Rayan Cherki Akui Prancis Kalah Segalanya dari Spanyol
BERITAINTI, DOHA — Skor akhir 4-1 di Lusail Iconic Stadium bukan sekadar angka. Pada semifinal Piala Dunia 2026, Prancis benar-benar kehilangan segalanya: kendali, ketajaman, dan reputasi sebagai ju...
BERITAINTI, DOHA — Skor akhir 4-1 di Lusail Iconic Stadium bukan sekadar angka. Pada semifinal Piala Dunia 2026, Prancis benar-benar kehilangan segalanya: kendali, ketajaman, dan reputasi sebagai juara bertahan. Gelandang serang Rayan Cherki menjadi suara jujur yang mewakili kegamangan Les Bleus. "Kami kalah dalam segala aspek. Mereka lebih kuat, lebih cepat, lebih cerdas," aku pemain 22 tahun itu dengan tatapan kosong, beberapa menit setelah peluit panjang.
Spanyol Menggila Sejak Menit Awal
Formasi 4-3-3 andalan Didier Deschamps langsung porak-poranda sejak menit ke-7. Umpan terobosan Pedri dari lini tengah memecah kebuntuan, diselesaikan dingin oleh Alvaro Morata lewat sontekan kaki kiri. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum, namun bukan berarti Prancis selamat. Sepanjang babak pertama, penguasaan bola Spanyol mencapai 68%, dengan delapan tembakan ke gawang berbanding nihil bagi Prancis. Mike Maignan, sang kiper, harus melakukan empat penyelamatan krusial untuk mencegah bencana lebih dini.
Yang lebih menyakitkan, gol kedua lahir dari kesalahan fatal Jules Kounde. Menit ke-33, umpan silang Nico Williams gagal diantisipasi, bola liar justru ditanduk masuk oleh Kounde ke gawang sendiri. Gol bunuh diri itu memukul mental para pemain Prancis, terlihat dari bahasa tubuh mereka yang lunglai saat jeda.
Lamine Yamal, Sang Penghancur Berusia 19 Tahun
Babak kedua menghadirkan mimpi buruk bernama Lamine Yamal. Pemain sayap kanan yang akan genap 20 tahun sehari sebelum final itu memporak-porandakan sisi kiri pertahanan Prancis yang dijaga Theo Hernandez. Menit ke-51, Yamal melewati dua pemain sekaligus sebelum melayangkan umpan tarik ke kotak penalti. Dani Olmo, tanpa pengawalan berarti, dengan mudah menanduk bola untuk gol ketiga Spanyol.
Yamal akhirnya mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-68. Sebuah aksi individu dari sisi kanan, melakukan cut inside, lalu melepaskan tendangan melengkung ke sudut jauh gawang Maignan. Statistik Yamal malam itu: 7 dribel sukses, 4 umpan kunci, dan 1 gol — penampilan yang langsung menempatkannya sebagai pemain terbaik pertandingan versi FIFA.
Prancis baru mampu mencetak gol hiburan pada menit ke-84 lewat titik penalti. Kylian Mbappe, yang sepanjang laga mati kutu dikawal Dani Carvajal, sukses mengecoh Unai Simon. Namun selebrasi singkat itu tak mampu menutupi fakta: sepanjang 90 menit, Prancis hanya mencatatkan dua shots on target dan tak pernah benar-benar mengancam.
Pengakuan Jujur Cherki dan Ruang Ganti yang Retak
Dalam mixed zone, Rayan Cherki tak berusaha bersembunyi di balik alasan. Gelandang yang baru bermain 25 menit sebagai pemain pengganti itu justru melontarkan kritik paling tajam. "Mereka mendominasi setiap sektor. Lini tengah kami tidak pernah terhubung dengan depan. Saat bola hilang, kami lambat kembali. Semua hal yang seharusnya kami lakukan dengan baik, malam ini hilang. Kami kalah segalanya dari mereka," ujar Cherki dengan nada frustrasi.
Pernyataan itu kontras dengan sikap Didier Deschamps yang cenderung defensif dalam konferensi pers. "Spanyol memang lebih baik malam ini. Tapi saya bangga dengan perjalanan kami. Turnamen ini tetap positif," kata sang pelatih. Namun data tak bisa dibohongi: Prancis tak pernah sekalipun memimpin dalam tiga laga fase gugur melawan tim elite, dan malam ini puncaknya.
Kekalahan 1-4 menjadi margin terbesar kedua yang pernah dialami Prancis di semifinal Piala Dunia, setelah kekalahan 1-5 dari Brasil pada 1958. Ironisnya, skuad berjuluk Les Bleus ini datang ke Qatar dengan label salah satu favorit, berbekal era baru pasca kepemimpinan Mbappe sebagai kapten. Namun realitas di lapangan berkata lain: selisih expected goals (xG) Spanyol mencapai 3,14 berbanding 0,52 milik Prancis, angka yang mencerminkan perbedaan kualitas yang menganga.
Spanyol kini melangkah ke final untuk bertemu Argentina, mengulang laga klasik yang telah dua kali mempertemukan mereka di final sebelumnya (2014 dan 2030). Sementara Prancis harus menerima kenyataan pahit: era baru mereka belum cukup matang untuk menggenggam trofi kedua secara beruntun. "Ini pelajaran keras," tutup Cherki sebelum masuk ke bus tim. "Kami harus belajar dari nol lagi."
Comments (0)