Jakarta Perkuat Ekosistem Film, JFC Resmi Berkantor di TIM

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, meresmikan kantor Jakarta Film Commission di Taman Ismail Marzuki. (Katadata) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secar

Jakarta Perkuat Ekosistem Film, JFC Resmi Berkantor di TIM
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, meresmikan kantor Jakarta Film Commission di Taman Ismail Marzuki. (Katadata)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi membuka kantor Jakarta Film Commission (JFC) di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin (15/7). Momentum ini menandai langkah konkret Ibu Kota dalam memperkuat ekosistem perfilman serta menempatkan Jakarta sebagai kota sinema dan pusat industri film nasional yang kompetitif di kancah global.

Dari Gagasan Menjadi Lembaga

Gagasan membentuk komisi film daerah sebenarnya telah bergulir sejak awal 2025, saat Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta menyusun peta jalan transformasi ekonomi kreatif berbasis sinema. Setelah melalui serangkaian studi banding ke film commission di Busan, Toronto, dan Berlin, Pemprov DKI akhirnya membentuk JFC sebagai unit kerja di bawah Disparekraf pada Maret 2026.

“Ini bukan sekadar kantor baru. JFC adalah command center yang akan memangkas birokrasi perizinan shooting, menyediakan basis data lokasi, serta menjembatani insan film lokal dengan investor nasional dan mancanegara,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat peresmian. Rano, yang akrab disapa Bang Doel, juga menekankan bahwa hadirnya JFC di TIM sangat simbolis karena kawasan tersebut merupakan creative hub dan monumen sejarah seni pertunjukan Indonesia.

Empat Pilar Strategis JFC

Dalam pemaparannya, Kepala Disparekraf DKI Jakarta menjelaskan bahwa JFC bertumpu pada empat misi utama:

  1. Kemudahan Perizinan. Mengintegrasikan perizinan syuting di ruang publik Jakarta dalam satu pintu lewat sistem Jakarta Satu, sehingga durasi pengurusan yang semula rata-rata 14 hari dipangkas menjadi maksimal 3 hari kerja.
  2. Database Lokasi Film. Membangun katalog digital yang mencakup lebih dari 500 lokasi unik di seluruh wilayah Jakarta—dari heritage Kota Tua, gedung pencakar langit Sudirman-Thamrin, hingga perkampungan padat yang sinematik.
  3. Insentif Produksi. Memberikan potongan pajak hiburan hingga 20 persen bagi rumah produksi yang menggunakan minimal 60 persen tenaga kerja lokal Jakarta dan menampilkan ikon kota dalam filmnya.
  4. Pusat Talenta. Memfasilitasi pelatihan upskilling bagi kru film melalui kerja sama dengan sekolah vokasi dan studio-studio besar, dengan target mencetak 1.000 tenaga teknis bersertifikasi pada akhir 2027.

Dukungan dari Pelaku Industri

Kehadiran JFC disambut antusias oleh para sineas.

“Selama ini Jakarta hanya dianggap sebagai latar, bukan subjek kebijakan. Dengan JFC, kami berharap Jakarta bisa seperti Busan yang punya identitas film kuat dan mampu menarik proyek internasional,”
kata sutradara Mira Lesmana yang turut hadir dalam diskusi panel pasca-peresmian. Senada dengan itu, produser Chicco Jerikho menilai pemangkasan birokrasi menjadi game-changer karena selama ini pengurusan izin lokasi sering menjadi hambatan terbesar produksi film independen.

Infrastruktur TIM sebagai Ekosistem Terpadu

Pemilihan TIM sebagai lokasi kantor JFC bukan tanpa alasan. Kompleks yang baru direvitalisasi ini memiliki Galeri Emiria Soenassa untuk pameran memorabilia film, Gedung Teater Kecil yang cocok untuk pemutaran terbatas, serta co-working space yang dapat digunakan para pembuat film untuk bertemu dan berkolaborasi. Dengan demikian, JFC dapat langsung terhubung dengan pusat kegiatan budaya harian di TIM.

Rano Karno menambahkan bahwa Pemprov juga tengah menyiapkan Jakarta Cinema Fund—dana bergulir senilai Rp50 miliar per tahun—yang akan dikelola JFC untuk mendanai proyek film pendek dan dokumenter bertema urban. “Angka ini bukan plafon mati. Jika penyerapan berjalan baik dan menghasilkan dampak ekonomi yang terukur, kami siap menambah alokasi,” tegasnya.

Peta Jalan Menuju 2030

JFC telah menetapkan sejumlah target bertahap. Pada fase awal (2026–2027), fokus diarahkan pada sosialisasi layanan, digitalisasi perizinan, dan pembangunan basis data lokasi. Fase kedua (2028–2029) akan memperluas kemitraan dengan streaming platform global serta menyelenggarakan Jakarta Film Festival berskala internasional. Puncaknya pada 2030, Jakarta ditargetkan menjadi tuan rumah tetap ASEAN Film Market dan destinasi produksi film terkemuka di kawasan.

Dengan terbentuknya JFC dan sinergi antar-pemangku kepentingan, Jakarta tidak hanya ingin menjadi pasar konsumsi film terbesar di Indonesia, tetapi juga ruang produktif tempat lahirnya karya-karya sinema berkualitas yang merepresentasikan wajah urban Indonesia modern. Kantor di TIM hanyalah awal dari transformasi panjang menuju kota kreatif yang sejati.

[SOCIAL_TWEET]: Jakarta resmi buka kantor Jakarta Film Commission di TIM. Perizinan syuting kini cukup 3 hari, ada potongan pajak 20%, dan database 500+ lokasi. Jalan panjang menuju kota sinema dimulai dari Cikini. #JakartaFilm #EkonomiKreatif #FilmIndonesia[SOCIAL_TG]: 🎬 Kantor Jakarta Film Commission resmi dibuka di TIM, Cikini! Perizinan syuting cukup 3 hari, ada potongan pajak 20%, dan dana Rp50 M per tahun siap digulirkan. Jakarta makin serius jadi kota sinema.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User