Spanyol Hancurkan Prancis 2-0, Samai Rekor Italia dan Lampaui Argentina

La Roja mengukir sejarah baru di semifinal Piala Dunia 2026. Dalam laga yang berlangsung di SoFi Stadium, Los Angeles, Spanyol membungkam Prancis dengan skor akhir 2-0 sekaligus mencatatkan rekor tak ...

Spanyol Hancurkan Prancis 2-0, Samai Rekor Italia dan Lampaui Argentina

La Roja mengukir sejarah baru di semifinal Piala Dunia 2026. Dalam laga yang berlangsung di SoFi Stadium, Los Angeles, Spanyol membungkam Prancis dengan skor akhir 2-0 sekaligus mencatatkan rekor tak terkalahkan internasional terlama sepanjang masa. Gol dari Lamine Yamal dan Nico Williams tidak hanya mengantarkan Spanyol ke partai puncak, tetapi juga memastikan mereka menyamai rekor Italia (37 laga tanpa kekalahan) dan melampaui catatan Argentina (36 laga).

Menit ke-23 menjadi titik pecahnya kebuntuan. Menerima umpan terobosan brilian dari Pedri yang menusuk pertahanan Prancis, Lamine Yamal melakukan cut-in dari sisi kanan. Dengan kaki kiri andalannya, pemain berusia 19 tahun itu melepaskan tendangan melengkung ke pojok kiri atas gawang Mike Maignan. Bola bersarang telak tanpa mampu dijangkau kiper AC Milan tersebut. Assist dari Pedri ini menjadi assist ke-12 untuk tim nasional, menegaskan perannya sebagai pengatur serangan utama Spanyol.

Prancis yang bermain dengan formasi 4-2-3-1 mencoba merespons lewat akselerasi Kylian Mbappé. Namun, lini pertahanan Spanyol yang dikawal duet Pau Cubarsí dan Robin Le Normand tampil solid. Kiper Unai Simón melakukan penyelamatan krusial pada menit ke-38 ketika menepis tendangan keras Antoine Griezmann dari luar kotak penalti. Statistik babak pertama mencatat Spanyol unggul penguasaan bola 62% berbanding 38%, dengan 4 shots on target sementara Prancis hanya mencatatkan 1 tembakan tepat sasaran.

Babak Pertama: Dominasi Spanyol

Pelatih Luis de la Fuente menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3 ofensif. Trio lini tengah Pedri, Gavi, dan Rodri mengontrol ritme permainan dengan umpan-umpan pendek cepat khas tiki-taka modern. Di sisi sayap, Lamine Yamal dan Nico Williams memberikan ancaman konstan dengan kecepatan dan dribel eksplosif. Alvaro Morata, meski tak mencetak gol, bekerja keras sebagai pembuka ruang yang memudahkan pergerakan dua pemain muda di sisinya.

Prancis di bawah asuhan Didier Deschamps mengandalkan serangan balik cepat lewat Mbappé dan Ousmane Dembélé. Namun kombinasi gelandang bertahan Aurélien Tchouaméni dan Eduardo Camavinga kesulitan memutus aliran bola Spanyol. Beberapa kali pressing tinggi Prancis berhasil dilewati dengan operan satu-dua sentuhan yang membingungkan lini kedua Les Bleus.

Babak Kedua: Prancis Tak Berdaya

Memasuki babak kedua, Deschamps mencoba mengubah taktik dengan memasukkan Randal Kolo Muani untuk menambah daya gedor. Meski sempat meningkatkan intensitas serangan, pertahanan Spanyol tetap disiplin. Gelandang bertahan Rodri tampil sebagai penyapu di depan lini belakang, mematahkan beberapa peluang berbahaya Prancis. Kartu kuning pertama pertandingan diterima Camavinga pada menit ke-54 setelah melanggar Yamal yang terus menjadi momok.

Menit ke-67, Spanyol menggandakan keunggulan melalui serangan balik mematikan. Berawal dari sapuan sundulan Cubarsí, bola jatuh di kaki Gavi yang langsung mengirimkan umpan panjang akurat ke sisi kiri. Nico Williams yang berlari kencang berhasil mengontrol bola, mengecoh bek kanan Jules Koundé, lalu melepaskan tembakan rendah mendatar yang tak bisa dihalau Maignan. Gol tersebut memastikan kemenangan dan mengirim sinyal kuat bahwa Spanyol adalah tim paling konsisten di turnamen ini.

Prancis berusaha mengejar, namun tembakan spekulasi mereka kebanyakan melambung jauh dari sasaran. Hingga peluit panjang berbunyi, Les Bleus hanya menambah satu shots on target dari total enam percobaan. Sebaliknya, Spanyol menutup laga dengan 7 tembakan tepat sasaran dari 14 upaya, menunjukkan efektivitas dan ketajaman yang berbeda level. Penguasaan bola akhir tercatat 58% untuk Spanyol dan 42% untuk Prancis.

Rekor Baru di Depan Mata

Dengan kemenangan ini, Spanyol menorehkan 37 laga internasional tanpa kekalahan beruntun, menyamai rekor Italia yang bertahan sejak 2021 hingga 2023. Rekor Argentina yang sebelumnya memegang 36 laga tak terkalahkan (periode 2022–2024) resmi terlewati. Ini menjadi bukti keperkasaan La Roja di bawah asuhan de la Fuente yang sukses memadukan talenta muda dan pengalaman.

Pelatih Luis de la Fuente dalam konferensi pers pasca-pertandingan menyatakan, Kami tidak memikirkan rekor saat bertanding. Fokus kami adalah memenangkan setiap pertandingan. Tentu saja, menyamai rekor Italia dan melampaui Argentina adalah kebanggaan luar biasa, tapi target kami belum selesai—kami menginginkan bintang kedua di final nanti.

Di sisi lain, Didier Deschamps mengakui keunggulan Spanyol: Mereka bermain sangat efisien. Kami kesulitan mengimbangi tempo dan kreasi mereka, terutama di lini tengah. Dua gol yang kami terima murni karena kualitas individu pemain mereka.

Spanyol akan menunggu pemenang semifinal kedua antara Brasil dan Jerman. Apapun lawannya, pasukan de la Fuente memiliki momentum dan kepercayaan diri tinggi untuk meraih gelar juara dunia pertama sejak 2010. Sejarah akan mencatat semifinal ini bukan sekadar tiket final, tapi juga momen ketika rekor legendaris berganti pemilik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User