Inggris vs Argentina: VAR dan Bayang 'Tangan Tuhan'

Skor akhir 2-2 bertahan di layar lebar Lusail, tetapi cerita sesungguhnya baru dimulai ketika wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, menunjuk titik putih pada menit ke-90+3. Inggris dan Argentina, dua...

Inggris vs Argentina: VAR dan Bayang 'Tangan Tuhan'

Skor akhir 2-2 bertahan di layar lebar Lusail, tetapi cerita sesungguhnya baru dimulai ketika wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, menunjuk titik putih pada menit ke-90+3. Inggris dan Argentina, dua raksasa yang dipisahkan sejarah dan disatukan oleh kontroversi, kembali menulis babak baru yang akan dikenang lebih lama daripada sekadar angka di papan skor. Malam itu, “Tangan Tuhan” tidak muncul dari lengan seorang pemain, melainkan dari monitor di pinggir lapangan.

Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 ini dimulai dengan tempo tinggi. Argentina, dengan formasi 4-3-3 andalannya, langsung menekan sejak peluit pertama. Penguasaan bola mereka mencapai 62% di 15 menit awal, memaksa Inggris bermain rapat di sepertiga lapangan sendiri. Namun, justru dari skema serangan balik cepat, Harry Kane membuka skor pada menit ke-23. Menerima umpan terobosan dari Jude Bellingham, Kane melepaskan tendangan mendatar ke pojok kiri gawang Emiliano Martínez. Gol itu adalah shots on target pertama Inggris, mengejutkan lebih dari 80.000 penonton yang mayoritas berpihak pada Albiceleste.

Babak Pertama: Efisiensi Inggris vs Dominasi Argentina

Argentina tidak butuh waktu lama untuk merespons. Menit ke-31, Lionel Messi – ya, Messi yang kini berusia 39 tahun namun masih menjadi roh permainan – mengirim umpan lambung terukur ke kotak penalti. Julián Álvarez, yang menggantikan posisi Lautaro Martínez, menyundul bola melewati Aaron Ramsdale. Skor 1-1. Assist itu adalah assist ke-12 Messi di Piala Dunia, menyamai rekor sepanjang masa yang dipegang Diego Maradona. Ironisnya, momen itu terjadi hampir tepat 40 tahun setelah gol “Tangan Tuhan” Maradona di Azteca.

Statistik babak pertama menunjukkan paradoks: Argentina unggul penguasaan bola 58% berbanding 42%, melepaskan 8 tembakan dengan 4 tepat sasaran, sementara Inggris hanya mencatatkan 3 shots on target dari 5 percobaan. Namun, skor tetap imbang. Disiplin pertahanan Inggris di bawah asuhan Lee Carsley patut diacungi jempol. Mereka memblok 3 tembakan, memenangi 7 duel udara, dan hanya sekali kecolongan dari situasi bola mati.

Babak Kedua dan Momen VAR yang Membelah Dunia

Memasuki babak kedua, Inggris mengubah pendekatan. Declan Rice ditarik lebih ke depan, membentuk poros ganda yang lebih agresif bersama Bellingham. Hasilnya langsung terlihat: pada menit ke-58, Bellingham menusuk dari lini kedua, berkelit dari dua pemain, dan melepaskan tembakan keras yang ditepis Martínez. Bola muntah jatuh di kaki Bukayo Saka, yang dengan tenang menceploskan bola ke gawang kosong. 2-1 untuk Inggris.

Argentina meningkatkan intensitas. Lionel Scaloni memasukkan tiga pemain sekaligus: Alejandro Garnacho, Nico Paz, dan Valentín Barco. Hasilnya, Argentina mendominasi dengan penguasaan bola 71% dalam 30 menit terakhir dan menciptakan 9 tembakan ke gawang Ramsdale. Gawang Inggris seperti dikepung. Namun, gol kedua tak kunjung datang hingga waktu normal tersisa 3 menit.

Lalu, momen yang akan diperdebatkan selama bertahun-tahun terjadi. Menit ke-89, sepak pojok Argentina meluncur ke tiang dekat. Álvarez dan John Stones berduel udara; bola memantul dan mengenai lengan Stones yang sedikit terangkat. Wasit Marciniak semula tidak meniup peluit, tetapi VAR mengintervensi. Setelah meninjau monitor selama lebih dari 2 menit – waktu terlama dalam turnamen ini – Marciniak menunjuk titik putih. Tayangan ulang tidak meyakinkan: bola memang mengenai lengan Stones, tetapi dari jarak dekat dan dengan posisi lengan yang masih bisa diperdebatkan sebagai “posisi alami” menurut aturan IFAB terbaru.

Penalti, Skor Akhir, dan Warisan Baru

Lionel Messi maju sebagai eksekutor. Ramsdale, yang sebelumnya telah menggagalkan tiga penalti di Premier League musim lalu, menebak arah dengan benar: ke kiri. Namun, tendangan Messi terlalu deras dan tepat, menghujam pojok bawah. Gol. Skor 2-2 pada menit ke-90+3. Tidak ada lagi gol di sisa waktu. Pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu dan akhirnya adu penalti, tetapi itu adalah cerita lain.

Data akhir: shots on target Argentina 8 – 5 Inggris; total tembakan 22 – 10; penguasaan bola 62% – 38%; akurasi operan 89% – 76%. Argentina mendominasi hampir semua metrik, kecuali yang paling penting: gol dari permainan terbuka hanya satu. Inggris mencetak dua gol dari hanya 5 shots on target, sebuah efisiensi klinis yang menjadi ciri khas tim-tim Inggris modern.

Di ruang konferensi pers, pelatih Inggris Lee Carsley menahan frustrasi:

“Kami menghormati keputusan wasit. Tapi, saat anda menunggu dua menit di depan monitor, itu tandanya bukan clear and obvious error. Sayang sekali momen seperti ini lagi-lagi mewarnai duel kami dengan Argentina.”
Di sisi lain, Scaloni membela timnya:
“Ini aturan modern. Tangan mengenai bola di kotak penalti. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Kami hanya berfokus pada permainan kami yang luar biasa malam ini.”

Duel ini mungkin tidak menghasilkan gol langsung dari tangan pemain, seperti yang dilakukan Maradona pada 1986. Namun, ia menciptakan “Tangan Tuhan” versi baru: teknologi yang dimaksudkan untuk menciptakan keadilan, justru melahirkan kontroversi yang sama dalamnya. Dan, seperti 40 tahun silam, cerita ini sekali lagi ditulis dengan satu nama besar di tengahnya: Messi, sang waris, sang legenda. Penguasaan bola Arsenal? Tidak, ini tentang penguasaan narasi – dan Argentina, lagi-lagi, keluar sebagai pemenangnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User