BNPB Setop Helikopter Water Bombing Usai Kebakaran TPA Jatiwaringin Padam
Tangerang – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghentikan operasi empat helikopter water bombing seiring dengan padamnya kebakaran besar di Tem
Tangerang – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghentikan operasi empat helikopter water bombing seiring dengan padamnya kebakaran besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten. Kebakaran yang berlangsung selama delapan hari itu akhirnya dinyatakan sepenuhnya padam pada Kamis, 10 Juli 2026, setelah mengerahkan ribuan personel dan teknologi pemadaman udara.
Kronologi Kebakaran dan Respon BNPB
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Rabu, 2 Juli 2026 pukul 14.30 WIB. Api dengan cepat membesar karena tumpukan sampah yang menggunung setinggi 25 meter dan mengandung gas metana. Berikut linimasa penanganannya:
- 2 Juli 2026, 15.00 WIB – Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang tiba dan meminta bantuan BNPB karena keterbatasan armada darat.
- 3 Juli 2026 – BNPB mengerahkan empat helikopter jenis Kamov Ka-32 dan Mi-8 yang mampu membawa 4.000 liter air per sorti.
- 4–8 Juli 2026 – Operasi udara intensif berlangsung dengan total 1.420 sorti dan 5,68 juta liter air dijatuhkan ke titik api. Di darat, 1.200 personel gabungan membangun sekat bakar untuk mencegah perluasan.
- 9 Juli 2026 – Titik api tersisa di kedalaman tumpukan. BNPB melanjutkan penyiraman terfokus.
- 10 Juli 2026, 18.00 WIB – Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan api padam total dan helikopter ditarik.
Dampak dan Evakuasi Warga
Kebakaran menyebabkan asap pekat yang mengganggu pernapasan warga di tiga desa sekitar, yaitu Desa Jatiwaringin, Desa Sukamulya, dan Desa Pabuaran. Sebanyak 637 warga dari kelompok rentan—balita, lansia, dan ibu hamil—diungsikan ke tiga titik pengungsian di balai desa dan masjid setempat sejak 4 Juli. Dinas Kesehatan membagikan 42.000 masker N95 dan mendirikan posko kesehatan 24 jam.
“Syukurlah operasi udara dan darat membuahkan hasil. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh pihak, mulai dari TNI AU yang menyediakan bambi bucket hingga relawan kebencanaan,” kata Abdul Muhari.
Penyebab dan Langkah Pencegahan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang menyebutkan dugaan sementara penyebab kebakaran adalah spontanitas gas metana akibat suhu ekstrem yang mencapai 38 derajat Celsius di area terbuka. TPA Jatiwaringin sendiri menampung 2.800 ton sampah per hari dan sudah melebihi kapasitas.
Untuk mencegah kejadian serupa, pemerintah daerah berencana memasang sistem pipa ventilasi metana di Zona 4 TPA dan mempercepat pembangunan instalasi pengolahan gas landfill yang mampu mengubah metana menjadi listrik. Selain itu, BNPB akan menempatkan alat pantau suhu otomatis di 10 titik rawan pada akhir Juli 2026.
- Total kerugian material diperkirakan Rp 7,8 miliar, termasuk kerusakan alat berat dan fasilitas TPA.
- Luas lahan terbakar mencapai 8,2 hektare dari total 32 hektare area TPA.
- Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun 14 warga dirawat karena ISPA ringan.
Dengan ditariknya helikopter, fokus kini beralih pada pemulihan lingkungan dan pemantauan pasca-kebakaran. BNPB mengimbau warga melapor jika melihat kepulan asap susulan.
[SOCIAL_TWEET]: Operasi heli water bombing kebakaran TPA Jatiwaringin resmi dihentikan. Api padam setelah 8 hari dan 5,68 juta liter air dijatuhkan. Terima kasih para pahlawan! #BNPB #TanggapDarurat #KebakaranTPA[SOCIAL_TG]: 🔥🚁 Update TPA Jatiwaringin: Api padam! BNPB setop operasi 4 heli water bombing. Total 1.420 sorti, 5,68 juta liter air. Warga mulai pulang. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa.
Comments (0)