Kemenbud Tetapkan Kawasan Gua Liangkabori sebagai Cagar Budaya Nasional

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia secara resmi menetapkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Kabupaten Muna, Sula

Kemenbud Tetapkan Kawasan Gua Liangkabori sebagai Cagar Budaya Nasional

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia secara resmi menetapkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai Cagar Budaya Nasional. Penetapan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Indonesia, mengingat kawasan tersebut menyimpan bukti peradaban manusia purba yang berusia lebih dari 40.000 tahun.

Keputusan penetapan itu diumumkan dalam acara yang digelar di Museum Nasional, Jakarta, pada Jumat (11/7/2026). Menteri Kebudayaan, yang hadir secara langsung, menyerahkan surat keputusan (SK) kepada Bupati Muna sebagai simbol pengakuan negara atas nilai luar biasa situs ini. "Hari ini kita semua menjadi saksi sejarah," ujar Menteri Kebudayaan dengan nada khidmat.

Lukisan Dinding Tertua di Asia Tenggara

Gua Liangkabori bukan sekadar gua biasa. Di dalamnya terhampar puluhan lukisan cadas (rock art) yang menggambarkan aktivitas berburu, hewan-hewan endemik, dan simbol-simbol spiritual masyarakat purba. Penelitian yang dilakukan oleh tim arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Universitas Gadjah Mada mengonfirmasi bahwa usia lukisan-lukisan ini mencapai 40.000–44.000 tahun, menjadikannya salah satu lukisan figuratif tertua di dunia, sejajar dengan temuan di Gua Chauvet (Prancis) dan gua-gua di Sulawesi Selatan.

Yang paling ikonis adalah lukisan "penari" dan representasi perburuan anoa—hewan endemik Sulawesi—yang menunjukkan kecerdasan dan kehidupan sosial masyarakat prasejarah. "Lukisan-lukisan ini bukan sekadar coretan; mereka adalah narasi visual tertua tentang hubungan manusia dengan alam," ujar Prof. Dr. Andi Muhammad Said, arkeolog senior yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Proses Panjang Menuju Pengakuan Nasional

Perjalanan Gua Liangkabori menuju status cagar budaya nasional tidaklah mudah. Sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2018 oleh peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan, berbagai kajian teknis, uji laboratorium, dan diskusi publik dilakukan. Tahun 2023, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) memberikan rekomendasi pengusulan. Penetapan ini meliputi kawasan seluas 150 hektar yang mencakup ekosistem karst di sekitar gua, sehingga tidak hanya melindungi situs lukisan, tetapi juga kawasan penyangga yang vital.

«Dengan status cagar budaya nasional, upaya konservasi akan lebih terpadu, anggaran lebih pasti, dan kita bisa melibatkan masyarakat lokal sebagai subjek pelestari,» tegas Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemenbud, dalam wawancara eksklusif.

Penetapan ini juga menjadi jawaban atas desakan dari berbagai pihak, termasuk UNESCO yang terus mendorong Indonesia untuk mengidentifikasi dan melindungi warisan budaya tak ternilai harganya. Kawasan ini kini resmi masuk dalam daftar inventarisasi nasional dan membuka peluang untuk diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO di masa depan.

Dampak Ekonomi, Lingkungan, dan Edukasi

Status baru ini membawa berita gembira bagi masyarakat Muna. Bupati Muna, La Ode M. Rusli, menyatakan bahwa pihaknya akan memanfaatkan momen ini untuk mendorong pariwisata berbasis budaya dan edukasi. "Kami akan bangun museum site di dekat gua, pusat informasi, dan melatih pemuda-pemudi sebagai pemandu wisata sejarah," katanya dalam sambutan. Pemerintah daerah juga berencana merelokasi pemukiman yang terlalu dekat dengan kawasan inti, dengan memberikan kompensasi yang layak.

Selain potensi ekonomi, penetapan ini memperkuat perlindungan lingkungan. Kawasan karst Muna adalah daerah tangkapan air yang kritis. Dengan larangan penambangan batu kapur di radius 5 kilometer, sumber air bersih bagi ribuan warga tetap terjaga. "Ini adalah kemenangan ganda: pelestarian budaya dan lingkungan," ujar aktivis lingkungan setempat.

Dari segi riset, Kemenbud berkolaborasi dengan perguruan tinggi akan membuka program magang dan penelitian bagi mahasiswa arkeologi, geologi, dan biologi di Gua Liangkabori. Setiap tahun, bahkan direncanakan Liangkabori International Rock Art Symposium untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta penelitian seni cadas dunia.

Menjaga Api Pengetahuan Tidak Padam

Meskipun euforia menyelimuti, para ahli mengingatkan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga situs dari vandalisme, perubahan iklim, dan tekanan pariwisata massal. Strategi zonasi ketat akan diterapkan: zona inti hanya untuk tujuan penelitian, zona terbatas untuk edukasi dengan kontrol jumlah pengunjung yang ketat, dan zona pengembangan untuk fasilitas penunjang.

Penetapan Gua Liangkabori sebagai cagar budaya nasional bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar. Seperti pesan yang disampaikan Menteri Kebudayaan, "Melindungi warisan ini adalah tugas kita kepada kemanusiaan, kepada peradaban."

[SOCIAL_TWEET]: Bersejarah! Kemenbud tetapkan Gua Liangkabori di Muna sebagai cagar budaya nasional. Lukisan dindingnya berusia 40.000 tahun, salah satu tertua di Asia Tenggara. Kini langkah menuju Warisan Dunia UNESCO makin nyata. #CagarBudayaNasional #Liangkabori #WarisanIndonesia[SOCIAL_TG]: 🏛️ *Breaking News* Kemenbud tetapkan Kawasan Gua Liangkabori sebagai Cagar Budaya Nasional! Gua ini menyimpan lukisan dinding berusia 40.000 tahun, menyaingi temuan di Eropa. Simak detailnya 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User