membalas di final setelah sempat terpeleset pada tiga meter terakhir. “Saya hanya fokus pada jalur sendiri, tidak peduli siapa di kanan saya,” ujar Desak Made usai lomba.

Veddriq Leonardo juga tak kalah impresif. Ia mencatatkan waktu 5,08 detik di sesi kualifikasi — hanya 0,02 detik dari rekor dunianya sendiri. Namun, di babak semifinal ia hampir tersingkir setelah melakukan false start ringan yang membuat wasit sempat meninjau ulang melalui VAR. Beruntung, rekaman menunjukkan kakinya masih tepat di pijakan saat sinyal bunyi, sehingga ia dinyatakan sah dan melaju ke final. Di final, start-nya kembali eksplosif: 0,11 detik — menyamai reaksi terbaik di nomor putra. Wu Peng yang memiliki rekor Asia terpaksa puas melihat Veddriq menyentuh tombol finis duluan.

Analisis Performa: Kunci Kemenangan

Statistik Kunci Desak Made vs Miroslaw: Waktu total: 6,82 vs 6,95 detik. Reaksi start: 0,14 vs 0,17 detik. Kecepatan puncak: 2,78 m/s vs 2,71 m/s. Jumlah pegangan yang dioptimalkan: 17 dari 20. Desak Made mengubah strategi di sepertiga akhir dengan memperpendek langkah untuk menjaga keseimbangan, taktik yang terbukti mematikan saat Miroslaw justru kehilangan ritme.

Statistik Kunci Veddriq Leonardo vs Wu Peng: Waktu total: 5,11 vs 5,24 detik. Reaksi start: 0,11 vs 0,15 detik. Rasio daya dorong vertikal: 3,8 N/kg vs 3,5 N/kg. Veddriq tampil tanpa cela dengan akurasi injakan 100% — tidak ada slip atau overshoot. Kekuatan eksplosif paha dan betisnya menghasilkan lompatan awal yang langsung menciptakan gap signifikan.

Dampak dan Reaksi

Kemenangan ganda ini sontak memanaskan atmosfer panjat tebing nasional. Pengurus Besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menyebut hasil ini sebagai buah dari program pelatnas jangka panjang yang fokus pada pengembangan reaksi start dan power endurance.

“Kami sudah mempersiapkan ini selama dua tahun. Data analytics dan simulasi head-to-head menjadi bagian penting dari strategi kami,”
ungkap pelatih kepala, Hendra Basir. Dukungan teknologi seperti sensor start dan analisis gerak 3D juga disebut menjadi pembeda.

Dengan dua emas ini, Indonesia mempertahankan reputasi sebagai gudang sprinter dinding vertikal. Veddriq kini mengoleksi tiga gelar World Climbing di nomor speed, sementara Desak Made meraih gelar keduanya. Keduanya juga memastikan diri lolos langsung ke World Games 2027 di Tiongkok. Ke depan, pesaing seperti Italia, Prancis, dan Tiongkok diprediksi akan meningkatkan investasi di sektor ini, namun Indonesia telah mematok fondasi yang kokoh. Seperti yang ditunjukkan di Chamonix: merah putih berkibar paling tinggi, di tebing terjal sekalipun.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User