Gianni Infantino dan Transformasi FIFA di Era Sepak Bola Modern
Skor akhir 3-3 setelah 120 menit, lalu Argentina menang 4-2 melalui adu penalti atas Prancis di final Piala Dunia 2022. Itulah momen paling gemilang dari era kepemimpinan Gianni Infantino, Presiden FI...
Skor akhir 3-3 setelah 120 menit, lalu Argentina menang 4-2 melalui adu penalti atas Prancis di final Piala Dunia 2022. Itulah momen paling gemilang dari era kepemimpinan Gianni Infantino, Presiden FIFA yang sejak terpilih pada 26 Februari 2016 menggantikan Sepp Blatter terus mengubah wajah sepak bola dunia. Di bawah kendalinya, FIFA bertransformasi dari lembaga yang tengah dilanda skandal menjadi mesin komersial raksasa dengan turnamen yang kian besar dan menguntungkan.
Revolusi Format: Dari 32 Menjadi 48 Tim
Keputusan paling monumental di era Infantino adalah ekspansi Piala Dunia. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan diikuti 48 tim dengan total 104 pertandingan, naik dari 32 tim dan 64 laga pada edisi Qatar 2022. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga negara menjadi tuan rumah bersama, dan slot Afrika bertambah dari 5 menjadi 9 sementara Asia naik dari 4,5 menjadi 8. Kebijakan ini disahkan lewat voting kongres, dan Infantino kala itu menyebutnya sebagai keputusan bersejarah bagi sepak bola global.
Ekspansi ini bukannya tanpa kritik. Sejumlah pelatih papan atas Eropa menilai kualitas pertandingan bisa menurun karena lebih banyak tim pengisi. Namun data berbicara lain: Qatar 2022 mencatat 172 gol, rekor tertinggi sepanjang sejarah Piala Dunia, dengan rata-rata 2,69 gol per laga. Artinya, lebih banyak peserta justru berbanding lurus dengan lebih banyak gol dan tontonan.
Data Dua Piala Dunia: Rusia 2018 dan Qatar 2022
Era Infantino menaungi dua Piala Dunia yang kaya statistik. Di Rusia 2018, Prancis menjadi juara dengan skor akhir 4-2 atas Kroasia di final, laga dengan total gol yang menyamai rekor final 1966. Menariknya, Prancis menang justru dengan penguasaan bola hanya sekitar 39 persen — bukti bahwa efisiensi serangan balik mengalahkan dominasi penguasaan bola. Turnamen itu sekaligus menjadi debut VAR, teknologi yang kini menjadi standar di semua kompetisi elite dunia.
Empat tahun berselang, Qatar 2022 mencatat lebih dari 3,4 juta penonton di stadion. Kylian Mbappe memenangi Sepatu Emas dengan 8 gol dan menjadi pemain kedua dalam sejarah yang mencetak hat-trick di final Piala Dunia setelah Geoff Hurst pada 1966. Lionel Messi menyumbang 7 gol dan 3 assist, termasuk assist untuk gol Angel Di Maria pada menit ke-36 di final. Di laga puncak, Scaloni memasang formasi 4-4-2 dengan Messi dan Julian Alvarez di depan, sementara Deschamps menjawab dengan 4-2-3-1 meski starting XI-nya harus dirombak karena sejumlah pemain terserang virus.
Argentina unggul penguasaan bola sekitar 55 persen dan jumlah shots on target sepanjang 120 menit, namun Prancis nyaris membalikkan keadaan lewat dua gol Mbappe dalam dua menit, tepatnya menit ke-80 dan ke-81. VAR juga tampil menonjol: beberapa gol dianulir karena offside milimeter, dan tinjauan ulang kerap mengubah keputusan soal kartu kuning hingga kartu merah di area penalti.
Prize Money, FIFA+, dan Komersialisasi
Di bawah Infantino, angka hadiah turnamen meroket. Total prize money Piala Dunia 2022 mencapai 440 juta dolar AS, naik dari 400 juta dolar di Rusia 2018, dengan juara Argentina membawa pulang 42 juta dolar. Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru menjadi bukti lain: hadiahnya berlipat ganda dari 30 juta dolar menjadi 110 juta dolar, dan Spanyol keluar sebagai juara lewat gol tunggal Olga Carmona pada menit ke-29 dengan hampir dua juta tiket terjual.
Infantino juga mendorong FIFA masuk ke bisnis media. Platform streaming FIFA+ diluncurkan pada April 2022 dan kini menayangkan ribuan pertandingan dari berbagai liga di dunia. Pada 2025, FIFA menggelar Piala Dunia Antarklub edisi baru dengan format 32 tim di Amerika Serikat, kompetisi yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai penantang langsung hegemoni Liga Champions UEFA.
Tantangan dan Peta Jalan Masa Depan
Era Infantino tak lepas dari kontroversi. Kritik terbesar datang dari isu hak asasi manusia terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar, soal transparansi keuangan FIFA, hingga penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034 tanpa proses bidding yang benar-benar kompetitif. Di sisi lain, pencapaian Maroko di Qatar 2022 — tiga clean sheet beruntun dari kiper Yassine Bounou dan hanya kebobolan satu gol dalam lima laga — menjadi bukti nyata bahwa pembagian slot yang lebih merata mulai menghasilkan kejutan besar.
Ke depan, peta jalan FIFA sudah jelas: Piala Dunia 2026 dengan 48 tim, lalu 2030 yang digelar Spanyol, Portugal, dan Maroko dengan tiga laga pembuka di Argentina, Uruguay, dan Paraguay untuk merayakan satu abad turnamen. Infantino masih punya banyak pekerjaan rumah, mulai dari tuntutan kesetaraan hadiah Piala Dunia Wanita hingga transparansi pengelolaan dana. Tapi satu hal pasti: di bawah kepemimpinannya, sepak bola dunia belum pernah sebesar ini secara komersial — dan belum pernah sekontroversial ini secara politik.
Comments (0)