Jakarta — KH Zulfa Mustofa Tekankan Peran Strategis Ulama dalam Merawat Kebangsaan

Suasana Aula Utama Gedung PBNU di bilangan Kramat Raya, Jakarta Pusat, tampak khidmat. Ratusan mata tertuju pada sosok bersahaja yang duduk di saf paling d

Jakarta — KH Zulfa Mustofa Tekankan Peran Strategis Ulama dalam Merawat Kebangsaan

Suasana Aula Utama Gedung PBNU di bilangan Kramat Raya, Jakarta Pusat, tampak khidmat. Ratusan mata tertuju pada sosok bersahaja yang duduk di saf paling depan: KH Zulfa Mustofa. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menghela napas sejenak, lalu dengan suara lembut namun berwibawa ia menyampaikan pidato yang membuat seisi ruangan terdiam. “Kita hidup di era ketika umat mudah tercerai-berai hanya karena perbedaan kecil. Tugas ulama bukan sekadar menjawab soal halal-haram, tapi menjaga agar hati umat tetap bersatu,” ujarnya membuka silaturahmi kebangsaan yang digelar akhir pekan lalu.

Sesungguhnya nama KH Zulfa Mustofa bukanlah nama baru di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kiai kelahiran Sumenep, Madura, itu dikenal sebagai figur yang teguh memegang tradisi pesantren sekaligus luwes menyapa generasi muda. Perawakannya yang ramping, sorban cokelat yang melingkar di bahu, serta senyum teduhnya selalu menjadi magnet tersendiri di setiap forum. Jalur kariernya di organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu menunjukkan konsistensi: dari jajaran Syuriah hingga kini menduduki amanah Wakil Ketua Umum untuk periode 2027-2032. Meski posisinya tinggi, Kiai Zulfa — begitu ia akrab disapa — tidak pernah meninggalkan majelis taklim kecil di kampung halamannya. Ia percaya, ruh perjuangan justru ada di akar rumput.

Merawat Warisan, Menjawab Zaman

Apa yang disampaikan Kiai Zulfa dalam silaturahmi itu sesungguhnya menggemakan kembali filosofi dasar NU: al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah — memelihara tradisi lama yang baik sembari mengadopsi hal baru yang lebih baik. Namun, nada Kiai Zulfa kali ini terasa lebih tegas dan personal. Ia menyentil fenomena polarisasi yang semakin tajam akibat media sosial. “Kita kadang lupa bahwa perbedaan pendapat itu sunnatullah. Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan, apalagi dipelihara di ruang-ruang digital tanpa tabayun,” ucapnya dengan mata menerawang, seolah mengingat betapa mudahnya hubungan antarwarga retak hanya karena satu unggahan provokatif.

Di tengah pidatonya, Kiai Zulfa juga menyisipkan cerita pribadi yang menyentuh hati. Ia berkisah tentang kakeknya, seorang kiai kampung yang tak pernah lelah berjalan kaki sejauh tujuh kilometer demi mengajar mengaji di tiga surau berbeda. “Beliau tak punya media, tak punya mimbar megah. Tapi kata-katanya menembus hati karena beliau hidup bersama umat, bukan sekadar berbicara tentang umat,” cerita Kiai Zulfa. Kisah itu menjadi ilustrasi sempurna tentang pentingnya keteladanan — nilai yang menurutnya kian langka di era pencitraan instan.

Moderasi Bukan Berarti Lemah

Bagi sebagian pihak, istilah “moderasi beragama” terdengar klise. Namun Kiai Zulfa memberikan definisi yang lebih tajam dan relevan. Dalam sesi tanya jawab, ia menekankan bahwa moderasi bukan berarti kompromi terhadap keyakinan fundamental, melainkan keseimbangan antara keteguhan akidah dan kelapangan hati terhadap sesama. “Nahdlatul Ulama sejak awal sudah memberi contoh: kita tegas dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi kita juga merangkul saudara-saudara kita yang berbeda mazhab, bahkan berbeda agama, dalam urusan kemanusiaan dan kebangsaan,” tegasnya.

“Saya sering ingatkan santri-santri saya: jadilah orang yang keras terhadap ketidakadilan, bukan keras terhadap perbedaan. Islam mengajarkan kita untuk ummatan wasathan, umat pertengahan, yang letaknya di tengah bukan karena ragu, tetapi karena dari tengah kita bisa merangkul semua sisi tanpa jatuh ke lubang ekstrem mana pun.”

