Infantino Bawa Trofi, Janjikan Ledakan Ekonomi untuk Kota AS
Washington, DC – Presiden FIFA Gianni Infantino berdiri tegap di samping Trofi Piala Dunia yang berkilauan, menyampaikan pidato yang membakar semangat para pemimpin kota Amerika Serikat. Dalam Konfe...
Washington, DC – Presiden FIFA Gianni Infantino berdiri tegap di samping Trofi Piala Dunia yang berkilauan, menyampaikan pidato yang membakar semangat para pemimpin kota Amerika Serikat. Dalam Konferensi Wali Kota AS edisi musim dingin, 29 Januari 2026, Infantino mengajak lusinan wali kota untuk menyambut Piala Dunia 2026 sebagai momentum lompatan ekonomi dan sosial yang masif. “Ini bukan sekadar turnamen,” serunya, “tapi investasi masa depan yang akan mengubah wajah kota kalian.” Panggung politik lokal pun berubah menjadi panggung sepak bola global, dengan trofi emas sebagai saksi bisu.
Piala Dunia Kembali ke Tiga Negara
Setelah 32 tahun, Piala Dunia FIFA kembali ke Amerika Utara. Edisi 1994 di AS tercatat sebagai salah satu yang paling sukses secara komersial, namun gelaran 2026 hadir dalam format yang benar-benar baru. Untuk pertama kalinya, tiga negara berbagi tiket tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari 104 pertandingan yang akan digelar, 60 laga—termasuk perempat final, semifinal, dan final—berlangsung di 11 kota AS. Meksiko dan Kanada masing-masing menggelar 10 pertandingan. Dengan 48 tim peserta, volume penonton diproyeksikan menembus 5,5 juta tiket, memecahkan semua rekor sebelumnya.
Infantino: “Ini Lebih dari Sekadar Sepak Bola”
Infantino membeberkan data yang membuat para wali kota tersenyum. Studi dampak ekonomi memprediksi suntikan dana sebesar 5 miliar dolar AS (sekitar Rp80 triliun) hanya dari belanja pengunjung, pembangunan infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja. Rata-rata setiap kota tuan rumah akan menikmati kenaikan PDB lokal antara 400 hingga 600 juta dolar. “Kami melihat hotel penuh, restoran bergerak 24 jam, dan transportasi publik melampaui kapasitas,” ujar Infantino. “Lebih penting, 200.000 pekerjaan langsung dan tidak langsung akan tercipta. Itu nyata.”
Peluang Bisnis dan Infrastruktur yang Membuncah
Sejumlah wali kota langsung menyatakan minat untuk mempercepat proyek infrastruktur. Dallas, misalnya, sudah menyiapkan perluasan bandara senilai 300 juta dolar. New York/New Jersey merencanakan koneksi kereta cepat tambahan ke MetLife Stadium. Sementara itu, Los Angeles dan San Francisco Bay Area bersaing menjadi pusat zona komersial fan fest terbesar. “Kami tidak hanya membangun stadion,” kata Infantino. “Kami membangun kembali kota. Lapangan latihan menjadi taman publik, jalur pejalan kaki diperluas, dan sistem keamanan siber diperbarui.” FIFA juga mengumumkan program hibah 50 juta dolar untuk pengembangan sepak bola akar rumput di semua kota tuan rumah, sebuah warisan yang akan hidup jauh setelah peluit akhir dibunyikan.
Pembagian Venue dan Antusiasme Wali Kota
Konferensi yang digelar di Walter E. Washington Convention Center itu dimanfaatkan Infantino untuk menegaskan transparansi pembagian pertandingan. Final akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026. Laga pembuka dijadwalkan di Estadio Azteca, Mexico City, sementara semifinal tersebar di Atlanta dan Dallas. Wali Kota Atlanta, yang hadir dengan setelan jas lengkap dengan pin bola, menyebut Piala Dunia sebagai “Olimpiade tanpa obor, tapi dengan hati yang lebih menyala.” Respons positif juga mengalir dari Kansas City, Philadelphia, dan Seattle, yang siap menggelar minimal lima pertandingan di fase grup. “Kota kecil seperti Kansas City akan disorot 3 miliar pasang mata,” Infantino menyindir, merujuk pada perkiraan penonton televisi global yang menembus 5 miliar selama turnamen.
Warisan Menuju 2026 dan Seterusnya
Infantino menutup pidatonya dengan pesan panjang tentang “legacy mode” yang diusung FIFA. Ia menekankan bahwa seluruh proyek konstruksi harus memenuhi standar keberlanjutan, dengan 70 persen material ramah lingkungan. Setiap stadion wajib memiliki panel surya dan sistem daur ulang air. “Trofi ini tidak hanya terbuat dari emas 18 karat, tapi juga dari mimpi jutaan anak,” katanya, seraya menyentuh trofi. “Apa yang kita tinggalkan bukanlah gedung, melainkan budaya. Budaya bangun, berlari, dan bermimpi.” Para wali kota pun bertepuk tangan panjang. Di tengah hiruk-pikuk lobi dan koneksi bisnis, satu hal pasti: Piala Dunia 2026 bukan lagi sekadar jadwal di kalender, melainkan proyek nasional yang akan mengubah peta ekonomi Amerika Utara—dan trofi yang berdiri sore itu adalah simbol paling nyata dari janji tersebut.
Baca juga:
Comments (0)