Hitung Mundur Dasar Bitcoin Tersisa 50 Hari saat Pasokan Rugi Tembus 50%
Bitcoin kembali menampilkan sinyal on-chain klasik yang secara historis mendahului akhir dari pasar bearish. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari total pasokan Bitcoin kini berada dalam posisi rugi—dan kondisi ini telah berlangsung sela
Bitcoin kembali menampilkan sinyal on-chain klasik yang secara historis mendahului akhir dari pasar bearish. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari total pasokan Bitcoin kini berada dalam posisi rugi—dan kondisi ini telah berlangsung selama hampir 50 hari. Bagi para analis teknikal dan fundamental kripto, durasi tersebut bukan sekadar angka; ia merupakan komponen penting dari apa yang disebut sebagai ‘hitungan mundur menuju titik terendah harga’. Pola serupa pernah muncul sebelum Bitcoin menyentuh dasar di siklus-siklus sebelumnya, menjadikannya salah satu metrik yang paling diawasi oleh pelaku pasar.
"Pasokan dalam Rugi Sentuh 50%: Apa Artinya?
Metrik ‘Bitcoin supply in loss’ mengukur proporsi koin yang terakhir kali berpindah tangan pada harga lebih tinggi dibandingkan harga saat ini. Dengan kata lain, jika seorang investor membeli Bitcoin di harga $30.000 dan harga sekarang $26.500, maka koin tersebut masuk kategori ‘rugi’. Ketika porsi ini melampaui 50%, artinya mayoritas pemegang Bitcoin sedang berada di bawah air. Data dari platform analitik on-chain Glassnode memperlihatkan bahwa ambang psikologis tersebut dilewati sekitar 50 hari lalu, dan sejak itu Bitcoin bertahan dalam fase tekanan jual yang tinggi.
Dalam sejarah Bitcoin, periode di mana lebih dari separuh pasokan merugi jarang berlangsung lama tanpa diikuti oleh pembalikan tren. Pada Desember 2018, misalnya, persentase pasokan rugi sempat menyentuh 56%, dan sekitar 40 hari kemudian harga Bitcoin mencapai dasar di kisaran $3.200 sebelum memulai reli tahun 2019. Peristiwa yang lebih dramatis terjadi pada Maret 2020 ketika pandemi memicu kepanikan. Rasio pasokan rugi melonjak hingga 62%, namun Bitcoin hanya butuh waktu beberapa pekan untuk membentuk titik terendah di $3.800 dan kemudian memulai tren naik yang berakhir di rekor tertinggi. Kini, dengan durasi 50 hari di atas 50%, hitungan mundur versi metrik ini menunjukkan bahwa kita mungkin berada sangat dekat dengan zona akumulasi terakhir.
Konteks Pasar: Tekanan Makro dan Sinyal On-Chain
Sinyal dari internal blockchain ini tidak berdiri sendiri. Rasio nilai pasar terhadap nilai terealisasi (MVRV), yang membandingkan kapitalisasi pasar dengan kapitalisasi terealisasi, juga berada di wilayah yang secara historis menandakan aset undervalued. MVRV di bawah 1,0 menunjukkan bahwa rata-rata investor memegang Bitcoin pada harga yang lebih tinggi daripada harga pasar—kondisi yang biasanya terlihat di akhir bear market. Saat ini, MVRV Bitcoin bergerak di sekitar 1,25, belum masuk zona undervalued ekstrem, tetapi tren penurunannya mengonfirmasi tekanan yang terekam oleh metrik pasokan rugi.
Di sisi lain, faktor eksternal masih membayangi. Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi. Kebijakan moneter ketat ini mengurangi likuiditas global dan menekan aset berisiko, termasuk kripto. Alhasil, meski sinyal on-chain mengisyaratkan terbentuknya dasar, trader ritel dan institusional tetap berhati-hati menanti kejelasan arah ekonomi makro. Kombinasi antara tekanan makro dan kelelahan penjual yang tercermin dalam data pasokan rugi membuat pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang menjadi krusial.
Akumulasi Pintar atau Jebakan Banteng?
Pola durasi 50 hari di atas 50% pasokan rugi telah menjadi semacam ‘jam pasir’ bagi pelaku pasar. Jika sejarah berima, titik terendah bisa terbentuk dalam hitungan hari hingga minggu, diikuti oleh fase akumulasi diam-diam oleh investor institusi dan pemegang jangka panjang. Data Glassnode juga menunjukkan bahwa jumlah alamat yang menyimpan Bitcoin selama lebih dari 155 hari terus meningkat, mengindikasikan keyakinan pemegang kuat meskipun harga tertekan.
Namun, penting diingat bahwa setiap siklus pasar memiliki keunikan. Durasi 50 hari bukanlah angka pasti yang menjamin pembalikan instan. Beberapa analis memperingatkan bahwa jika tekanan makro memburuk, Bitcoin mungkin akan mencatatkan rasio pasokan rugi lebih tinggi dan memperpanjang hitungan mundur. Karena itu, sinyal on-chain sebaiknya digunakan bersama dengan indikator teknikal dan sentimen pasar, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi.
Kesimpulan
Hitungan mundur 50 hari sejak pasokan Bitcoin dalam rugi melewati 50% menempatkan pasar pada posisi yang secara historis rawan melahirkan titik terendah. Baik pelaku ritel maupun institusional kini mencermati apakah tekanan jual sudah cukup kering untuk membalikkan tren. Bagi investor jangka panjang, fase seperti ini sering dianggap sebagai peluang akumulasi terbaik, namun risiko jangka pendek tetap tinggi. Hanya waktu yang akan menunjukkan apakah Bitcoin akan mengikuti naskah lama dan segera pulih, atau perlu mencatat rekor baru durasi pasokan rugi sebelum mencapai dasar sejati.
Disclaimer
Artikel ini bertujuan untuk menyajikan informasi dan analisis berdasarkan data on-chain yang tersedia. Isinya bukan merupakan nasihat investasi, rekomendasi, atau ajakan untuk membeli maupun menjual aset kripto. Pasar kripto memiliki volatilitas tinggi dan setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor masing-masing. Lakukan riset mandiri (DYOR) dan konsultasikan dengan penasihat keuangan profesional sebelum melakukan transaksi.
Sumber asli: CoinTelegraph - Bitcoin bottom countdown nears 50 days after BTC supply in loss passed 50%
Sumber: CoinTelegraph
Comments (0)