Oct 15, 2026
Olahraga

Dua Tokoh Wanita UEFA Siap Tantang Infantino di Kursi Presiden FIFA

Nyon — Angin perubahan berembus kencang di markas UEFA. Dua nama perempuan yang selama ini menjadi wajah penting sepak bola Eropa kini masuk dalam radar bursa calon Presiden FIFA, menantang posisi G...

Dua Tokoh Wanita UEFA Siap Tantang Infantino di Kursi Presiden FIFA

Nyon — Angin perubahan berembus kencang di markas UEFA. Dua nama perempuan yang selama ini menjadi wajah penting sepak bola Eropa kini masuk dalam radar bursa calon Presiden FIFA, menantang posisi Gianni Infantino yang selama ini nyaris tanpa penantang serius. Jika skenario ini terwujud, kongres FIFA bakal menjadi pertarungan elektoral paling menarik dalam satu dekade terakhir.

Peta Kekuatan: Siapa yang Berani Melawan Petahana

Infantino, yang pertama kali terpilih pada 2016 menggantikan Sepp Blatter, sejauh ini menikmati posisi dominan. Ia mengantongi dukungan mayoritas asosiasi anggota dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin — blok suara yang membuat posisinya sulit digoyang. Namun, UEFA sebagai konfederasi terkaya dan paling berpengaruh di dunia tidak tinggal diam.

Menurut informasi yang beredar di kalangan pengurus, dua tokoh perempuan Eropa yang memiliki rekam jejak panjang di tata kelola sepak bola telah menjajaki peluang pencalonan. Keduanya bukan nama kaleng-kaleng: salah satunya pernah duduk di kursi eksekutif UEFA dan terlibat langsung dalam reformasi kompetisi antar-klub, sementara yang lain dikenal sebagai arsitek pengembangan sepak bola wanita yang kini menjadi mesin pertumbuhan baru industri ini.

Strategi UEFA jelas: menyodorkan kandidat dengan daya tarik global, sekaligus mematahkan monopoli kekuasaan yang dinilai terlalu terpusat pada satu figur. Sepak bola wanita menjadi kartu as — isu yang terus tumbuh dan belum sepenuhnya diakomodasi dalam struktur kepemimpinan FIFA saat ini.

Rekam Jejak dan Modal Politik Dua Kandidat

Kandidat pertama memiliki pengalaman langsung di meja eksekutif Eropa dengan portofolio kompetisi dan integritas. Ia tercatat aktif dalam negosiasi lisensi klub dan distribusi pendapatan turnamen, area yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara UEFA dan FIFA. Kemampuannya membaca laporan keuangan dan regulasi finansial menjadi nilai tambah di mata asosiasi kecil yang kerap merasa diabaikan.

Kandidat kedua lebih menonjolkan sisi lain: pertumbuhan sepak bola wanita yang eksponensial. Di bawah kepemimpinannya pada sejumlah proyek pengembangan, jumlah pemain wanita terdaftar di kawasan Eropa melonjak signifikan, sementara audiens siaran turnamen besar menembus rekor baru. Ia dipandang figur yang mampu menyatukan suara federasi-federasi yang menginginkan representasi lebih adil.

Statistik kunci yang menjadi senjata: jumlah asosiasi anggota FIFA kini 211, dengan lebih dari separuh berasal dari kawasan yang belum pernah diwakili di kursi presiden. Blok-blok ini selama ini menjadi lumbung suara petahana, namun pendekatan yang berbeda bisa mengubah lanskap.

Rintangan Elektoral dan Skema Suara

Jalan menuju kursi nomor satu FIFA tidak mudah. Untuk bisa masuk daftar calon, seorang kandidat wajib mendapat dukungan minimal lima asosiasi anggota. Setelah itu, pertarungan berlangsung dalam kongres dengan sistem satu negara satu suara. Di sinilah diplomasi dan lobi antar-benua memainkan peran jauh lebih besar daripada sekadar popularitas di media.

Infantino sendiri dikenal sebagai operator politik ulung. Sejak menjabat, ia memperluas sayap sayap program pembangunan melalui FIFA Forward, mengalirkan dana ke asosiasi kecil, dan membangun jaringan loyalitas yang sulit ditembus. Setiap lawan yang muncul harus menyiapkan paket tawaran alternatif yang lebih menarik — bukan hanya kritik terhadap status quo.

Namun tekanan terhadap kepemimpinan saat ini juga menguat. Kritik soal transparansi keuangan, jadwal kompetisi yang semakin padat, hingga format Piala Dunia 48 tim pada 2026 menjadi bahan perdebatan. Beberapa federasi mulai mempertanyakan apakah kepemimpinan satu figur selama lebih dari satu dekade masih sehat untuk organisasi sebesar FIFA.

"Sepak bola membutuhkan kepemimpinan yang mendengar, bukan hanya mengatur," ujar seorang pejabat UEFA yang tidak ingin namanya disebut, menggambarkan semangat di balik penjajakan ini.

Dampak bagi Sepak Bola Global

Jika salah satu dari dua tokoh ini benar-benar maju, kongres FIFA berpotensi menjadi panggung perubahan besar. Bukan hanya soal gender, tetapi soal arah tata kelola: distribusi pendapatan, kalender pertandingan, dan hubungan antara konfederasi dan pusat.

Sepak bola Asia dan Afrika yang selama ini menjadi penentu suara akan menjadi incaran utama. Pendekatan terhadap mereka — mulai dari jaminan slot Piala Dunia, bantuan infrastruktur, hingga program pembinaan usia muda — bakal menjadi mata uang politik yang sesungguhnya.

Sampai saat itu tiba, semuanya masih dalam tahap penjajakan. Namun satu hal yang pasti: dominasi tanpa penantang tidak lagi bisa dianggap remeh. Bursa kepemimpinan FIFA mulai memanas, dan sepak bola dunia menunggu langkah berikutnya dari Nyon.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User