Spanyol Melaju ke Semifinal, Kans Juara Piala Dunia 2026 Terbuka

Madrid – Spanyol berpesta di Estadio Santiago Bernabéu setelah mengatasi perlawanan sengit Belgia 3-2 dalam drama lima gol yang memastikan tiket semifinal Piala Dunia 2026, Sabtu (11/7). La Roja te...

Spanyol Melaju ke Semifinal, Kans Juara Piala Dunia 2026 Terbuka

Madrid – Spanyol berpesta di Estadio Santiago Bernabéu setelah mengatasi perlawanan sengit Belgia 3-2 dalam drama lima gol yang memastikan tiket semifinal Piala Dunia 2026, Sabtu (11/7). La Roja tertinggal lebih dulu melalui gol Romelu Lukaku di menit ke-12, namun gol Nico Williams, Pablo Torre, serta penalti kontroversial Alvaro Morata di menit-menit akhir membalikkan keadaan dan menyulut keyakinan bahwa trofi Jules Rimet kedua dalam sejarah mereka kian dekat.

Pertandingan ini menyajikan kontras dua filosofi: penguasaan bola total dari Spanyol yang mencapai 64 persen berbanding 36 persen, berhadapan dengan serangan balik klinis tim asuhan Domenico Tedesco. La Roja mencatatkan 18 tembakan (9 tepat sasaran), sementara Belgia hanya mampu melepaskan 6 percobaan dengan 4 yang mengarah ke gawang Unai Simón. Intensitas tinggi sejak menit awal langsung terasa di tengah terik Madrid.

Kejutan Awal dan Respons Cepat La Roja

Belgia membuat publik tuan rumah terdiam ketika Romelu Lukaku memanfaatkan kelengahan lini belakang Spanyol pada menit ke-12. Menerima umpan terobosan Kevin De Bruyne dari tengah lapangan, striker gaek itu melewati Pau Torres dan menaklukkan Unai Simón dengan penyelesaian mendatar kaki kanan. Skor 0-1 menjadi alarm bagi armada Luis de la Fuente.

Namun, ciri khas Spanyol pasca-2024 kembali mencuat: ketenangan dalam tekanan. Mereka terus mengalirkan bola, dan pada menit ke-34, Nico Williams menyamakan kedudukan. Berawal dari kombinasi satu-dua dengan Pedri di sisi kiri, Williams menusuk ke kotak penalti dan melepaskan tembakan melengkung yang tak terjangkau Thibaut Courtois. Gol tersebut merupakan buah dari penguasaan bola 72 persen Spanyol di sepanjang 30 menit awal.

Babak Kedua Penuh Drama dan Campur Tangan VAR

Masuk babak kedua, Spanyol meningkatkan intensitas. Pada menit ke-67, Pablo Torre – yang masuk menggantikan Gavi – mencatatkan namanya di papan skor lewat tendangan first-time dari luar kotak penalti setelah memanfaatkan bola muntah sepakan Lamine Yamal yang diblok Zeno Debast. Publik Bernabéu bergemuruh, namun kegembiraan itu hanya bertahan enam menit.

Belgia menyamakan skor di menit ke-73 melalui Leandro Trossard. Menerima umpan silang Jérémy Doku, Trossard melepaskan voli akrobatik yang menghujam sudut atas gawang. Gol spektakuler itu membungkam stadion dan menghidupkan kembali kenangan pahit Spanyol saat tersingkir di fase gugur edisi-edisi sebelumnya.

Drama memuncak pada menit ke-86. Bola liar di kotak penalti Belgia mengenai lengan Timothy Castagne yang dalam posisi tidak natural. Wasit asal Brasil, Raphael Claus, awalnya tidak melihat insiden itu, namun setelah meninjau monitor VAR, ia menunjuk titik putih. Alvaro Morata yang maju sebagai eksekutor mengecoh Courtois dengan penalti Panenka yang dingin di menit ke-88. Skor 3-2 bertahan hingga peluit panjang, memastikan Spanyol ke semifinal keempat sepanjang sejarah Piala Dunia.

Taktik Apik De la Fuente dan Kedalaman Skuad

Luis de la Fuente menurunkan formasi 4-3-3 fleksibel yang kerap berubah menjadi 3-2-4-1 saat menyerang. Starting XI Spanyol: Unai Simón; Pedro Porro, Pau Torres, Aymeric Laporte, Alejandro Balde; Pedri, Rodri, Gavi; Lamine Yamal, Morata, Nico Williams. Sementara Belgia memakai 3-4-2-1 dengan Courtois; Debast, Wout Faes, Castagne; Timothy Castagne (kanan), Amadou Onana, Youri Tielemans, Doku; De Bruyne, Trossard; Lukaku.

Keputusan De la Fuente memasukkan Torre terbukti tepat. Gelandang Barcelona itu menambah dimensi serangan dengan pergerakan tanpa bola dan visi umpan akurat – ia mencatatkan 94 persen akurasi umpan dan menciptakan tiga peluang kunci hanya dalam 30 menit penampilannya. Sementara itu, Rodri kembali menjadi jangkar tak tergantikan dengan 112 sentuhan dan 97 persen operan sukses, plus 6 intersep.

Kutipan Pelatih: “Mentalitas Juara Sudah Terbentuk”

“Kami tidak panik setelah kebobolan lebih dulu. Para pemain menunjukkan kedewasaan luar biasa. Ini bukan sekadar lolos ke semifinal, tetapi juga sinyal bahwa tim ini siap untuk sesuatu yang lebih besar,” ujar Luis de la Fuente dalam konferensi pers usai laga.

Sementara itu, pelatih Belgia Domenico Tedesco mengakui keunggulan Spanyol, terutama dalam hal penguasaan tempo: “Mereka memaksa kami berlari tanpa bola sepanjang 90 menit. Kami sudah berjuang maksimal, tapi detail kecil seperti penalti itu menghukum kami.”

Mimpi Juara Kedua Kian Terang

Dengan lolosnya ke semifinal, Spanyol kini menatap calon lawan yang akan ditentukan dari pemenang laga Brasil melawan Maroko. Statistik membuka lebar peluang: dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, tim yang menyingkirkan Belgia di fase gugur selalu berhasil menembus final (Prancis 2018, Italia 2022). La Roja juga belum terkalahkan dalam 18 laga kompetitif terakhir di bawah arahan De la Fuente, dengan catatan 14 kemenangan dan 4 hasil imbang.

Kolektifitas menjadi senjata utama. Dari lini belakang, Laporte dan Pau Torres tampil solid dengan 8 sapuan gabungan. Di depan, tiga gol dicetak oleh tiga pemain berbeda – menegaskan bahwa Spanyol tidak bergantung pada satu sumber gol. Lamine Yamal yang masih berusia 19 tahun menjadi mimpi buruk bek kiri Belgia dengan 5 dribel sukses dan assist–meski assist-nya tidak tercatat karena gol Torre berasal dari bola muntah, peran Yamal krusial.

Dengan keseimbangan antara pengalaman (Morata, Rodri) dan gelombang muda (Yamal, Williams, Torre, Balde), serta identitas permainan yang semakin matang, Spanyol pantas difavoritkan. Semifinal Piala Dunia 2026 bukan sekadar target, melainkan batu loncatan menuju bintang kedua di emblem La Roja.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User