Oct 15, 2026
Olahraga

FAM Butuh Rp1 Miliar per Bulan untuk Boyong Moriyasu

Kuala Lumpur — Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) tengah menimbang langkah besar dalam upaya peningkatan performa tim nasional. Targetnya: mendatangkan pelatih kepala timnas Jepang, Hajime Moriyasu....

FAM Butuh Rp1 Miliar per Bulan untuk Boyong Moriyasu

Kuala Lumpur — Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) tengah menimbang langkah besar dalam upaya peningkatan performa tim nasional. Targetnya: mendatangkan pelatih kepala timnas Jepang, Hajime Moriyasu. Namun ambisi itu ternyata menuntut mahar finansial yang tidak kecil. Estimasi biaya yang perlu disiapkan FAM menyentuh angka Rp1 miliar per bulan jika ingin merealisasikan skenario tersebut.

Angka itu bukan isapan jempol. Kontrak Moriyasu bersama Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) saat ini berada di level atas. Prestasi pria berusia 56 tahun tersebut menempatkannya sebagai salah satu pelatih paling diminati di Asia, sehingga wajar jika nilai pasaran jasanya melambung. Jika dihitung untuk durasi satu tahun penuh, FAM bakal menggelontorkan dana sekitar Rp12 miliar hanya untuk satu posisi pelatih kepala — belum termasuk biaya staf pendukung dan operasional.

Rekam Jejak Moriyasu sebagai Alasan Utama

Nama Hajime Moriyasu tak bisa dilepaskan dari transformasi timnas Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Ia membawa Samurai Biru tampil konsisten di level internasional, termasuk mencatat kemenangan bersejarah atas Jerman dan Spanyol pada Piala Dunia edisi sebelumnya. Dalam fase grup, Jepang mengemas 6 poin, mengalahkan dua raksasa Eropa itu dengan penguasaan bola yang sering kali di bawah lawan, namun efektivitas shots on target menjadi kunci.

Dari sisi taktik, Moriyasu dikenal luwes mengubah formasi antara 4-3-3 dan 3-4-2-1 menyesuaikan kekuatan lawan. Ia juga berani melakukan rotasi pemain, memaksimalkan kedalaman skuad, dan mengandalkan transisi cepat dari lini belakang ke lini depan. Catatan clean sheet Jepang di beberapa laga kualifikasi turut menegaskan kualitas organisasi pertahanan yang ia bangun.

Dampak Finansial bagi FAM dan Sepak Bola Malaysia

Bagi FAM, angka Rp1 miliar per bulan adalah beban signifikan. Sebagai perbandingan, pelatih timnas Malaysia pada periode sebelumnya menempati kisaran honor yang jauh lebih rendah. Artinya, mendatangkan Moriyasu membutuhkan restrukturisasi anggaran, kemungkinan lewat dukungan sponsor, alokasi dana pembinaan, atau bantuan pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Persoalan tidak berhenti pada nominal. Ada pula dimensi legalitas dan timing. Kontrak Moriyasu dengan JFA masih berjalan, sehingga FAM harus melalui proses buyout yang berpotensi menambah beban biaya. Belum lagi negosiasi soal durasi, target prestasi, dan kebebasan dalam menentukan staf kepelatihan. Tanpa skema kontrak yang jelas, investasi besar ini berisiko menjadi proyek jangka pendek tanpa hasil nyata.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai langkah tersebut layak dipertimbangkan. Harapannya, kehadiran pelatih sekaliber Moriyasu bisa mendongkrak peringkat FIFA Malaysia, memperbaiki kualitas taktik pemain di level klub, dan menumbuhkan budaya kompetitif di tubuh timnas. Efek domino bisa menyentuh sektor pembinaan usia muda hingga kompetisi domestik.

"Investasi pelatih kelas dunia bukan sekadar soal gaji. Ini soal standar, mentalitas, dan cara kerja yang menular ke seluruh ekosistem sepak bola," ungkap seorang pengamat taktik, tanpa menyebutkan identitasnya.

Opsi Realistis di Tengah Tekanan Publik

Jika kesepakatan dengan Moriyasu kandas, FAM wajib menyiapkan alternatif. Ada beberapa nama pelatih lokal dan asing dengan banderol lebih ramah anggaran namun tetap kompeten. Kuncinya bukan sekadar nama besar, tetapi kecocokan visi antara pelatih, pemain, dan federasi.

Sepak bola Asia Tenggara memang sedang berlomba meningkatkan kualitas. Thailand, Vietnam, dan Indonesia sudah bergerak dengan pendekatan masing-masing. Malaysia tidak ingin tertinggal. Namun keputusan mendatangkan Moriyasu harus diukur dengan data: rasio biaya terhadap target, ketersediaan pemain di pos kunci, serta jadwal kompetisi yang padat.

Yang paling penting, angka Rp1 miliar per bulan itu menuntut akuntabilitas. Setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawabkan lewat peningkatan performa terukur — bukan janji manis di atas kertas. Jika gagal, bukan hanya uang yang hilang, tetapi kepercayaan publik terhadap pengelolaan sepak bola Malaysia bisa ikut tergerus. Sampai keputusan final diambil, nama Moriyasu akan terus menjadi bayang-bayang yang membebani ruang rapat FAM.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User