Pernyataan itu memicu tepuk tangan meriah dari hadirin yang terdiri dari para kiai muda, aktivis Muslimat, hingga perwakilan pemuda Ansor. Kiai Zulfa lantas menambahkan bahwa tantangan moderasi kini tidak hanya datang dari luar Islam, tetapi justru dari sesama Muslim yang salah memahami teks-teks suci. “Ekstremisme lahir dari bacaan yang terputus dari sanad keilmuan. Maka pesantren dengan tradisi sanad yang jelas harus menjadi benteng utama,” ujarnya. Ia mencontohkan bagaimana pesantren-pesantren NU di pelosok tetap konsisten mengajarkan kitab kuning dan nilai-nilai toleransi meski godaan “ustaz instan” di internet semakin besar.

Tantangan Digital dan Masa Depan Dakwah

Ketika ditanya tentang langkah PBNU menghadapi tantangan dakwah di era kecerdasan buatan, Kiai Zulfa memberikan jawaban mengejutkan. “Justru ini kesempatan. Kiai-kiai kita dulu harus berjalan berpuluh-puluh kilometer untuk menyampaikan satu halaman kitab. Sekarang, dengan satu klik, kitab-kitab klasik bisa diakses oleh jutaan orang. Tapi masalahnya, siapa yang menjadi pemandunya? Di sinilah peran ulama pewaris para nabi tidak bisa tergantikan oleh algoritma mana pun.”

Kiai Zulfa menegaskan bahwa NU tidak anti-teknologi. Sebaliknya, ia mendorong para santri untuk menguasai media digital sebagai bagian dari jihad intelektual. “Tapi saya selalu berpesan: akhlak dulu, baru teknologi. Jangan sampai kita pintar bikin konten, tapi lupa bahwa di balik layar ada manusia yang hatinya harus disentuh, bukan sekadar dipengaruhi oleh algoritma.”

Silaturahmi hari itu diakhiri dengan doa bersama. Hujan rintik yang tiba-tiba turun seakan menjadi penutup alami yang mendinginkan suasana. Para peserta keluar aula dengan wajah sumringah, beberapa di antaranya masih mendiskusikan pesan-pesan Kiai Zulfa. Salah satunya adalah Aminah, seorang aktivis Fatayat NU asal Tangerang Selatan. “Saya merasa dikuatkan. Kadang kita lelah melawan hoaks di grup WhatsApp keluarga sendiri. Tapi mendengar Kiai Zulfa, saya jadi ingat kenapa kita tidak boleh berhenti mengingatkan dengan cara yang baik,” tuturnya.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Menjelang senja, Kiai Zulfa beranjak dari tempat duduknya. Ia masih menyempatkan diri menyalami satu per satu santri yang mencium tangannya. Di tengah keramaian, tergambar betapa ia tidak hanya menjadi pemimpin struktural, tetapi juga panutan moral. Sejak 2027, saat PBNU dipimpin oleh jajaran baru yang menitikberatkan pada kolaborasi kiai kharismatik dan profesional muda, peran Kiai Zulfa menjadi sangat vital. Ia adalah jembatan antara generasi tua Nahdliyin yang memegang teguh tradisi dan generasi milenial yang haus akan spiritualitas berbingkai modernitas.

Kini, di usianya yang memasuki 67 tahun, Kiai Zulfa masih aktif mengajar di Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, tempat ia menimba ilmu semasa muda. Pesantren ini terkenal sebagai salah satu pusat kajian fikih dan tasawuf yang berpengaruh di Jawa Timur. “Pesantren mengajarkan saya bahwa menjadi kiai bukan gelar, melainkan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk terus mendampingi umat, bukan menjauh saat mereka butuh,” tutupnya dalam pesan singkat sebelum bertolak ke bandara.

[SOCIAL_TWEET]: KH Zulfa Mustofa: "Moderasi bukan berarti lemah, melainkan keseimbangan antara keteguhan akidah dan kelapangan hati terhadap sesama." Simak pesan lengkap Wakil Ketua Umum PBNU ini tentang merawat persatuan di era digital. #NahdlatulUlama #ModerasiBeragama [SOCIAL_TG]: 🔉 URGENSI MODERASI: Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa menekankan bahwa moderasi bukan kompromi akidah, melainkan keseimbangan. "Dari tengah kita bisa merangkul semua sisi tanpa jatuh ke lubang ekstrem mana pun." Bagaimana NU menghadapi tantangan dakwah di era digital? Baca pemikiran lengkapnya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User