Oct 12, 2026
Olahraga

Lamine Yamal dan Lionel Messi Berpelukan Usai Final Piala Dunia 2026

East Rutherford, New Jersey — Peluit panjang berbunyi, dan Stadion MetLife meledak dalam sorak sorai. Skor akhir 2-1 menutup drama final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, Senin (2/7/202...

Lamine Yamal dan Lionel Messi Berpelukan Usai Final Piala Dunia 2026

East Rutherford, New Jersey — Peluit panjang berbunyi, dan Stadion MetLife meledak dalam sorak sorai. Skor akhir 2-1 menutup drama final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, Senin (2/7/2026) dini hari WIB. Namun momen paling ikonik bukanlah selebrasi trofi, melainkan sebuah pelukan di tengah lapangan: Lamine Yamal, winger muda Spanyol berusia 19 tahun, memeluk Lionel Messi, kapten Argentina bernomor punggung 10, dalam sebuah adegan yang terasa seperti estafet generasi.

Jalannya Pertandingan: Taktik dan Intensitas Sejak Menit Pertama

Spanyol tampil dengan formasi 4-3-3 yang cair, mengandalkan pressing tinggi dan sirkulasi bola cepat. Argentina merespons dengan 4-4-2 disiplin, mengandalkan transisi cepat melalui Messi yang bermain sebagai false nine. Sejak menit awal, tempo pertandingan tinggi. Menit ke-12, Yamal melepaskan tendangan kaki kiri dari sudut kanan kotak penalti, namun masih melebar tipis di sisi gawang.

Statistik babak pertama menunjukkan penguasaan bola 58 persen untuk Spanyol, dengan 4 shots on target berbanding 2 milik Argentina. Menit ke-23, gelandang Spanyol Pedri mengirim umpan terobosan kepada Yamal, yang kemudian dijatuhkan di tepi kotak penalti. Wasit memberi tendangan bebas, tetapi eksekusi Nico Williams membentur pagar betis. Argentina bukan tanpa peluang; menit ke-31, Messi melepaskan tembakan jarak jauh yang masih bisa ditepis kiper Spanyol, Unai Simón.

Babak Kedua: Keajaiban Menit Akhir dan Drama VAR

Memasuki babak kedua, Argentina menaikkan garis pertahanan. Menit ke-54, Messi memberikan assist terukur kepada Julián Álvarez, yang menaklukkan Simón dengan tembakan mendatar. Skor 1-0 untuk Argentina. Pelatih Spanyol merespons dengan memasukkan Ferran Torres untuk menambah daya gedor. Spanyol meningkatkan penguasaan bola hingga 63 persen dan mencatat 7 shots on target sepanjang laga.

Menit ke-78, Yamal akhirnya menyamakan kedudukan. Menerima umpan silang dari Alejandro Grimaldo, ia melepaskan tendangan first-time yang bersarang di pojok kanan gawang. Skor 1-1. Stadion bergemuruh. Namun drama belum berakhir. Menit ke-88, wasit meninjau VAR untuk potensi handsball di area Argentina. Setelah review, penalti diberikan. Yamal maju sebagai eksekutor dan mencetak gol kemenangan, sekaligus mencatat brace di final Piala Dunia pertamanya.

Kemenangan ini menjadi clean sheet kedua Spanyol di fase gugur, meski malam ini gawang mereka sempat kebobolan. Sepanjang turnamen, Yamal mencatat 6 gol dan 5 assist, sementara Messi menutup turnamen dengan 4 gol dan 7 assist pada usia 39 tahun. Kartu kuning tercatat tiga kali, dua untuk Argentina dan satu untuk Spanyol.

Pelukan di Tengah Lapangan: Simbol Estafet Sepak Bola

Usai pertandingan, Yamal dan Messi terlihat berpelukan hangat. Momen itu mengingatkan pada foto legendaris Messi bersama bayi Yamal pada 2007 silam. "Dia adalah idola saya sejak kecil. Bermain melawan dia di final Piala Dunia adalah mimpi yang menjadi kenyataan," ujar Yamal kepada awak media.

"Lamine adalah masa depan sepak bola. Saya hanya berharap dia terus rendah hati dan bekerja keras. Hari ini dia pantas menjadi juara," kata Messi seusai laga.

Pelatih Spanyol menambahkan, "Kami membangun tim ini selama empat tahun. Yamal adalah inti proyek ini, tetapi kemenangan ini milik seluruh pemain dan staf." Sementara itu, pelatih Argentina mengakui bahwa timnya kehilangan konsentrasi di menit-menit akhir. "Kami sudah mengantisipasi pressing mereka, tetapi penalti di menit ke-88 mengubah segalanya," ujarnya.

Statistik Akhir dan Proyeksi ke Depan

Secara keseluruhan, Spanyol mencatat penguasaan bola 61 persen, 15 total tembakan, 7 shots on target, dan 8 tendangan sudut. Argentina mencatat 39 persen penguasaan bola, 9 tembakan, 3 shots on target, dan 4 tendangan sudut. Tidak ada kartu merah sepanjang laga, menandakan final yang berjalan sportif meski intensitas tinggi.

Dengan hasil ini, Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, setelah 2010. Argentina harus puas menjadi runner-up, meski perjalanan mereka menuju final terbilang impresif. Yamal kini digadang-gadang sebagai kandidat Ballon d'Or berikutnya, sementara Messi menutup karier internasionalnya dengan warisan yang tak terbantahkan. Pelukan di East Rutherford akan dikenang sebagai momen ketika generasi lama dan baru sepak bola saling mengakui. Bagi penggemar, ini bukan sekadar final; ini adalah babak baru dalam sejarah sepak bola dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User