Conte Geram Usai Chelsea Dibungkam Roma di Kandang
Skor akhir 3-0 untuk AS Roma atas Chelsea pada matchday keempat Liga Champions di Stadion Olimpico, Rabu dini hari WIB, menjadi pukulan telak bagi Antonio Conte. Manajer asal Italia itu tak mampu meny...
Skor akhir 3-0 untuk AS Roma atas Chelsea pada matchday keempat Liga Champions di Stadion Olimpico, Rabu dini hari WIB, menjadi pukulan telak bagi Antonio Conte. Manajer asal Italia itu tak mampu menyembunyikan kekecewaannya setelah timnya tampil tanpa perlawanan berarti sepanjang 90 menit. Penguasaan bola Chelsea hanya 41 persen, sementara Roma menguasai 59 persen dan mencatatkan 7 shots on target berbanding hanya 3 milik The Blues. Statistik itu mempertegas dominasi mutlak tuan rumah sejak menit awal.
Conte menurunkan formasi 3-4-3 dengan starting XI yang dirotasi, namun keputusan itu justru membuat lini tengah Chelsea kewalahan. Tanpa N'Golo Kanté yang masih dibekap cedera, ruang di antara bek dan gelandang menjadi celah empuk bagi Roma. Menit ke-1 sudah menjadi sinyal buruk: tekanan tinggi Roma memaksa Chelsea bertahan dalam blok rendah, dan gol pembuka lahir hanya dalam waktu 39 detik melalui Stephan El Shaarawy setelah memanfaatkan umpan terobosan Edin Džeko. Gol tercepat yang pernah dikemas Roma di kompetisi Eropa itu langsung mengubah dinamika pertandingan.
BABAK PERTAMA: SHAARAWY JADI EXECUTIONER
El Shaarawy mencatatkan brace pada menit ke-1 dan menit ke-36. Gol keduanya lahir dari skema serangan balik cepat; Radja Nainggolan melepaskan umpan silang mendatar yang diselesaikan dengan sontekan kaki kiri dari jarak dekat. Chelsea berusaha merespons melalui Eden Hazard dan Alvaro Morata, tetapi keduanya kesulitan menembus rapatnya barisan pertahanan tiga bek Roma yang dikomandoi Kostas Manolas. Sepanjang 45 menit pertama, Chelsea hanya melepaskan dua tembakan, nol di antaranya tepat sasaran. Conte tampak berulang kali berdiri di tepi lapangan, memberi instruksi yang tidak mampu dieksekusi para pemainnya.
Menit ke-23 menjadi satu-satunya peluang berarti Chelsea di babak pertama ketika Marcos Alonso melepaskan tendangan dari luar kotak penalti, namun bola masih menyimpang tipis di sisi kanan gawang Alisson Becker. Tidak ada expected goals yang berarti, tidak ada pressing terorganisir, dan tidak ada kreativitas dari lini kedua. Cesc Fàbregas yang diharapkan menjadi jembatan antara lini tengah dan depan justru berkali-kali kehilangan bola di area berbahaya.
BABAK KEDUA: DŽEKO TUTUP PESTA
Memasuki babak kedua, Conte mencoba mengubah skema dengan menarik keluar Fàbregas dan memasukkan Willian untuk menambah daya gedor. Namun, perubahan itu tidak memperbaiki struktur pertahanan. Menit ke-63, Džeko mencetak gol ketiga setelah memenangkan duel udara dengan David Luiz dan menyambut umpan silang Alessandro Florenzi. Total, Roma mencatatkan 18 tembakan dengan 7 on target, sementara Chelsea hanya 8 tembakan dengan 3 on target. Data Expected Goals (xG) menunjukkan angka 2.8 berbanding 0.6, sebuah jurang kualitas yang tak terbantahkan.
Kartu kuning yang diterima Gary Cahill pada menit ke-56 dan N'Golo Kanté (yang masuk sebagai pengganti) pada menit ke-78 menambah panjang daftar masalah Chelsea. Tidak ada gol balasan, tidak ada clean sheet yang bisa diselamatkan, dan yang paling menyakitkan, Chelsea harus rela turun ke posisi kedua Grup C dengan koleksi 7 poin dari 4 laga, terpaut satu angka dari Roma yang naik ke puncak klasemen.
“Kami tidak bermain sebagai tim. Kami kalah dalam duel, kalah dalam intensitas, dan kalah dalam hal keinginan. Ini bukan Chelsea yang saya kenal. Saya bertanggung jawab penuh atas performa buruk ini,” ujar Conte dalam konferensi pers pascapertandingan.
Kekalahan ini menjadi yang terbesar Chelsea di fase grup Liga Champions sejak 2012. Conte menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebelum menghadapi Manchester United di Premier League akhir pekan nanti. Dengan lini belakang yang rapuh dan lini tengah yang kehilangan keseimbangan, pertanyaan besar kini menggantung: apakah formasi 3-4-3 masih menjadi identitas yang tepat, ataukah Conte perlu kembali ke dasar 4-2-3-1 yang pernah membawa Chelsea juara musim lalu?
Yang pasti, kekecewaan Conte bukan sekadar soal hasil. Ia marah karena timnya kehilangan nyali di panggung Eropa, dan statistik di Stadion Olimpico menjadi bukti telak bahwa Chelsea belum siap bersaing di level tertinggi musim ini.
Comments (0)