Oct 14, 2026
Olahraga

Gaspart Blak-blakan Soal Keretakan Messi dan Laporta di Barcelona

Joan Gaspart, mantan presiden Barcelona yang memimpin klub pada periode 2000-2003, kembali mencuri perhatian publik sepak bola Spanyol. Pria berusia 81 tahun itu melontarkan kritik tajam terhadap Lion...

Gaspart Blak-blakan Soal Keretakan Messi dan Laporta di Barcelona

Joan Gaspart, mantan presiden Barcelona yang memimpin klub pada periode 2000-2003, kembali mencuri perhatian publik sepak bola Spanyol. Pria berusia 81 tahun itu melontarkan kritik tajam terhadap Lionel Messi, sosok yang dianggapnya turut memperkeruh hubungan dengan presiden petahana Joan Laporta. Pernyataan Gaspart muncul di tengah saga kepulangan Messi ke Camp Nou yang hingga kini belum menemukan titik terang, sebuah drama transfer yang penguasaan bola informasinya terus bergulir tanpa clean sheet penyelesaian.

Kritik Pedas dari Kursi Presiden Lama

Gaspart tidak menahan diri. Dalam wawancaranya dengan media Spanyol, ia menyebut sikap Messi terhadap Laporta sebagai bentuk ketidakdewasaan seorang pemain yang pernah menjadi ikon klub. Menurut Gaspart, La Pulga seharusnya tidak membiarkan ego pribadi mengalahkan kepentingan institusi yang telah membesarkan namanya. Ia bahkan menyamakan situasi ini dengan babak perpanjangan waktu yang melelahkan, di mana kedua kubu terus saling melepaskan tendangan tanpa ada yang benar-benar mencetak gol penyelesaian.

Kritik Gaspart menyasar langsung ke inti persoalan. Ia menilai Messi, yang kini bermain untuk Inter Miami di Major League Soccer, belum bisa menerima kenyataan bahwa Laporta adalah presiden yang sah dan terpilih secara demokratis pada 2021. Hubungan keduanya memang memburuk sejak Messi meninggalkan Barcelona secara dramatis pada Agustus 2021, saat klub tidak mampu memperpanjang kontraknya akibat krisis finansial yang membuat gaji tidak bisa didaftarkan ke La Liga. Momen itu menjadi kartu merah emosional bagi hubungan Messi dan Laporta.

"Jika Messi ingin kembali, dia harus berbicara dari hati ke hati dengan presiden. Bukan lewat perantara atau pernyataan di media sosial," tegas Gaspart, mengutip sindiran yang menyasar sikap Messi selama ini.

Kronologi Keretakan yang Tak Kunjung Usai

Untuk memahami konteksnya, mari menelusuri kronologi keretakan ini seperti membaca statistik pertandingan. Babak pertama terjadi pada 2021, ketika Messi menangis di konferensi pers perpisahan. Assist terakhirnya untuk Barcelona tercatat pada laga melawan Celta Vigo, sebelum ia hijrah ke Paris Saint-Germain dengan status free transfer. Babak kedua berlangsung pada 2023, saat Laporta membuka pintu kepulangan, namun Messi memilih Inter Miami karena tidak ingin berada dalam ketidakpastian finansial klub yang masih terseok-seok.

Kini, pada babak ketiga, isu kepulangan kembali mencuat menjelang pembukaan Camp Nou yang direnovasi. Namun alih-alih menyambut dengan tangan terbuka, Gaspart justru menempatkan Messi pada posisi offside secara diplomatik. Ia menilai Messi terlalu sering mengirim sinyal melalui media, sementara Laporta dianggap lebih fokus membangun tim bersama pelatih Hansi Flick. Formasi Barcelona saat ini, yang mengandalkan Lamine Yamal, Pedri, dan Robert Lewandowski, dinilai Gaspart tidak lagi bergantung pada satu pemain bintang tunggal.

Statistik mendukung narasi itu. Sejak kepergian Messi pada 2021, Barcelona telah meraih satu gelar La Liga pada musim 2022-2023 dan kembali menunjukkan daya saing di kompetisi Eropa. Penguasaan bola rata-rata Barcelona di bawah asuhan Flick meningkat signifikan, berkisar 60 sampai 65 persen per pertandingan. Shots on target mereka juga lebih merata, tidak lagi terpusat pada satu figur. Ini menjadi argumen Gaspart bahwa klub tidak perlu menggantungkan nasib pada romansa masa lalu.

Dampak pada Masa Depan Barca dan Messi

Pernyataan Gaspart tentu menuai reaksi. Sebagian fans menyebut kritiknya berlebihan, mengingat Messi adalah pemain tersubur sepanjang sejarah Barcelona dengan 672 gol dalam 778 penampilan resmi. Ia juga mengoleksi 10 gelar La Liga, empat Liga Champions, dan tujuh Ballon d'Or selama berada di Camp Nou. Catatan hat-trick-nya melawan Real Madrid, termasuk kemenangan 4-3 di Santiago Bernabeu pada 2014, masih dikenang sebagai salah satu penampilan terbaik dalam sejarah El Clasico.

Namun bagi Gaspart, masa lalu tidak bisa dijadikan alasan untuk memberi perlakuan istimewa. Ia mengingatkan bahwa Barcelona pernah punya pemain-pemain besar seperti Johan Cruyff, Ronaldinho, dan Xavi Hernandez, yang pergi tanpa meninggalkan drama berkepanjangan. Menurutnya, Messi seharusnya meniru kelas tersebut. Ia juga menyoroti bagaimana Laporta kini menghadapi tekanan besar, mulai dari masalah pendaftaran pemain, batas gaji La Liga, hingga proyek renovasi Camp Nou yang memakan biaya besar.

Jika merujuk pada aturan financial fair play La Liga, kepulangan Messi memang bukan perkara sederhana. Klub harus menjual pemain atau memangkas beban gaji terlebih dahulu. Situasi ini membuat mimpi reuni itu semakin rumit, seperti pertandingan yang harus diselesaikan lewat adu penalti. Gaspart sendiri tampaknya lebih memilih Barcelona melangkah tanpa Messi daripada mempertaruhkan stabilitas tim demi satu nama besar.

Pada akhirnya, kritik Gaspart mencerminkan perpecahan di dalam dan sekitar Barcelona. Antara nostalgia dan realitas, antara emosi dan data, klub harus mengambil keputusan yang tepat. Messi mungkin masih ingin menutup kariernya di Camp Nou, tetapi Laporta punya tanggung jawab menjaga keseimbangan tim. Siapa yang akan mencetak gol penentu dalam saga ini, waktu yang akan menjawab. Yang jelas, Gaspart telah melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti, dan bola masih melayang menuju gawang perdebatan publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User