BRIN Ciptakan Kendaraan Listrik Otonom Roda Tiga untuk Lingkungan Terbatas

Di tengah hiruk-pikuk pengembangan mobil terbang dan taksi tanpa sopir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru memilih jalur sederhana namun brilia

Di tengah hiruk-pikuk pengembangan mobil terbang dan taksi tanpa sopir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru memilih jalur sederhana namun brilian: sebuah kendaraan listrik otonom beroda tiga. Prototipe yang baru saja diperkenalkan itu tampil dalam balutan desain kompak berbentuk bilah, dengan kabin terbuka dan rangka kokoh—jauh dari kesan futuristik mobil listrik premium. Namun justru di situlah letak daya pikatnya. Kendaraan ini dirancang bukan untuk menaklukkan jalan tol, melainkan menjawab kebutuhan mobilitas di lingkungan terbatas seperti kampus, rumah sakit, kawasan industri, dan bandara. Sistem deteksi objek menjadi otak penggeraknya, menjanjikan navigasi aman tanpa campur tangan manusia.

Spesifikasi Teknis yang Tak Terduga

Dibekali motor listrik bertenaga 5 kW dan baterai lithium-ion 72V 100Ah, kendaraan roda tiga ini mampu menempuh kecepatan maksimum 25 km/jam dengan jarak jelajah hingga 80 kilometer dalam sekali pengisian. Beban angkut mencapai 300 kilogram, cukup untuk membawa penumpang dan barang sekaligus. Suspensi depan mengandalkan tipe double wishbone, sementara roda belakang tunggal difungsikan sebagai penggerak. Yang menarik, seluruh bodi dibuat dari material komposit ringan sehingga tetap mudah bermanuver di lorong sempit. Sistem pengereman regeneratif turut disematkan untuk mengisi ulang baterai saat deselerasi, mirip teknologi yang dipakai mobil listrik kelas atas.

Otak Otonom yang Memetakan Sekitar

Keistimewaan utama kendaraan ini terletak pada integrasi sensor LiDAR, kamera stereo, dan radar ultrasonik yang diproses oleh modul komputasi berbasis jaringan saraf tiruan. Sistem deteksi objek yang dikembangkan mampu membedakan antara pejalan kaki, kendaraan lain, hingga hewan kecil dalam radius 50 meter, bahkan dalam kondisi pencahayaan rendah.

“Kami melatih algoritma dengan ribuan citra jalan lokal agar kendaraan bisa mengenali pola perilaku khas Indonesia, seperti pejalan kaki yang menyeberang sembarangan atau gerobak PKL di badan jalan,” jelas I Gede Sukadana, insinyur utama tim Mekatronika BRIN, saat demonstrasi di kawasan Puspiptek, Serpong, Senin.
Navigasi berbasis peta digital yang telah diprogram sebelumnya memungkinkan kendaraan memilih rute paling efisien tanpa perlu penanda garis jalan. Jika terjadi halangan mendadak, unit mengambil alih kendali dalam waktu 0,2 detik untuk berhenti atau menghindar.

Solusi Mobilitas Berkelanjutan

Konsep roda tiga dipilih bukan tanpa alasan. Dibandingkan kendaraan roda empat, desain ini lebih ringan, lebih murah produksi, dan memiliki radius putar sangat kecil—hanya 3,8 meter—sehingga ideal untuk beroperasi di area yang padat dan sempit. Dampingan suara motor listrik yang senyap juga mendukung kenyamanan lingkungan sekitar, terutama di zona rumah sakit atau kampus yang memerlukan ketertiban akustik. BRIN menargetkan kendaraan ini dapat diproduksi secara terbatas untuk institusi pemerintah dan mitra swasta yang mengelola kawasan terpadu. Harga per unit diproyeksikan di bawah Rp150 juta, jauh lebih terjangkau dibandingkan kendaraan otonom komersial luar negeri yang menembus miliaran rupiah.

Menjawab Tantangan Regulasi dan Infrastruktur

Meski menjanjikan, penerapan kendaraan otonom roda tiga ini masih menghadapi pekerjaan rumah. Regulasi lalu lintas Indonesia belum mengakomodasi kendaraan tanpa pengemudi di jalan publik, sehingga penggunaannya terbatas pada area privat. Namun BRIN optimistis, prototipe ini bisa menjadi pemantik diskusi penyusunan peraturan kendaraan otonom berkecepatan rendah. Selain itu, sistem pengisian baterai berbasis stasiun penukaran (swap) sedang diuji untuk mengurangi waktu henti operasional. Uji coba di lingkungan terbatas dijadwalkan berlangsung sepanjang semester kedua tahun ini, melibatkan petugas keamanan dan logistik di kompleks riset BRIN. Jika berhasil, bukan tidak mungkin kendaraan serupa akan menjadi pemandangan umum di kampus-kampus Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

[SOCIAL_TWEET]: BRIN bikin kejutan: kendaraan listrik roda tiga yang bisa jalan sendiri pakai AI deteksi objek. Cocok buat kampus & kawasan industri. Biaya? Di bawah 150 juta. #RisetBRIN #KendaraanListrik #InovasiIndonesia[SOCIAL_TG]: 🚗⚡️ BRIN kenalin kendaraan listrik otonom roda tiga yang bisa deteksi objek di sekitarnya. Kecil, gesit, dan sepi—cocok untuk mobilitas dalam kampus atau rumah sakit. Cek detailnya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User