Ketika Gianni Infantino pertama kali menduduki kursi Presiden FIFA pada Februari 2016, sepak bola dunia berada di titik terendahnya. Skandal korupsi yang mengguncang markas besar di Zurich memaksa organisasi itu melakukan reset total. Sembilan tahun kemudian, pria kelahiran Brig, Swiss, 55 tahun silam itu telah mengubah lanskap sepak bola internasional secara radikal, dari yang semula berpusat di Eropa menjadi panggung global dengan 211 asosiasi anggota.
Ekspansi Kompetisi: Dari 32 ke 48 Tim
Keputusan paling kontroversial Infantino datang pada Januari 2017, saat Dewan FIFA menyetujui format baru Piala Dunia yang akan menampilkan 48 tim mulai edisi 2026. Keputusan ini mengubah total struktur turnamen yang bertahan selama 68 tahun dengan format 32 tim. Penguasaan bola dalam pengambilan keputusan FIFA pun bergeser: kini suara Afrika, Asia, dan Amerika Latin memiliki bobot politik yang jauh lebih besar dibanding era kepemimpinan Sepp Blatter.
Data berbicara jelas. Pada Piala Dunia Qatar 2022, total 172 gol tercipta dalam 64 pertandingan, dengan rata-rata 2,69 gol per laga. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah turnamen modern. Dengan format 48 tim yang akan dibagi menjadi 12 grup berisi empat tim, FIFA memproyeksikan tambahan 40 pertandingan, yang berarti potensi pendapatan hak siar melonjak hingga 50 persen dibanding siklus sebelumnya.
Revolusi Turnamen Klub dan Komersialisasi
Di bawah komando Infantino, FIFA juga melakukan gebrakan melalui Piala Dunia Antarklub yang diperluas menjadi 32 tim. Turnamen perdana dijadwalkan bergulir pada Juni-Juli 2025 di Amerika Serikat. Format baru ini memaksa klub-klub Eropa mengirimkan starting XI terbaiknya di luar jadwal kompetisi domestik, menciptakan ketegangan dengan UEFA dan asosiasi liga nasional.
Dari sisi finansial, laporan keuangan FIFA periode 2019-2022 mencatat pendapatan sebesar 7,5 miliar dolar AS, dengan laba bersih mencapai 1,2 miliar dolar AS. Angka ini naik signifikan dibanding siklus 2015-2018 yang hanya mencatat pendapatan 6,4 miliar dolar AS. Infantino menjadikan dana cadangan FIFA sebagai senjata diplomasi, menggelontorkan bantuan pengembangan ke setiap asosiasi anggota melalui program FIFA Forward dengan total 2,8 miliar dolar AS hingga 2026.
Warisan dan Kontroversi yang Menyertai
Perjalanan Infantino tidak lepas dari kritik. Keputusan menyelenggarakan Piala Dunia 2022 di Qatar menuai badai protes terkait isu hak asasi manusia dan kondisi pekerja migran. Namun, Infantino konsisten menyatakan bahwa sepak bola harus menjadi jembatan dialog, bukan alat isolasi politik.
“Sepak bola bukan hanya tentang 90 menit di lapangan. Ia adalah alat perubahan sosial yang menjangkau miliaran orang,” ujar Infantino dalam salah satu pidatonya.
Dari perspektif sportif, warisan paling nyata adalah penyebaran kompetisi ke wilayah yang sebelumnya terpinggirkan. FIFA mengalokasikan slot tambahan untuk Asia dan Afrika dalam format 48 tim, memberikan peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk merasakan atmosfer Piala Dunia. Statistik menunjukkan, sejak 2018, jumlah asosiasi anggota yang menerima dana pengembangan infrastruktur naik dari 160 menjadi 209 negara.
Masa depan Infantino masih panjang. Dengan masa jabatan yang berpotensi berlanjut hingga 2031, pria yang fasih berbicara dalam lima bahasa ini terus mendorong agenda globalisasi sepak bola. Pertanyaannya bukan lagi apakah FIFA akan berubah, tetapi seberapa jauh perubahan itu akan mengubah wajah sepak bola yang kita kenal. Satu hal yang pasti: era Infantino telah menorehkan babak baru dalam sejarah organisasi sepak bola paling berpengaruh di dunia.
Comments (0)