Oct 12, 2026
Olahraga

Infantino dan Dinamika Kepemimpinan FIFA di Era Modern

JAKARTA — Nama Gianni Infantino telah menjadi pusat perhatian dunia sepak bola sejak ia pertama kali terpilih sebagai Presiden FIFA pada Februari 2016. Pria kelahiran Brig, Swiss, 54 tahun silam itu...

Infantino dan Dinamika Kepemimpinan FIFA di Era Modern

JAKARTA — Nama Gianni Infantino telah menjadi pusat perhatian dunia sepak bola sejak ia pertama kali terpilih sebagai Presiden FIFA pada Februari 2016. Pria kelahiran Brig, Swiss, 54 tahun silam itu kini memasuki periode kepemimpinannya yang penuh warna, diwarnai berbagai terobosan kompetisi, reformasi tata kelola, hingga kontroversi yang tak pernah lepas dari kursi orang nomor satu federasi sepak bola dunia tersebut.

Infantino bukan sosok yang asing dengan dinamika organisasi sepak bola. Sebelum menakhodai FIFA, ia meniti karier panjang di UEFA, di mana ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal sejak 2009. Pengalaman itulah yang membekali dirinya dengan pemahaman mendalam soal tata kelola turnamen, hak siar, hingga diplomasi antar-asosiasi nasional. Ketika ia menggantikan Sepp Blatter yang tersandung skandal korupsi, Infantino datang membawa janji reformasi besar-besaran.

Reformasi dan Ekspansi Kompetisi

Salah satu warisan paling mencolok dari era Infantino adalah perluasan format kompetisi. Piala Dunia yang semula diikuti 32 tim akan membengkak menjadi 48 tim mulai edisi 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Keputusan ini menuai pro dan kontra. Pendukung menilai langkah tersebut membuka peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk unjuk gigi di panggung tertinggi. Kritikus, di sisi lain, mencemaskan kualitas pertandingan yang berpotensi menurun serta beban jadwal pemain yang kian padat.

Infantino juga mendorong lahirnya Piala Dunia Antarklub versi baru dengan format 32 tim yang mulai bergulir pada 2025. Turnamen ini digadang-gadang menjadi jawaban atas kebutuhan akan kompetisi antarklub yang lebih kompetitif di tingkat global, sekaligus mendongkrak pendapatan FIFA dari sisi hak siar dan sponsor.

Statistik Kepemimpinan yang Terukur

Di bawah kepemimpinannya, pendapatan FIFA mencatat lonjakan signifikan. Siklus 2019-2022 mencatat pendapatan mencapai lebih dari 7,6 miliar dolar AS, angka yang jauh melampaui periode-periode sebelumnya. Cadangan devisa FIFA pun diklaim berada pada posisi terkuat dalam sejarah organisasi. Infantino kerap menggunakan data ini sebagai bukti bahwa reformasi finansial yang ia canangkan berjalan sesuai jalur.

Namun, kritik tak pernah surut. Isu transparansi, dugaan konflik kepentingan, hingga kontroversi terkait pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2034 yang hanya diikuti satu kandidat, yaitu Arab Saudi, terus membayangi. Sejumlah organisasi hak asasi manusia menyoroti rekam jejak tuan rumah tersebut, sementara FIFA berargumen bahwa proses bidding telah berjalan sesuai regulasi yang berlaku.

Tantangan ke Depan

Ke depan, Infantino menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Penjadwalan yang kian padat, perlindungan terhadap kesehatan pemain, kesetaraan gender dalam sepak bola, serta integritas wasit dan teknologi VAR menjadi isu-isu krusial yang menuntut perhatian serius. Ia juga didorong untuk memperkuat program pengembangan sepak bola di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin agar manfaat globalisasi olahraga ini benar-benar merata.

"Sepak bola adalah milik semua orang, bukan hanya segelintir negara besar. Tugas kita adalah memastikan setiap anak di setiap sudut dunia punya kesempatan bermimpi," begitu kira-kira pesan yang kerap ia sampaikan dalam berbagai forum internasional.

Dengan masa jabatan yang masih berjalan, publik sepak bola dunia tentu menanti arah kebijakan Infantino berikutnya. Akankah ia melanjutkan ekspansi kompetisi, atau justru berbalik fokus pada konsolidasi tata kelola? Yang jelas, setiap langkahnya akan selalu menjadi sorotan, karena posisi Presiden FIFA bukan sekadar jabatan administratif, melainkan simbol dari arah perjalanan sepak bola global itu sendiri.

Bagi Beritainti, sosok Infantino adalah studi kasus menarik tentang bagaimana kepemimpinan di tubuh federasi olahraga terbesar dunia selalu berjalan di atas tali tipis antara inovasi, komersialisasi, dan integritas. Sepak bola modern tidak lagi hanya soal 22 pemain di lapangan, tetapi juga soal miliaran dolar, geopolitik, dan harapan jutaan penggemar di seluruh penjuru bumi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User