Erick Thohir dan Atlet Indonesia Siap Tempur di Asian Para Games 2026 Nagoya

JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir turun langsung memberikan dukungan moral kepada para atlet Indonesia yang tengah menjalani persiapan menuju Asian Para Games 2026 di Nago...

Oct 13, 2026 - 19:31
0 0
Erick Thohir dan Atlet Indonesia Siap Tempur di Asian Para Games 2026 Nagoya

JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir turun langsung memberikan dukungan moral kepada para atlet Indonesia yang tengah menjalani persiapan menuju Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang. Momen kebersamaan itu menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak hanya hadir dalam aspek administratif, tetapi juga menyentuh sisi mental para pejuang olahraga difabel Tanah Air. Dalam sesi tersebut, Erick tampak berdiskusi intens dengan para atlet, pelatih, serta ofisial tim, sembari meninjau kesiapan fasilitas dan program latihan yang telah dirancang.

Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Erick Thohir menegaskan bahwa target kontingen Indonesia di Nagoya bukan hanya partisipasi, melainkan peningkatan peringkat dan perolehan medali emas. "Kita ingin atlet-atlet kita tidak hanya berangkat, tapi pulang dengan prestasi yang membanggakan. Dukungan penuh dari pemerintah sudah disiapkan, termasuk pemusatan latihan dan pendampingan psikologis," ujar Erick dalam sambutannya, dikutip dari pernyataan resmi Kemenpora, Selasa (24/2/2026).

Format Asian Para Games 2026 Nagoya dan Peluang Indonesia

Asian Para Games 2026 di Nagoya dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang dengan format kompetisi yang hampir mirip dengan Asian Games reguler. Sebanyak 22 cabang olahraga akan dipertandingkan, termasuk atletik, renang, bulu tangkis, angkat berat, dan panahan. Indonesia sendiri diproyeksikan mengirimkan lebih dari 150 atlet yang tersebar di berbagai nomor pertandingan. Pada edisi sebelumnya di Hangzhou 2022, kontingen Merah Putih finis di peringkat ke-11 dengan koleksi 29 medali emas, 30 perak, dan 36 perunggu.

Menpora mengungkapkan bahwa pihaknya telah memetakan sejumlah nomor yang berpotensi menyumbang emas. "Kita fokus pada cabang-cabang yang selama ini menjadi kekuatan, seperti atletik nomor lari cepat, renang gaya dada, serta bulu tangkis tunggal putra dan putri. Target kita minimal 10 emas dari nomor-nomor prioritas itu," jelasnya. Pernyataan tersebut sejalan dengan data yang dihimpun dari evaluasi internal Kemenpora, di mana rapat penguasaan medali dari nomor prioritas menyentuh angka 65 persen pada simulasi terakhir.

Program Latihan dan Pendampingan Menuju Nagoya

Menjelang pesta olahraga terbesar bagi atlet difabel se-Asia itu, tim pelatih nasional telah menyusun program periodisasi latihan yang ketat. Fase pertama berfokus pada pembangunan fondasi fisik dan penguatan otot, dilanjutkan dengan latihan teknik dan taktik pada Maret hingga Juni 2026. Selanjutnya, pada Juli hingga September, para atlet akan menjalani uji coba internasional di Malaysia dan Thailand sebagai persiapan menghadapi tekanan kompetisi sesungguhnya.

Erick Thohir juga menyoroti pentingnya aspek sports science dan pemulihan cedera. "Kita tidak bisa hanya mengandalkan semangat. Data, analisis biomekanik, dan asupan gizi harus menjadi bagian dari keseharian atlet. Saya minta setiap atlet punya catatan perkembangan mingguan," tegasnya. Tidak hanya itu, Kemenpora disebut telah menggandeng sejumlah rumah sakit dan fisioterapis untuk memastikan setiap atlet mendapatkan perawatan terbaik, termasuk program pemulihan pasca-latihan yang terukur.

Statistik dan Tantangan yang Menanti di Nagoya

Meski optimistis, tantangan di Nagoya tidak akan mudah. Negara-negara seperti China, Jepang, dan Iran secara konsisten mendominasi klasemen medali Asian Para Games. Pada edisi 2022, China keluar sebagai juara umum dengan 214 emas, disusul Jepang dengan 77 emas, dan Iran dengan 44 emas. Indonesia harus mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan, terutama pada nomor-nomor yang selama ini menjadi lumbung medali bagi negara-negara tersebut.

Dari sisi penguasaan nomor, atlet-atlet Indonesia tercatat memiliki akurasi tembakan (atau ketepatan gerak) yang tinggi di beberapa nomor, seperti panahan recurve dan renang nomor 100 meter gaya bebas. Bahkan, dalam simulasi internal, beberapa atlet menorehkan waktu yang tidak jauh berbeda dengan peraih medali perunggu Asian Para Games sebelumnya. Data ini menjadi modal berharga bagi tim pelatih untuk menyusun strategi starting list dan rotasi atlet di setiap babak kualifikasi.

Selain itu, faktor non-teknis seperti kartu kuning atau sanksi disiplin juga menjadi perhatian. Dalam beberapa ajang internasional, pelanggaran ringan seperti keterlambatan masuk lapangan atau protes berlebihan kerap berujung pada hukuman ringan yang merugikan. Oleh karena itu, Erick meminta para ofisial untuk mendampingi atlet secara penuh, termasuk dalam hal pemahaman regulasi pertandingan dan prosedur VAR jika diterapkan pada cabang tertentu.

"Kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Saya minta para atlet menjaga fokus, disiplin, dan sportivitas. Kalau semua itu dipegang, medali bukan hal yang mustahil," pungkas Erick Thohir.

Dengan dukungan pemerintah yang semakin konkret, para atlet difabel Indonesia diharapkan mampu tampil maksimal di Nagoya. Asian Para Games 2026 bukan hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi di panggung internasional. Semua mata kini tertuju pada kesiapan tim Merah Putih, yang akan memulai pemusatan latihan nasional pada awal Maret mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User