Indonesia Raih Dua Emas di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing Chamonix
Puncak dunia panjat tebing kembali menyaksikan dominasi atlet Indonesia. Di ajang IFSC Climbing World Championships 2026 yang berlangsung di Chamonix, Prancis, dua nama memastikan pulang dengan emas: ...
Puncak dunia panjat tebing kembali menyaksikan dominasi atlet Indonesia. Di ajang IFSC Climbing World Championships 2026 yang berlangsung di Chamonix, Prancis, dua nama memastikan pulang dengan emas: Veddriq Leonardo di nomor speed putra dan Desak Made Rita di nomor speed putri. Keduanya tampil luar biasa sepanjang babak eliminasi hingga partai puncak, menumbangkan unggulan tuan rumah dan wakil dari Tiongkok yang selama ini menjadi pesaing terkuat. Keberhasilan ini melanjutkan tren positif Indonesia di arena panjat tebing dunia, di mana dalam dua tahun terakhir mereka konsisten menempatkan atlet di podium utama.
Veddriq Tancapkan Gas sejak Kualifikasi
Veddriq Leonardo yang baru saja memecahkan rekor dunia pada seri sebelumnya datang ke Chamonix dengan status sebagai target. Namun, tekanan itu dijawabnya dengan mencatatkan waktu 5,04 detik di babak kualifikasi—hanya 0,02 detik dari rekor dunianya sendiri. Di perempat final, ia tanpa kesulitan menyingkirkan wakil Jepang, Ryo Omasa, dengan selisih 0,3 detik. Memasuki semifinal, duel kontra atlet tuan rumah, Pierre Durand, menjadi ujian sesungguhnya. Didukung ribuan penonton lokal, Durand sempat mencuri start dengan reaksi 0,13 detik, namun Veddriq membalas dengan kecepatan puncak di 30 meter terakhir. Waktu 5,12 detik memastikan langkah ke final sekaligus mematahkan rekor nasional Prancis yang dipegang Durand.
Partai final mempertemukan Veddriq dengan rival abadinya asal Tiongkok, Wang Qiang. Keduanya saling mengalahkan di tiga seri terakhir. Dengan tenang, Veddriq mencatat reaksi start 0,11 detik—tercepat di antara finalis—dan menyentuh panel finis di angka 5,08 detik. Wang justru melakukan false start karena mencoba mengimbangi agresivitas, sehingga emas otomatis menjadi milik Veddriq. Ini merupakan medali emas keduanya di seri dunia 2026.
Desak Made Rita Bangkit dari Keterpurukan
Di nomor putri, Desak Made Rita datang dengan misi balas dendam setelah kegagalannya di seri Salt Lake City bulan lalu. Ia memulai kualifikasi dengan waktu 6,89 detik, menempatkannya di posisi ketiga. Namun, mulai babak 16 besar, ia menunjukkan grafik peningkatan tajam. Di perdelapan final, Desak mengalahkan wakil Polandia, Aleksandra Kalucka, dengan catatan 6,72 detik, lalu di perempat final ia menaklukkan rekan setim Kalucka, Natalia, dengan 6,68 detik.
Puncaknya terjadi di semifinal saat berhadapan dengan primadona AS, Emma Hunt. Kedua pemanjat sama-sama kuat di start, namun Desak unggul di transisi dinding atas berkat teknik simpai kaki yang lebih rapi. Waktu 6,64 detik cukup untuk mengamankan tiket final. Di laga pamungkas, lawannya adalah atlet Indonesia lainnya, Rajiah Sallsabillah, yang juga lolos secara mengejutkan. All-Indonesian final ini memastikan dua medali untuk Merah Putih. Desak tampil lebih tajam dengan waktu 6,61 detik, mengalahkan Rajiah yang mencatat 6,89 detik. Ini adalah emas pertama Desak di kejuaraan dunia, sekaligus menebus kegagalan sebelumnya.
Statistik dan Dampak: Indonesia Kian Kokoh di Puncak
Beberapa statistik kunci dari final speed di Chamonix: Veddriq Leonardo mencatat rata-rata waktu 5,11 detik di seluruh babak, dengan reaksi start tercepat 0,11 detik. Ia menjadi satu-satunya pemanjat yang konsisten di bawah 5,2 detik. Sementara Desak Made Rita membukukan peningkatan waktu 0,28 detik dari kualifikasi ke final—metrik yang menunjukkan adaptasi luar biasa terhadap rute. Kemenangan ini membawa Indonesia untuk sementara memimpin klasemen negara di nomor speed putra dan putri. Secara keseluruhan, Indonesia mengumpulkan total 3 medali di seri Chamonix, dengan tambahan perak dari Rajiah Sallsabillah. Sementara itu, Tiongkok yang biasanya mendominasi, hanya meraih satu perunggu lewat Wu Peng di nomor putra.
Pelatih kepala tim Indonesia, Hendra Basir, menyatakan, "Veddriq dan Desak menunjukkan kematangan mental juara. Mereka tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga strategi start dan pembacaan transisi yang akurat. Ini hasil latihan bertahun-tahun." Dengan keberhasilan ini, Indonesia semakin optimistis menghadapi Olimpiade 2028 di Los Angeles, di mana panjat tebing speed akan menjadi salah satu nomor andalan.
Chamonix akan dikenang sebagai titik di mana Indonesia memantapkan status sebagai raja speed climbing dunia.
Baca juga:
Comments (0)